BAB 4

34 17 9
                                        

"Perasaan rindu"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Perasaan rindu"

***

Celine mengerjap pelan, kelopak matanya terasa berat, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menyelimuti. Tubuhnya terasa kaku dan pegal akibat tertidur di sofa ruang tamu. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia menyadari bahwa hari sudah semakin sore, bahkan hampir gelap. Kegelapan mulai merayap, menyelimuti seluruh ruangan.

Dengan langkah gontai, Celine bangkit dari sofa, berjalan meraba-raba dalam remang-remang menuju sakelar lampu di dinding. "Ayah ke mana ya?" gumamnya pelan dalam hati. Belum sempat jemarinya menyentuh sakelar, perutnya sudah bersuara nyaring, protes menuntut untuk segera diisi.

Celine beralih menuju dapur, langkahnya lesu. Dengan perasaan kecewa yang sudah bisa ditebak, ia membuka pintu kulkas. Isinya? Hanya beberapa butir telur di rak dan sebotol air putih dingin. "Ah, telur lagi, telur lagi," keluhnya pelan, frustrasi. Sudah beberapa hari persediaan makanan di rumah menipis.

Menutup pintu kulkas dengan sedikit hentakan, Celine berjalan ke meja makan dan menarik salah satu kursi. Ia duduk di sana, pandangannya kosong, menatap permukaan meja yang dingin dan kosong. Suasana rumah yang sunyi semakin terasa, hanya dipecah oleh suara detak jam dinding di ruang tengah. Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka membuyarkan lamunannya. Jantung Celine berdebar. "Ayah?" gumamnya, penuh harap.

Dugaannya benar. Sosok Ayah muncul di ambang pintu, wajahnya sedikit lelah. "Ayah dari mana?" tanya Celine, suaranya sedikit bergetar, lega sekaligus khawatir.

Ayahnya menatapnya sejenak, senyum tipis tersungging. "Dari sana," jawabnya singkat. Celine mengerti. Ayah baru saja mengunjungi makam Ibu. Meskipun ia jarang berbicara tentang Ibu, Celine tahu Ayah rutin pergi ke sana, terutama saat-saat tertentu.

"Sudah makan?" tanya Ayahnya lembut, nada suaranya sedikit lebih hangat dari biasanya. Celine menggeleng. "Ayah bawa burger," ujar Ayah, "Tadi teman Ayah kasih." Ia menyerahkan sebuah kantong kertas yang masih hangat.

Celine tersenyum tipis, menerima uluran Ayahnya. Ia kembali ke dapur, duduk di kursi meja makan, dan membuka kantong kertas itu. Aroma burger daging panggang langsung menyeruak, menggugah selera. Ia mulai melahap burger pemberian Ayahnya. Saat gigitan pertama, rasa hangat menyelimuti hatinya. Tanpa disadari, air mata menetes perlahan, membasahi pipinya. Itu bukan air mata sedih, melainkan air mata yang bercampur rindu akan kenangan manis masa lalu. Ini adalah kenangan murni, jauh dari bayang-bayang samar yang sering menghantuinya.

Flashback
Selama enam tahun pertama hidupku, aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Nenek. Beliaulah duniaku. Kata pertama yang kuucapkan saat berusia delapan belas bulan bukanlah 'Ayah' atau 'Ibu', melainkan "Nenek". Senyum lebar merekah di wajah Nenek saat itu, senyum yang selalu kurindukan. Beliau adalah satu-satunya pendengar setianya cerita-ceritaku, betapapun anehnya cerita itu.

UDUMBARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang