Bab 9

92 11 2
                                        

Julia duduk bersandar di di jendela mobil.

"Kamu kenapa? Tiba-tiba aja ngajak aku balik. Jangan bilang kamu tengkar lagi sama ayah kamu. "Tebak Dita khawatir.

Julia mengerucutkan bibirnya. " endak kok, aku cuma pingin cepat pulang terus kasih kue ini ke JiMin, itu aja. "

"Beneran? "

Julia menoleh, dia merasa kesal dengan cara Dita mencurigainya. "Bahkan kalo aku berantem, ini nggak ada urusannya sama mama, kan? "

Dita menghela nafas panjang. Bohong jika tidak ada urusannya. Jelas Taehyung tidak menyukai kedekatan keduanya jadi bagaimana itu bukan urusannya juga? "Kamu tinggal denganku untuk waktu yang lama. Wajar jika ayah kamu akan nuduh aku buruk, kalau anaknya menjadi tidak patuh. Aku pasti dianggap sebagai pengaruh yang buruk. "

Ayahnya aja yang keterlaluan.

"Kenapa musti nunggu aku ngilang dulu baru kangen.. Kenapa musti nunggu aku seneng sama kehidupan baruku baru dia dateng? Ini nggak adilkan? Waktu aku kesakitan sendirian, waktu aku bener-bener butuh sosok ayah, dia nggak ada dan aku.. Aku juga nggak protes. Tapi kenapa waktu aku nyari kenyamanan buat aku sendiri, kebahagiaan aku sendiri dengan usahaku yang setengah mati, dia bilang jadi korban. Kenapa cuma ayah yang bisa disebut korban sementara aku?"

Awalnya Julia cuma pingin mendam hal itu buat dirinya sendiri tapi tiap kali berada di sisi Dita, dia pasti nggak tahan buat nggak cerita. Senyaman itu Dita buat Julia.

Dita menggenggam tangan Julia, dia tersenyum dangkal padanya. "Kamu yang sabar ya, Jul... Papamu sama aku pasti selalu ada buat kamu kok.. Juga JiMin..  Kami nggak akan biarin kamu disakiti. "

Perlahan senyum Julia muncul walaupun nggak terlihat dengan jelas.
.
.
.
.
.
"JiMin! Aku bawa kue buat kamu.. Makan gih, keburu ketelen yang lain. " kata Julian menyerahkan bingkisan yang dibawanya.

"Tumben kamu inget sama aku. Biasanya juga..(Julia melotot) Inget.. "

"Kan aku baek orangnya.. Nggak mungkin dong penyeimbang ekosistem kayak kamu kagak dikasih asupan. "

"Penyeimbang ekosistem matamu? Mana ada penyeimbang ekosistem seganteng aku.."

Julian mendengus keras. "JiMin, cuma kamu yang berpikir kayak gitu. "

"Mama Dita juga mikir gitu kok. "

"JiMin, mama Dita jelas ngomong gitu, dia tuh emang orang baik. Coba kamu tanya aku. "

Mata JiMin berkedip polos. "Dajjal kayak kamu, apa yang mau diharapin? Selain sumpah serapah sama kentut kuda, nggak akan ada yang berguna. "

JiMin meraih bingkisan dari tangan Julia dan pergi ke ruang kerja Seokjin.

Seokjin melihat JiMin menekuk wajahnya berlipat-lipat. Sudut bibirnya sangat layu seperti gula kapas tertiup angin.

"Kamu kenapa? Kok kayak gak seneng gitu. "

Tangis JiMin pecah. Dia menunjuk pintu dengan kesal. "Masak aku di bilang jelek sama Julia. "

Seokjin:......??????

"Kalau sekarang sih emang lagi jelek-jeleknya.. Coba senyum dikit.. Berhenti itu nangis pasti bakalan ganteng. "

"Tadi aku nggak nangis tapi dibilang jelek."

Seokjin memijat celah diantara kedua alisnya. Meskipun JiMin sudah sebesar ini, terkadang dia juga bersikap kekanak-kanakan. "Julia cuma bercanda kali nak... "

"Kali kan?? Belum tentu bener bercanda kan?? "

Brengsek! Siapa yang ngajarin anak ini berpikir logis?

"Dia bercanda.. Pasti bercanda.. "

Julia muncul dibelakang JiMin dan pria itu memunggunginya. Tidak ingin berbicara dengan Julian.

"Kenapa? Aku denger ribut banget loh.. Sampai ke luar suaranya. "

JiMin menatap Julian menyalang. "Namanya juga bicara, pasti keluar suaranya. "

"Kamu kenapa sih kok sensi banget hati ini? "

"Sensi?? Sensi?? .... " JiMin pergi lagi menghindari pertemuan dengan Julian.

Seokjin menghela nafas panjang. Dia mengambil ponselnya dan hendak mencari pertolongan tapi beruntung Dita datang dengan secangkir teh dan camilan.

"Camilan sore. " seru Dita mengangkat nampan dengan senyum cerah.

Seokjin tersenyum dangkal. Pertama-tama dia menyuruh Julian meninggalkan keduanya untuk berbicara dan Seokjin mulia menceritakan keluhan JiMin.

"Ada apa? " tanya Dita setelah meletakkan camilan di depan Seokjin. Dia mengambil tempat di belakang kursinya dan mulia memijat pundak Seokjin.

"Anak-anak sedang bertengkar dan JiMin mengeluh padaku. "

"Pertengkaran seperti apa? "

"Dia bilang Julian menyebutnya jelek dan JiMin tidak suka dikatakan seperti itu. "

"Kamu sudah membujuknya? " tanya Dita lagu sambil memijat pelipis Seokjin.

"Hmm.. Aku memberitahunya kalau Julia cuma bercanda tapi dia terlalu logis jadi hal itu tidak mempan. Ditambah dengan Julia yang muncul dan memprovokasi lagi JiMin. "

"Lalu kamu mau aku bagaimana? "

"Tolong bujuk JiMin. Sebentar lagi kita bakalan pindah, gimana kalau JiMin mogok, nggak mau tinggal sama kita? "

"Iya nanti aku coba bantu ngomong sama dia ya.. "

"Terimakasih Dita. " Seokjin mencium punggung tangan Dita dan tersenyum penuh rasa syukur.
.
.
.
.
"JiMin.... " bisik Dita memunculkan kepalanya di ambang pintu.

"Iya ma... "

"Kata papa, JiMin lagi nggak bahagia ya?? Boleh mama tahu, kenapa? "

Ada keragu-raguan di wajah JiMin. "Tadi Julia bilang JiMin jelek ma. "

"Kamu tahu kenapa Julia bilang gitu? "

"Karena Juli nggak suka JiMin? "

Dita menggeleng dengan khidmat. "Bukan.. Itu karena Julia suka sama JiMin. Kamu dengerkan apa yang papa bilang.. JiMin kelihatan ganteng kalo lagi senyum dan ceria. Mungkin Julia takut nanti JiMin di ambil orang. Pasti Julia bakalan sedih.. Kan JiMin punya nya Julia."

Smirk jahat muncul sekilas diwajah Dita.

Siapa suruh buka biro jodoh buat dia, huh?! Sekarang rasain kan... Gimana rasanya di jodoh-jodohin?


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 10, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mama Baru Untuk JuliaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang