Bab 8 :: Eja Kecelakaan

434 22 0
                                        

"Ini, Adik mas kecelakaan. Saya nggak tahu gimana pastinya karena masih dilakukan tindakan di UGD, coba Masnya ke sini. Kalau bisa secepatnya ya, Mas."

Jantung Atma berdegup terlalu kencang. Rasanya seperti hidupnya kembali dipermainkan. Setelah beberapa saat yang lalu menerima telepon yang mengatakan kalau kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan maut, sekarang adiknya. Meskipun tidak tahu bagaimana kondisi Eja di sana sekarang, Atma tetap merasa gemetar. Ia seolah kembali mengalami hal yang sama, firasat buruknya ternyata benar, kalau memang ada yang tidak beres dengan Eja. Benar saja, anak itu kecelakaan. Atma buru-buru menutup teleponnya setelah mengatakan terima kasih dan berkata kalau ia akan tiba di rumah sakit tidak lebih dari setengah jam.

Kebetulan rumah sakit tempat Eja dilarikan diri tidak begitu jauh dari rumahnya. Meskipun mungkin kendala utama ada di macet, Atma akan berusaha sebisa mungkin untuk datang cepat. Walaupun tengah diburu oleh waktu, Atma tidak lupa membawa perlengkapan yang mungkin dibutuhkan, seperti dompet dan surat-surat lainnya. Berbekal dari pengalaman ketika mengurus kecelakaan kedua orang tuanya beberapa waktu lalu, Atma kembali mengalami kejadian yang hampir sama. Bedanya, Eja masih selamat, meski ia tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang.

Atma akhirnya tiba di rumah sakit hampir dua puluh menit setelahnya. Meskipun sudah pakai motor, ternyata melewati jalanan menuju ke rumah sakit ini cukup sulit karena macet dan kendaraan yang padat, kebetulan sekali masuk di waktu jam kantor pulang, kendaraan yang padat membuat waktu tempuh Atma melambat. Syukurlah ketika sampai, Atma diberikan penjelasan yang detail dan orang yang membantu sang adik sampai ke sini, bahkan mengangkat teleponnya, masih ada di rumah sakit ini menunggu kedatangan Atma kemari.

"Makasih banyak, Mas. Kalau bukan karena Mas, kondisi adik saya pasti jauh lebih parah." Atma berterima kasih, dengan menyelipkan beberapa lembar uang untuk si penolong tadi. Namun mas-mas jangkung yang membawa Eja ke sini ternyata menolak pemberian Atma.

"Nggak usah, Mas. Saya ikhlas nolongin Adek Mas, kebetulan aja saya lewat ketika kecelakaan itu terjadi dan saya juga lagi bawa mobil jadi bisa langsung bawa Adeknya ke sini."

Atma tetap bersikeras dengan kemauannya. "Nggak papa, Mas. Anggap saja ini uang ganti bensin. Nggak seberapa, kok." Akhirnya, mau tidak mau orang itu menerima pemberian Atma.

Setelah berbincang sejenak akhirnya pria itu pamit undur diri, Atma juga berterima kasih banyak sebelum si penolong Eja pergi meninggalkan tempat ini. Untungnya Eja masih hidup, luka serius yang ia alami hanya di bagian kaki kanan. Kaki kanannya patah, dan harus segera dioperasi. Lainnya hanya luka-luka biasa. Dan ketika sampai di sini, Atma langsung saja meneken persetujuan operasi. Setelah sempat panik dan merasa Dejavu, takut kejadian yang serupa seperti orang tuanya terulang kembali, akhirnya Atma bisa bernapas lega. Kondisi Eja mungkin tidak bisa dikatakan baik-baik saja setelah operasi selesai dilakukan. Akan memakan waktu yang cukup lama bagi Eja memulihkan diri.

Tapi tak apa, meski kehadirannya belum diterima seratus persen, Atma akan berusaha sebisa mungkin membantu proses penyembuhan Eja. Beberapa hari atau bahkan beberapa bulan ke depan Eja mungkin akan kesusahan berjalan. Atma akan terus menemaninya sampai Eja bisa sehat, pulih kembali seperti sedia kala. Meskipun nanti adiknya itu pasti akan menolak, Atma akan tetap melakukan tugasnya sebagai satu-satunya orang yang bisa Eja andalkan di rumah. Apalagi di kondisinya yang seperti sekarang.

Menunggu operasi Eja yang memakan waktu sekitar satu sampai dua jam, Atma tidak lupa mengabari Mbak Tun kalau Eja ternyata kecelakaan dan sekarang sedang melakukan operasi pemasangan pen pada kakinya yang patah. Mbak Tun jelas terkejut saat mendengar kabar itu dan akan segera menyusul ke rumah sakit sebentar lagi. Mbak Tun sangat membantu Atma dalam mengurus rumah dan Eja selama ini, rasanya memang tidak enak jika terus-menerus merepotkan Mbak Tun, tapi Atma tidak punya pilihan lain. Mereka hanya punya satu sama lain sebagai keluarga besar sekarang, setelah Kakek, Pakde, bude dan kedua orang tua Atma meninggal, Mbak Tun bersedia menjadi orang yang bisa mereka berdua andalkan sekarang.

There's No Place Called Home (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang