Kakak beradik itu sekarang ada ditoko kucing, dengan mata berbinar, Eca melihat sekeliling yang dipenuhi hewan berbulu itu, banyak jenis kucing yang ada disana dari yang terbagus sampai yang biasa aja.
Eca yang ada digendongan sang Kakak, menggerakan kakinya minta diturunkan."Aka ulunin Ca, acu au iat ucing itu!"
(Kakak turunin Eca, Aku mau liat kucing itu!)
Zeous tersenyum tipis lalu menurunkan sang adik dari gendongannya. Setelah turun, Eca langsung berlari mengitari kucing kucing yang berjejeran dikandang dengan rak rak tersusun.
"Jangan lari-lari dekk!!" Pekik Zeous khawatir, bagai manapun tubuh adiknya itu kecil.
Eca tak mendengarkan pekikan sang Kakak, yang terdengar cukup nyaring
Bahkan orang-orang yang ada disini juga sempat melihat kearah mereka berdua, Eca sempat menutupi wajahnya dengan tangan mungilnya itu.
Dirinya lumayan malu dengan teriakan sang Kakak.
Zeous memelototi adik nakalnya itu,"Kamu ini! Jangan lari-larian, gimana kalo nanti kamu jatuh dek?" Ujar Zeous sembari berlutut didepan sang Adik, memutar mutar tubuh kecil Adiknya, melihat apakah ada yang luka atau tidak.
Pemuda itu menghela nafas karna Adiknya tidak apa-apa. Mendengar ucapan sang Kakak, Eca memutar bola matanya malas.
"Aka ebay dehh, Ca kan nda apa-apa," Ujar Eca sembari memanyunkan bibirnya cemberut.
(Kakak lebay dehh, Eca kan gak apa-apa)
Zeous menjawil bibir Eca yang dimonyongkan,"Kamu tuh ya dekk, kalo dibilangin itu nurut, bukan malah ngeyel gini," Nasihat Zeous sembari mengusap ngusap kepala adiknya.
Eca bersedekap dada, bibirnya semakin cemberut,"Iya-iyaaa...aka awel dehh,"
(Iya-iyaaa...Kakak bawel deh)
Ze hanya terkekeh kecil,"Biarin, siapa suruh kamu bandel?"
"Uah ah, Ca an au ilih-ilih ucing, aka anggu Ca ajaaa!!" Sinis Eca membuat Ze tertawa kecil.
(Udah ah, Eca kan mau pilih-pilih kucing, Kakak ganggu Eca ajaaa!!)
"Yaudaaa maafin Kakak ya, sana kamu pilih pilih trus nanti kita bayar, oke?!"
Dengan senyum mengembang, Eca menjawab,"Oce!!"
(Oke!!)
Eca menghampiri kandang kucing dengan kucing lucu didalamnya. Saat melihat pertama kali, Eca langsung jatuh cinta dengan kucing tersebut.
Dengan mata berbinar, Eca memanggil sang Kakak yang ternyata tak jauh dari jaraknya berada. Ze dengan fokus melihat apa yang dilakukan oleh sang Adik.
Eca menoleh, "Akaaaaa...cini!!" Panggil Eca lalu ia memfokuskan dirinya lagi kekandang kucing.
(Kakak sini!!!)
Mendengar teriakan sang Adik, Ze segera menghampiri Adiknya itu."Kenapa dek? Kamu dah nemu kucing yang mau dibeli?"
Dengan semangat Eca mengangguk, gadis kecil itu menunjuk kucing dengan bulu tebal berwarna putih tersebut dengan senyum yang mengembang indah.
"Ca au ang iuuu!!" Sorak Eca.
(Eca mau yang ituuu!!)
Ze melihat kucing yang ditunjuk oleh sang Adik, dia tersenyum melihat kucing lucu tersebut."Adek Abang pinter banget sihh.." Ujar Ze sembari mengacak-ngacak rambut halus dan pendek Adik kecilnya itu.
"Akaa angan belantakin ambut Ca, ong!!" Pekik Eca tak terima dengan bibir yang cemberut.
(Kakak jangan berantakin rambut Eca, dong!!)
Ze tertawa,"Mana rambut kamu? Orang kamu gak ada rambutnya,"Ujar Ze dengan senyum tengil yang membuat Eca sangat sebal dengan Kakaknya itu.
Gadis kecil itu menghentak-hentakan kaki kecilnya, tangannya berkacak pinggang dengan mata memelototi sang Kakak."Akaa angan ain-ain ya, cama Ca! Ambut Ca tu, beyum tumyuh!! Ukan ndak ada ambutnya!!" Ujar Eca dengan garang.
(Kakak jangan main-main ya, sama Eca! Rambut Eca tuh, belum tumbuh! Bukan gak ada rambutnya!!)
"Masa? Abang liatnya, rambut Adek segini-gini aja tuh," Goda Ze, dia sangat gemas dengan tingkah sang Adik yang menggemaskan.
Bibir Eca melengkung kebawah, dengan mata berkaca-kaca seakan siap menumpahkan tampungan air didalamnya. Ze melihat itu tentu saja panik, dirinya tak bermaksud membuat Adiknya menangis.
"Eh...ehh..sutt..udah ya, Adek Abang yang paling cantik, gemes, gemoy jangan nangis, abang tadi cuman bercanda ko, maafin abang yaa....abang janji gak akan jailin Adek lagi," Ujar Ze sembari memeluk tubuh kecil sang Adik, dengan tangan yang mengusap-usap punggung Eca yang bergetar karna menangis
Eca memeluk leher sang abang, gadis kecil itu menempatkan dagunya dibahu sang Kakak,"Akaa jaat!! Ca ndak cuka hiks!"
(Kakak jahat!! Eca gak suka hiks!)
"Iya-iyaaa abang jahat, maafin abang ya. Udah buat Adek nangis," Ujar Ze menenangkan Eca.
Eca tak menjawab, dia hanya memeluk erat leher sang Kakak. Melihat sang Adik tak menjawab, Ze berinisiatif menego pada sang Adik.
"Biar adek abang yang paling cantik ini gak ngambek lagi, gimana kalo habis ini kita beli ice cream? Adek mau?"
Mendengar kata ice cream, Eca segera melepaskan pelukannya lalu menatap sang Kakak yang juga menatapnya dengan senyum lembut khas milik Ze.
"Eckim?" Tanya Eca dengan lucu.
Ze tertawa kecil,"Iya ice cream, itu kan makanan favorite Adek, Adek mau?"
Eca mengangguk antusias, "Ca auuu!!"
(Eca mauuu!!)
"Yaudaaa nanti kita beli oke?! Tapi Adek jangan nangis lagi, maafin abang ya.."
Eca mengelap air matanya, hidung gadis kecil itu memerah,"Ocee, Ca ndak angis agi, Ca uga mff pin Akaa, ai Akaa angan uyangin agi yaa," Eca menunjukan jari kelingkingnya.
"Janji?"
(Oke, Eca gak nangis lagi, Eca juga maafin Kakak, tapi Kakak jangan ulangin lagi yaa)
Dengan senang hati, Ze menautkan jari kelingkingnya juga pada jari kecil sang Adik.
"Janji!!"
Lalu Eca bertepuk tangan dengan gembira, dia segera memeluk sang Kakak dengan hangat, orang-orang yang melihat kejadian itu tersenyum tipis melihat keharmonisan hubungan Kakak beradik tersebut.
Ze juga balik memeluk Adik kecil yang paling dirinya sayangi melebihi dirinya sendiri. Hanya Eca satu-satunya harapan untuk dirinya hidup, hanya Eca yang ditinggalkan satu satunya dari almarhum sang Mama.
Dengan sekuat yang dirinya bisa, Ze akan terus dan selalu menjaga sang Adik dari marabahaya apapun itu, termasuk dari keluarganya sendiri.
Bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun, Ze rela jika itu demi sang Adik.
Dirinya tak bisa menjaga sang Mama, jadi ia harus bisa menjaga Eca, Adiknya.
Apapun demi kebahagiaan Eca, Ze akan berusaha mewujudkannya jika itu baik untuk sang Adik. Ia akan mendidik sang Adik dengan baik, tanpa harus ada kekerasan dalam didikan Eca.
Semoga saja dirinya bisa melakukan semuanya...
Haiii aku up yuhuuu sorry ya aku baru buka wp lagi setelah sekian lama gak buka, aku bahkan lupa. Kapan terakhir kali aku buka wp, maafin juga buat kalian yang nunggu cerita ini, aku akan lanjutin cerita ini yaaa. Tpi bakal jarang jarang juga soalnya sekarang aku sibuk sekolah...
Babay All, semoga hari hari kalian selalu happy yaa❤️🍭
KAMU SEDANG MEMBACA
Bocil kematian
Ficção AdolescenteApa jadinya jika seorang gadis remaja bertransmigrasi ketubuh bocil?! Eleansha Abimana, gadis yang berusia 17 tahun, memiliki sifat yang kadang berubah-ubah seperti bunglon sesuai moodnya sendiri. Disuatu ketika, El merasa sudah lelah mencuci dan...
