Jimin menunduk tak berani lagi menatap mata kelam milik pemuda pucat itu. Aura yang mengintimidasi membuat jimin tak nyaman.
"Aku tak mengenalmu tapi ku pikir mereka hanya kasihan padamu". Jimin meremat buku di tangannya. Matanya memanas tak tahan ingin menangis namun dia menahannya.
"Aku memang bukan dari keluarga berada seperti kalian tapi ku pikir aku tak perlu di kasihani." Jimin berucap tanpa menatap yoongi.
"Kau hanya akan membuat mereka tak enak padamu.". Yoongi bukan tipe orang yang suka basa basi ia akan langsung mengutarakan isi hati dan pikirannya secara gambalang walau itu memang menyakitkan.
"Aku tau posisiku. Maaf jika aku hanya merepotkan kalian" lirih jimin namun yoongi hanya berdecih seolah jimin hanya mengucapkan omong kosonh belaka.
"Kau berteman dengan mereka hanya ingin numpang pamor kan?" Tanyanya terdengar meremehkan jimin.
"Sebenarnya apa maumu hyung?" Tanya jimin karena tak tahan ia jengah demgan yoongi yang seolah menyuruh jimin m3njauh dari teman temannya.
"Tidak ada". Setelah mengucapkan kata itu yoongi lantas pergi meninggalkan jimin yang kalut dengan perasaan nya sendiri.
Kenapa dunia tak adil? Kenapa mereka yang berpunya selalu semena mena? Apa tak ada celah untuk oranh sepertinya ingin bahagia juga?? Jimin memejamkan matanya. Ia baru kali ini di hadapkan demgan oranh seperti yoongi.
Kata kata yang jimin terima dulu saat waktu masih di buli bahkan tak sesakit ini. Tapi yoongi? Hanya berucap dengan wajah datarnya malah efeknya sesesak ini di dada jimin!
"Apa iya mereka hanya kasihan padaku?" Gumam jimin
"Maafkan aku teman² mungkin memang aku hanya merepotkan kalian saja terutama taehyung." Lanjutnya. Satu bulir air maya jatuh ke pipo tembamnya betapa sedihnya jimin karena ucapan yoongi tadi seolah merobek hatinya.
•••
Jimin kembali ke kelas dengan lesu. Disana sudah ada taehyung yang menatap nya. " Jim kau kemana saja sih? Untung Song Ssaem belum datang" Taehyung merengut kesal sambil menepuk pelan pundak jimin.
"Maafkan aku. Aku hbis dari perpus" jawab jimin sekenannya tanpa tersenyum atau membalas geplakan taehyung seperti biasanya.
"Kau tak apa jim? Kau terlihiat murung?" Tanya taehyung lagi saat melihat wajah sendu sahabatnya.
"Aku tak apa tae." Jimin memalingkan wajahnya menyembunyikan kesedihan yg di buat pemuda pucat tdi
Tak ingin banyak bertanya karena takut salah bicara taehyung memilih kembali menatap kedepan karena Song ssaem kini sudah datang.
"Maafkan aku tae. Mungkin memang benar kata sepupumu aku hanya akan merepotkan jika terus berada di tengah² kalian.."
•••
"Jim ikut saja ayo kita ke caffe dulu" ajak seokjin.
"Tidak hyung aku langsung pulang saja" jimin trsenyum menatap seokjin di depannya.
"Ayolah jarang² kN kita hangout. Yang lain juga sudah jalan duluan"
"Tidak hyung aku tidak ikut kalian saja." Tolqknya lgi
"Sudahlah hyung biarkan dia. So jual mahal sekali. Cari perhatian saja!" Sentak yoongi yang tengah duduk di mobil sambil menatap keduanya.
"Lagian jika di ikut mana mampu dia membeli makanan mahal! Pling juga minta di bayarin!" Lqnjutnya dengan menatap remeh jimin.
"YOON!!" Bentak seokjin tanpa sadar. Dan beralih menatap jimin yang tertunduk sendu.
"Aku pulang duluan ya hyung sampai jumpa besok." Jimin tersenyum lalu membungkuk sopan dan pergi dengan hatinya kini kembalo sesak karena ucapan yoongi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daffodil (Yoonmin)
Novela JuvenilBerada di tengah tengah mereka yang berada memang sedikit membuat jimin merasa minder. Apalagi dia hanya seorang siswa beasiswa rasanya tak pantas jika ia berteman dengan mereka yang memiliki kasta.
