POISON (4)

51 35 2
                                        

04. Pulang, untuk Senyum Mama.

Gedung perkantoran itu sudah mulai sepi ketika Rajendra memarkir motornya di area yang diterangi lampu kuning temaram. Angin malam menyapu rambutnya pelan, membawa sisa aroma hujan sore yang belum sepenuhnya hilang. Ia melepas helm, menepuk-nepuk jaketnya, lalu melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat namun penuh antisipasi.

Lift berdenting.
Pintu terbuka.

Rajendra langsung menangkap sosok yang ia cari, seorang wanita berblazer putih dengan rok coklat, rambut dikuncir rapi, satu tangan menenteng tas kerja, tangan lainnya memegang setumpuk berkas. Wajahnya lelah, tapi tetap cantik—cantik yang hangat. Cantik yang ia kenal sejak pertama kali membuka mata di dunia ini.

Tanpa pikir panjang, Rajendra berlari kecil menghampirinya.

"Mamaaa!" panggil Rajendra menarik tubuh wanita itu mendekat lalu memeluknya dengsn erat, Daisy sempat terkejut tapi langsung tertawa pelan, memeluk balik punggung anaknya.

"Mama udah berusaha keras hari ini," bisik Rajendra, kini dengan suara lebih lembut—hanya untuk Daisy.

Daisy mengangkat wajahnya, menepuk pipi Rajendra seperti biasa. "Anak Mama ini, makin besar makin suka drama ya."

Rajendra hanya terkekeh, lalu meraih berkas yang ada di tangan Daisy. "Ini berat, sini biar Jaden yang bawa."

Daisy menyipitkan mata, mencermati Rajendra dari ujung rambut hingga sepatu.

“Kamu balapan lagi?” suaranya setengah waspada, setengah pasrah.

Rajendra membuka senyum centilnya. "Tenang aja, anak Mama yang ganteng ini menang kok."

Daisy menarik napas panjang, lalu memukul bahu Rajendra pelan. "Kamu ini ya, awas kalau anak Mama sampai lecet-lecet. Mama kirim kamu ke panti asuhan."

"Mama tega banget," Rajendra memasang ekspresi tersakiti palsu. "Wajah ganteng ini harus dijaga Ma, limited edition soalnya."

Keduanya berjalan keluar gedung sambil bercanda—Rajendra merangkul Daisy seperti sedang mengawal ratu kerajaan keluar dari istana.

"Jang Jang! helm baru buat Mama!" pekik Jaden berpose seperti model yang sedang menunjukan barang yang di promosikan.

"Wah! spesial buat Mama nih?" tanya Daisy. Rajendra menganggukkan kepalanya dengan cepat, helm berwarna biru yang merupakan warna kesukaan sang Mama.

"Jaden beli di online, tadi sore baru datang," katanya.

"Cantik! Desain sendiri?" tunjuk Daisy ke stiker kecil yang ditempatkan di sekitar helm.

"Itu kerjaan si Rea, tadi sore mampir ke rumah," jawab Rajendra sembari memakai helm nya lalu membuka kaca helmnya.

"oh iya? ngomong-ngomong Mama udah lama gak ketemu Reana," ucap Daisy mengikuti Rajendra yang sudah memakai helmnya.

"Nanti Jaden suruh Rea ke rumah lagi pas ada Mama ya," katanya yang sudah duduk diatas motornya.

Rajendra membuka footstep dikedua sisi agar Mama nya lebih mudah untuk naik, "let's go, abis itu makan," lanjut Rajendra mengulurkan tangannya untuk menahan saat Daisy naik motor miliknya.

Setelah di rasa Daisy sudah naik dan nyaman dengan duduknya, Rajendra menghidupkan mesin motornya, "pegangan nyonya," titah Rajendra menengok ke belakang.

Daisy tertawa, lalu naik dengan hati-hati. Begitu tangannya melingkari pinggang Rajendra, ia menyandarkan kepalanya pada punggung anaknya. Hangat. Menenangkan. Semua beban seakan jatuh satu per satu ke tanah.

Problematic Life [ REVISI! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang