Bab 4 - Meja Makan (2)

9.8K 56 2
                                        

Laras terus mengocok penis Zaki dari bawah meja selagi mereka makan malam. Tangan Laras yang tadinya malu-malu menyentuh penis Zaki kini menggenggam dan memainkan penis itu dengan lincah. Laras mengocok penis itu seakan ingin meniru video yang Laras lihat ketika Zaki mengocok penisnya sendiri. Laras yang awalnya mengocok dengan kuat dan tidak beraturan mulai mengocok penis tersebut dengan irama yang kadang cepat dan kadang lambat, genggamannya tidak lagi sekuat tadi dan sesekali jempol Laras mengelus kepala penis serta lubang penis Zaki. Laras berusaha mencari tahu bagaimana mengocok penis dengan benar dari reaksi yang ditunjukkan Zaki.

Penis Zaki berkedut. Ada desisan kecil yang keluar dari mulut Zaki. "Hnngh!"

"Kenapa Zaki?" tanya Tante Lina.

"H-HMmm! Makanannya enak tante." Ujar Zaki dengan susah payah sambil melihat ke arah Tante Lina kemudian melihat ke arah dada Tante Liina dan menunduk malu.

Tante Lina melihat Zaki lalu menjawab, "Terimakasih pujiannya nak Zaki." Sambil tersenyum kemudian melanjutkan makan. Tante Lina melihat ke arah dadanya, memperhatikan putingnya yang tegak dan menonjol melalui daster yang dia kenakan. Tante Lina tidak mengenakan bra karena ini sudah cukup malam dan tidak ada aktivitas apapun di luar rumah.

Tante Lina sudah berusaha menahan nafsunya, tetapi setelah hal yang terjadi di tambah wajah Zaki yang berada dalam kenikmatan serta desahannya yang berusaha dia tahan membuat Tante Lina bergairah dan tidak bisa mengontrol putingnya yang menegang. Tante Lina juga merasakan area kewanitaannya yang semakin basah.

Tante Lina dapat membayangkan apa yang sedang Laras dan Zaki lakukan dari balik meja makan tetapi dia membiarkan mereka melakukannya dan menikmati pertunjukakan.

"Hnngh!" Acap kali suara desahan Zaki keluar ketika dia lagi makan. Zaki juga sesekali melihat ke arah tante Lina yang ada di depannya dan tidak dapat menahan melirik puting tante Lina yang menonjol dari daster yang dia kenakan.

Laras merasakan ada yang menggelitik area kewanitaannya setiap dia mendengar suara desahan tertahan yang keluar dari mulut Zaki. Laras membayangkan bagaimana jika penis hangat yang ada di tangannya itu menusuk dan mengisi lubang vagina Laras yang sudah basah. Puting Laras juga sudah menegang tetapi dia mengenakan bra sehingga putingnya yang tegak itu tidak menonjol dari kaos oblos yang dia kenakan. Tangan Laras yang mengocok penis Zaki sudah basah dengan cairan precum.

Batang penis Zaki yang basah dan licin akibat cairan precum membuat Laras lebih leluasa mengocok penis Zaki. Laras mengocok penis Zaki dengan lebih cepat dan dalam. Dia mengocoknya tanpa henti dan membiarkan kedutan di penis Zaki semakin kuat dan tidak terkendali.

Desahan Zaki semakin besar dan akhirnya Zaki mengerang kuat dan cairan putihnya keluar, "A-AHh! HMmm.."

"OH-Hhhh!" Zaki mengerang dan mengangkat pantatnya ke atas. Peju Zaki menyembur dengan kuat sampai ke atas meja makan. Zaki yang sudah sangat terangsang dari tadi akhirnya mengeluarkan pejunya dengan bantuan kocokan tangan Laras.

Tante Lina dan Laras terkejut melihat Zaki mencapai klimaks. Laras menarik tangannya dan melihat penis Zaki berkedut sambil menyemburkan carian putih yang kental beberapa kali. Pinggulnya terangkat seperti ingin menembakkan peju itu lebih jauh. Bau manis mulai tercium dengan tumpahnya cairan mani tersebut.

"ZAKI!?" Tante Lina berteriak. Dia berdiri dan wajahnya terlihat sangat marah. "Apa-apaan ini! Kenapa kau tidak bisa mengontrol dirimu!?"

Zaki terjekut, dia malu dan juga ketakutan ketika melihat wajah marah Tante Lina. Zaki tidak pernah melihat Tante Lina semarah ini. Tante Lina bergerak menuju tempat duduk Zaki. Zaki menutup selangkangannya ketika Tante Lina berada di sisi kanannya sambil menatapnya lekat-lekat.

Terjebak Dalam NafsuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang