"Kenapa ya, kok aku ngerasa kita semakin jauh dari rumah."
"Terus kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu manusia, Li. Bukan bangunan, jadi mana bisa aku anggap kamu sebagai rumah."
"Rumah gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Buktinya aja aku udah anggap kam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<><><>
Adel meremat perutnya cukup kuat ia tak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Semakin kencang ia merematnya, semakin sakit pula yang ia rasakan pada perutnya yang terlihat mulai membuncit.
"Kalo bukan karena lo, gue gak bakal sampe harus jebak Lian waktu itu dan hidup gue juga gak bakal kayak gini!" Teriak Adel frustasi. "Bayi sialan, kenapa sih lo harus bersarang di badan gue. Apalagi tanpa ada seorangpun yang mau tanggung jawab." Lirih Adel dengan suara yang semakin melemah. "Gue gak mau hidup tersiksa kayak gini terus." Cicit Adel dengan tangan yang terangkat untuk menjambak rambutnya sendiri.
Jambakan pada rambutnya semakin menguat membuat ia sendiri menjerit kesakitan akibat perbuatannya.
Dela yang hendak mengantar makanan untuk sang putri, sangat terkejut luar biasa melihat Adel dengan kondisi kamar sangat berantakan dan tangan Adel yang menjambak kuat rambutnya sendiri.
"Ya ampun, Adel. Kamu kenapa kayak gini, nak?" Teriak Dela setelah meletakkan nampan berisi makanan tepat diatas meja rias milik Adel yang sudah terlihat usang akibat amukan Adel sehingga benda itu menjadi rusak tak karuan.
Perlahan Dela melepaskan tangan Adel dari rambutnya, kemudian menggenggamnya erat. Memberikan ketenangan untuk putrinya. Tapi bukannya manjadi lebih tenang, Adel mengamuk lagi dengan hebatnya sampai-sampai Dela pun didorongnya.
Brukkkk
Dela meringis menahan rasa sakit di tubuhnya, niatnya ingin memberi makanan pada putrinya justru malah berakhir terjerembab di lantai dan naasnya lagi nampan yang berisikan makanan yang sempat ia bawa tadi dilemparkan juga oleh Adel hingga berbunyi nyaring.
Prangggg
Makanan itu berhamburan dilantai disusul oleh benda lain yang belum sempat dilemparnya beberapa saat lalu. Kini kamar Adel semakin berantakan layaknya kapal pecah.
Dela tak sanggup lagi menghadapi ataupun membujuk Adel. Tanpa pikir panjang, wanita itu berjalan kerah pintu kemudian dengan cepat menguncinya. Meninggalkan Adel yang masih mengamuk dengan hebatnya.
Setelahnya Dela mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Adel semakin menjadi-jadi, aku gak tahu lagi harus gimana ngadepin dia." Adu Dela dengan nada pilunya.
Entah ia yang memang tak peduli atau memang sudah tak sanggup lagi dengan putrinya.