Celine Dumara, sejak kecil dihantui oleh bayang-bayang ingatan yang terasa begitu nyata. Seakan-akan ia pernah hidup di masa lampau. Setiap kali mencoba berbagi, ceritanya selalu dianggap khayalan belaka.
Dijauhi dan diisolasi, Celine merasa kesepia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jelaskan padaku siapa kamu!"
***
Mobil mewah dengan merk lexus ls 500h berwarna graphite black itu meluncur perlahan di jalanan basah sisa hujan. Keheningan menyelimuti interior mobil, memecah konsentrasi dua orang di dalamnya.
Celine menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak emosi. Pipinya memerah bekas cubitan dan tamparan sebagai upaya menyadarkan dirinya dari mimpi buruk. Namun, rasa sakit yang menusuk kulitnya justru menegaskan kenyataan pahit.
Di sampingnya, Gerland fokus menyetir, pipinya masih terasa perih akibat tamparan Celine. Pertemuan pertama yang begitu canggung berubah menjadi kacau karena tindakannya yang terburu-buru. Ia ingin meminta maaf, tapi kata-kata seakan macet di tenggorokan.
Lampu merah menyala, menghentikan laju mobil. Gerland melirik sekilas ke arah Celine, berusaha memecahkan keheningan. "Maaf," ucapnya pelan. Celine mendengus sinis. "Baru sekarang minta maaf?" balasnya ketus. "Turunin aku di sini."
Gerland menggeleng. "Tunggu, aku antar sampai rumah."
Celine mengernyit curiga. "Jadi kamu yang kirim kalung ini hah? Kamu nguntit aku, ya? Sejak kapan?" Gerland tampak terkejut. "Apa? Enggak, aku gak pernah nguntit kamu. Bukan aku juga yang kirim kalung itu."
Celine menatapnya tajam. "Terus siapa?" Gerland menggeleng, "I don't know, Celine" jawabnya dalam bahasa Inggris.
Lampu hijau menyala, memaksa Gerland melanjutkan perjalanan. Dingin malam menusuk kulit, Celine menempelkan wajahnya pada kaca mobil, menatap taman yang berlalu.
"Berhenti di sini," pintanya tegas. "Tapi—" "Berhenti!" Celine memotong ucapannya. Mobil mewah itu pun menepi. Celine keluar dengan membanting pintu. Wajahnya masih memerah menahan amarah. Gerland melepaskan sabuk pengaman, menyusul keluar.
"Celine," panggilnya lembut. Celine menoleh tajam, "Ada apa lagi?" Gerland menghela napas, "Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bisakah kita mulai dari awal? Jadi teman aja?"
Celine mendengus. "Gak." Gerland tidak menyerah, ia melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Celine. "Dingin," ujarnya sambil tersenyum tulus. Lalu, ia kembali ke mobil dan melaju pergi.
Celine menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Peristiwa malam ini yang begitu membingungkan. Ia merasa lelah dan bingung, sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Dengan langkah gontai, Celine menyusuri taman yang basah kuyup. Udara dingin malam ini menusuk hingga tulang, memaksanya menarik lebih erat jas pemberian Gerland yang terasa tipis.
Baru saat menginjakkan kaki di jalan setapak, ia menyadari tak mengenakan alas kaki.
"Sial, kok baru sadar sekarang?" gumamnya kesal. Kotoran menempel di telapak kakinya.
Ia menepi dan mencoba duduk di ayunan taman, namun basah kuyup. Setelah mengelapnya seadanya, ia pun duduk.
Keheningan malam hanya ditemani suara rintik hujan yang masih menyisakan genangan air di beberapa sudut taman. Tak lama, suara gonggongan seekor anjing dan suara beberapa kucing yang mengeong memecah kesunyian. Celine menoleh ke sekeliling, penasaran.
Ia beranjak dari sana dan mencari-cari sumber suara, sebab di taman itu tampak sangat sepi tidak ada orang satupun selain dirinya sendiri.
Di balik semak-semak dekat jungkat-jungkit, ia melihat seorang pemuda sedang memberi makan tiga ekor kucing dengan bulu oranye, putih, dan belang hitam putih, serta seekor anjing berwarna coklat. Namun, kucing oranye itu tak sabar dan berebut makanan dengan anjing.
Pemuda itu berusaha melerai mereka dengan menambahkan porsi makanannya. Celine tersenyum melihat interaksi mereka. Sebab ia sangat menyukai hewan.
Pemuda itu menyadari tatapan Celine dan menoleh. "Udah lama di sini?" sapa pemuda itu, suaranya lembut. Celine menggeleng pelan. "Enggak kok," jawabnya.
"Aku habis antar paket. Biasanya, kalau sore mampir ke sini buat kasih mereka makan. Tapi karena hujan, jadi agak kemalaman," jelas pemuda itu.
Celine mengangguk, lalu tiba-tiba berkata, "Aku enggak nanya kok." Pemuda itu terkekeh mendengarnya.
"Dari awal ketemu, kamu emang ketus sih ke aku" ucap pemuda itu. Celine mengangkat bahu acuh tak acuh. "Oh ya?" "Iya Celine," jawab pemuda itu.
"Kenapa? Jangan sok akrab panggil nama aku?" lanjut pemuda itu, mengingat perkataan Celine saat terakhir kali bertemu.
Celine terkekeh kecil. "Maaf, waktu itu aku lagi bad mood." Pemuda itu mengangguk mengerti.
"Kamu... Faja kan? Faja Antimo?" tebaknya asal.
Pemuda itu tersenyum kecut. "Antimo itu merek obat!" serunya kesal. Celine tertawa terbahak-bahak. "Oh iya? Aku lupa. Terus siapa dong?"
"Faja Elano, Mbak Celine," jawab pemuda itu.
Celine kembali tertawa, "Oke oke, Faja Elano. Kenapa sih namanya gitu? Aneh banget, Elano.. Elano.. kayak pernah denger gitu dimana.."
Pemuda bernama Faja itu tersenyum, "Sebelum kejadian nganterin paket kita udah pernah ketemu kok, kamu aja yang enggak sadar," ucap Faja yang membuat Celine teringat kejadian di sekolah.
"Oh iya? Aku lihat kamu di aula sekolah pas pembagian raport kelulusan. Kamu punya anak atau adik yang sekolah di sana juga?" tanya Celine.
Faja terkekeh kecil. "Emang muka aku setua itu?" jawabnya, membuat Celine mengerutkan kening bingung. "Maksudnya?"
Bersambung ..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.