Happy reading
Gadis kecil itu telah tenang, sekarang Eca tengah bermain bersama kucing peliharaan milik Dev, gadis itu terlihat senang ketika bermain bersama hewan berbulu halus berwarna putih menggemaskan itu.
Zeous memijat pelipisnya yang terasa pusing, butuh waktu cukup lama untuk menenangkan sang adik agar tenang, dan untungnya Eca sangat menyukai kucing.
Sahabat sahabatnya pun hanya diam tanpa bertanya, mereka paham dengan keadaan ketua mereka sekarang, jadi cari aman aja.
Eca mengelus kepala kucing dengan lembut, kucing itu terlihat lucu dengan mata bulat dan bulu tebal berwarna putih yang sangat halus.
Boleh tidak kalo dirinya bawa pulang? Pikir Eca.
Eca tersenyum manis, kenapa tidak ia minta aja?! Itu ide yang bagus!
Eca bangkit dari duduknya sembari membawa kucing digendongannya, gadis itu berjalan menuju sang abang yang ada disofa, senyuman gadis kecil itu semakin merekah indah mengingat jika kucing ini bisa ia bawa pulang.
"Akak!" Seru Eca dengan semangat.
Zeous mengalihkan perhatiannya menatap sang adik, Eca duduk disebelah sang kakak dengan kucing yang masih ada dipangkuannya.
"Kenapa dek?"
Eca tersenyum lucu, "Boleh ndak, Ca awa ucing ini? kelumah," Ujar Eca dengan sangat lucu.
(Boleh gak, Eca bawa kucing ini? Kerumah)
Zeous menatap sekilas adiknya, Dev yang mendengar langsung melotot, "Gak ya cil! Itu kucing gue! Moli sini Mol," Seru Dev panik.
Eca menjauhkan kucing Dev dari jangkauan pria itu, bibir gadis kecil itu cemberut, "Isss Kak Ev, uat Ca aja ucingnya!"
(Isss Kak Dev, buat Eca aja kucingnya!)
"Gak ada gak ada yaa! Itu punya gue cill, lo beli aja banyak tuhh di toko toko," Panik Dev karna kucing putih itu adalah hewan satu satunya sekaligus hewan peliharaan kesayangannya yang paling ia jaga selama ini, bahkan makanannya saja itu mahal sampai sekitar 5 jutaan sekantung.
Eca dengan segera menyembunyikan kucing yang ada dipangkuannya karna Dev yang ingin merebut moli darinya.
"Ihhh kak Ev! Ndak cocok au alo aka pelihala ucing! Maca ajah cangal pelihala ucing cihh? Ending uat Ca aja, ucingnya," Ujar Eca dengan lucu tetapi dipendengaran Dev itu sangat sangat terdengar menyebalkannn!
(Ihhh Kak Dev! Enggak cocok tau kalo Kakak pelihara kucing! Masa wajah sangar pelihara kucing sihh? Mending buat Eca aja, kucingnya)
"Bodo ya! Gue gak peduli! Balikin gak cil!" Seru Dev dengan melotot garang yang dibalas tak kalah garang oleh bocil itu.
Eca memutar bola matanya malas, dia mendelik sinis pada pemuda itu, "Au uga ndak peduli tuhhh! Pokonya ini uat aku titik!"
(Aku juga gak peduli tuhh! Pokonya ini buat aku titik!)
Zeous menghela nafas pelan, pemuda itu memijat keningnya yang terasa pusing dan nyut-nyutan kembali karna mendengar perdebatan keduanya.
"Dek, itu punya Kak Dev. Kita beli aja ya? Nanti belinya sama Kakak, adek mau berapa aja nanti kakak bayarin," Ujar Zeous dengan lembut sembari menatap sang adik yang masih saling beradu tatapan tajam dengan Dev.
Eca mengalihkan pandangannya pada sang Kakak, bibir gadis itu mengerucut lucu, dengan terpaksa gadis kecil itu mengangguk dan memberikan kucing tersebut pada Dev dengan mengalihkan kepalanya kearah lain tanpa melihat pada Dev.
Matanya berkaca-kaca ketika kucing itu sudah tak ada lagi ditangannya, Eca memeluk kakaknya, lama kelamaan bahu gadis kecil itu bergetar kecil, Zeous juga merasakan basah pada bajunya.
Tangan kekarnya mengelus lembut rambut halus Eca.
"Nanti kita beli semua warna yang Adek suka, tapi udah jangan nangis lagi yaa.." bisik Zeous didekat telinga Eca membuat tangisan gadis kecil itu berhenti.
Eca mendongak, mata bulat berairnya mengedip ngedip lucu dengan tatapan polos serta mata dan hidung yang memerah karna habis menangis, "Benelan kan? Akak ndak boong?"
(Beneran kan? Kakak gak bohong?)
"Kapan kakak bohong sama Eca hm..?"
Senyuman gadis itu mengembang indah, seperti langit yang tadinya mendung dan tiba tiba cerah, "Oce! Ca ndak angis agi xixi," Ucap gadis itu sembari terkikik geli.
(Oke! Eca gak nangis lagi xixi)
_
__________><
KAMU SEDANG MEMBACA
Bocil kematian
Teen FictionApa jadinya jika seorang gadis remaja bertransmigrasi ketubuh bocil?! Eleansha Abimana, gadis yang berusia 17 tahun, memiliki sifat yang kadang berubah-ubah seperti bunglon sesuai moodnya sendiri. Disuatu ketika, El merasa sudah lelah mencuci dan...
