BAB 5

41 18 11
                                        

"Aku harap ini bukan akhir"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku harap ini bukan akhir"

***

Grup chat kelas di ponselku terus berdering tanpa henti. Notifikasi muncul silih berganti, membanjiri layar. Rencana acara perpisahan dan foto kelas mendominasi percakapan. Teman-temanku terdengar begitu antusias, asyik berbalas pesan, merencanakan detail ini itu. Sementara aku? Aku lebih sering menjadi pembaca pasif, hanya menggulirkan layar, mengamati percakapan mereka dari jauh.

Dari obrolan grup yang ramai itu, aku mengetahui bahwa pembagian rapor kelulusan akan dilaksanakan hari ini, Kamis, tepat pukul 09:00 pagi. Syaratnya, harus diambil bersama orang tua atau wali. Sedangkan, sesi foto kelas dijadwalkan pada hari Sabtu. Dan acara puncaknya, perpisahan sekolah, akan digelar minggu depan di Hotel Carlton, sebuah hotel mewah di pusat kota.

Karena kesibukan Ayah, aku sudah terbiasa mengambil rapor sendiri sejak dulu. Biasanya, aku akan menjadi siswa terakhir yang dipanggil oleh wali kelas karena tidak didampingi orang tua. Perasaan sedikit minder itu selalu ada, tapi aku sudah belajar terbiasa menghadapinya.

Hari ini, sejak pagi buta, aku sudah menyelesaikan tugas rutin memberes-beres rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring—semua sudah rapi. Aku memang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Saat jarum jam menunjukkan pukul 07:30, aku berniat menyiapkan sarapan sederhana untuk diriku dan Ayah.

Langkahku terhenti di ambang pintu dapur. Ayah sudah duduk di meja makan, mengenakan kaos biasa, bukan kemeja kerja yang biasa ia pakai pagi hari. "Loh? Ayah nggak kerja hari ini?" tanyaku heran.

Ayah menoleh, ekspresinya sedikit canggung. "Ayah dengar kamu ada pembagian rapor hari ini," jawabnya pelan. "Jam berapa?"

Aku sedikit terkejut. Ayah tahu tentang pembagian rapor? Dan ia bahkan menanyakan jamnya? "Nggak apa-apa kok, Yah," jawabku cepat, berusaha menenangkan dirinya, meskipun hatiku sedikit menghangat. "Aku bisa ambil sendiri. Lagipula, ini kan cuma rapor kelulusan. Ayah pasti sibuk."

"Iya, tapi... karena ini terakhir kali," Ayah menjeda, menarik napas, "Ayah pengen ikut ngambil rapor kamu."

Mataku membulat. Seketika, wajahku berseri-seri, senyum tipis terulas di bibirku. Sudah lama sekali, entah berapa tahun, Ayah tidak pernah ikut mengambil raporku. Terakhir kali, mungkin saat aku masih duduk di bangku SMP, itu pun hanya sekali atau dua kali. Dan sekarang? Ayah ingin ikut mengambil rapor kelulusanku di SMA! Ini terasa seperti hadiah yang tak terduga.

Aku mengangguk semangat, hatiku terasa hangat, dipenuhi rasa senang yang sulit digambarkan. Aku lalu melanjutkan kegiatan memasak sarapan seperti biasa, membuat telur ceplok mata sapi kesukaanku dan menghangatkan nasi. Saat kami berdua menikmati sarapan dalam keheningan yang nyaman, suasana pagi itu terasa begitu istimewa bagiku, sebuah momen langka yang ingin kusimpan lama dalam ingatan.

UDUMBARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang