Bab 14. Doa Tulus Kinara

19 10 1
                                        

Warning!!! Hanya untuk yang sudah cukup umur, untuk 18+

Jika jeritan minta tolongmu tidak terdengar, maka berdiamlah dan ucapkan doamu dalam hatimu. Karena kekuatan doa itu sangatlah dahsyat dan janganlah pernah letih untuk berdoa!
Hiro Valentino


"Sial! Bikin kaget saja!" sungut pria itu kesal.

Tangannya yang masih ada di paha Liana tiba-tiba tersentak, dan ia merasakan aliran dingin yang membuat tangannya menjadi kebas. Pria itu menatap Liana yang hanya terdiam, dengan tatapan lurus ke depan tanpa ekspresi.

"Sebaiknya aku makan, kamu jangan kemana-mana jika kamu bergerak sedikit saja. Aku akan membuatmu lumpuh dan setelah itu aku akan membunuh suami tercintamu, dia orang pertama yang ingin kubunuh di rumah ini. Walau saya lebih suka membunuh wanita-wanita bermulut lancang, tapi dengan menghabisi suamimu kamu akan ikut denganku dan kita bisa hidup bahagia bersama!" ucap pria itu mengebaskan tangannya yang terasa kesemutan.

"Siapa namamu?"

"Lisa!"

"Lisa... Nama yang cantik secantik orangnya. " Pria itu tertawa sendiri sambil menikmati makan malamnya. "Mertuamu sangat pandai memasak, semuanya terasa enak. Tidak di sangka kalau orang sekaya kalian masih memasak sendiri makanannya. Lihat artis-artis yang pamer kekayaan, pembantunya sangat banyak seperti karyawan di pabrik saja." ucap pria itu begitu menikmati hidangan di meja makan.

"Tuangkan air untukku!" lanjutnya memerintah Liana, tapi wanita itu masih berdiri mematung di tempatnya.

"LISA! TUANGKAN AIR UNTUKKU!" bentakan keras pria itu membuat Liana terlonjak kaget, lalu dengan bingung bertanya pada pria asing itu.

"Apa yang anda inginkan?" tanyanya bingung, ia seperti baru tersadar dari tidurnya.

"Isi air di gelasku! Kenapa kamu jadi tuli dan linglung begitu, hah?"

"Ba...baik..." sahut Liana tergagap sambil menuangkan air ke gelas yang ada di samping piring makan pria itu.

***

Pukul 17:40...

Kinara yang asik dengan kanvasnya menggambar pemandangan hamparan rumput, dari sebuah potret mami Liana yang duduk bersama sahabatnya di sana saat masa kuliahnya. Karena merasa haus maka ia beranjak dari duduknya, saat melewati meja kerja maminya ia melihat ada lampu merah berkedip-kedip. Jantung gadis cilik itu berdebar kencang, ia tahu kalau lampu itu menyala berarti ada bahaya di dalam rumahnya saat ini.

Pikirannya langsung bekerja dengan cepat dan ia yakin jika signal bahaya itu benar adanya, karena biasanya mami Liana akan menengoknya setiap kali pulang dari tempat kerjanya. Dan sampai saat ini mami Liana belum datang memeriksanya, dan pintu yang semula terbuka sedikit itu, kini sudah tertutup rapat. Itu tandanya oma atau opa yang menekan tombolnya, atau mungkin mami dan papinya yang menekan tombol emergency nya.

Kinara melupakan rasa hausnya lalu mematikan musik yang ia putar dari televisi, sepertinya karena keasikan melukis sambil mendengarkan musik sehingga ia tidak mendengar pintu yang tertutup.

Ia membuka televisi dengan dada yang berdebar, ia mengalihkan ke mode cctv dan terlihat kotak-kotak kecil berjumlah sepuluh kotak. Ia bisa melihat tampilan pekarangan rumahnya, halaman belakang, dapur dan ruang keluarga, ruang tamu, tangga menuju ke lantai dua juga lorong di sepanjang lantai dua.

Matanya menyipit melihat maminya sedang berdiri di dekat meja makan, ia menekan kotaknya sehingga kejadian di ruang makan itu terpampang dengan jelas memenuhi layar televisi 21 inch di hadapannya.

21 Jam Yang Mencekam [TELAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang