semua kehidupan manusia sudah ada yang mengatur.
bahkan plot twist alur kehidupan yang tidak kita duga pun akan terjadi. all the keys to problems are in all the tests of life. friendship, family and romance.
maaf, ada area toxic relationship.
semog...
engga ada kata kata lagi yaaa, makasii loh yang setia nunggu cerita ini yoerebun! hanya orang orang kuat yang mampu baca ini sampe sejauh ini,..hebatt, mental kalian sangat kuat🤍🤍
meski rada nangis sikit yaaa
happy reading 💋💋...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Mala, gadis itu sedari tadi menatap gundukan tanah yang masih baru disana. Tatapan matanya kosong seperti tidak ada tanda tanda kehidupan. Kalian bayangkan saja, orang yang kita cintai dan belum lama bertemu malah meninggalkan dirinya dengan cepat?
Rakha, Afan, bahkan yang lainnya sudah berusaha menghibur tapi sayangnya, mala tidak merespon sama sekali.
‘Pulang yuk? Udah mau hujan.” Bujuk sang kakak, namun nyatanya gadis itu enggan berdiri dari duduknya.
Rakha mendekat, mengelus bahu Mala yang sudah rapuh. Seketika Mala menoleh. Rakha pun tersenyum, akhirnya Mala merespon.
Namun seketika senyum Rakha pudar ketika Mala menepis tangan Rakha dari bahunya, lalu Mala pun berdiri dari duduknya. “LO, LO ORANG TERJAHAT YANG PERNAH GUE TEMUIN, GUE BENCI BANGET SAMA LO, BENCI.”
Ketika Mala sudah mengatakan itu, gadis itu berlari tanpa tujuan.
Rakha membeku mendengar ucapan Mala, “kejar bego!” Ucap Afan yang kembali membangun kesadaran Rakha. Mereka semua berlari dengan kencang untuk mengejar mala, takut Mala berbuat yang tidak tidak seperti sebelumnya.
Mereka semua berpencar, Rakha dibuat frustasi. Hujan deras membasahi kota siang ini. Namun siluet dapat Rakha liat, Mala berdiri di depan jembatan dengan badan yang menghadap sungai dan tatapan mata yang kosong. Rakha berlari dengan kencang, untuk menghalangi Mala, dan hap—
Rakha memeluk Mala. Coba saja Rakha telat satu detik, sudah dipastikan Mala akan melompat dan hanyut terbawa arus sungai. “LO NGAPAIN? LO MAU LOMPAT?” Teriak Rakha disertai bisingnya suara deras hujan.
Mala mendongak dengan mata yang memerah, air matanya turun namun tidak terlihat karna sedang hujan. Tatapan yang tadinya kosong kini campur aduk, ada perasaan emosi, marah, sedih.
“LO TAU? INI SEMUA TERJAD GARA GARA GUE. GUE BEGO, GUE GA PANTES ADA HIDUP, BUAT APA GUE HIDUP KALO AKHIRNYA GUE BEGINI?”
Mala mundur selangkah, “GUE BENCI LO, GUE BENCI BANGET SAMA LO, TOLONG MENJAUH, RAKHA.”
Rakha malah maju membuat mala mundur “BERHENTI ATAU GUE LOMPAT SEKARANG JUGA?!”
Rakha berhenti membuatr mala berhenti juga. Namun ketika Mala sudah engah dengan sekejap Rakha mendekat untuk memeluk Mala.
Mala memberontak, namun hasilnya nihil. Karna tenaga Mala jauh lebih besar dari Rakha.
“Lo bebas mau pukul gue, mau benci gue, mau anjing anjingin gue, bebas. Tapi tolong jangan kaya gini, gue mohon,”