Bab 6. Berebut Kamar Mandi (1)
Setelah drama subuh hari tadi. Kini kegaduhan terjadi lagi. Kebiasaan anak-anak yang setelah sholat subuh, itu tidur kembali. Sampai waktu sarapan tiba, dan Gendis akan membangunkan mereka.
Sambil menunggu masakannya masak, Gendis berniat membangunkan ketiga anaknya. Dia hendak menaiki anak tangga tapi dicegah oleh Roro.
"Mau kemana kamu, Gendis?" tanya Roro yang sedang memegang sapu.
"Mau bangunin anak-anak Mbah," jawab Gendis sambil menunjuk ke lantai atas.
"Apa mereka tidur lagi, setelah sholat subuh?" tanya Roro dengan nada terkejut dan tatapan tidak percaya.
"Iya, Mbah." Gendis menundukkan kepalanya begitu melihat Roro membelalakkan matanya.
"Astaghfirullah! Apa kamu tidak mengajarkan kepada mereka. Kalau tidur selepas subuh itu tidak boleh!" Suara Roro yang tinggi memenuhi ruang di lantai bawah. Bahkan sampai ke teras depan rumah, dan membuat Kusuma yang lagi menyapu halaman depan, dapat mendengar suara neneknya itu.
Kusuma cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Melihat apa yang sedang terjadi dengan neneknya. Dilihatnya Roro dan Gendis sedang berdiri di dekat tangga. Kusuma pun menghampiri mereka berdua. Dia ingin tahu ada permasalah apa yang sedang terjadi diantara keduanya.
"Ada apa Mbah? Kok suaranya kedengaran sampai ke depan," tanya Kusuma begitu sudah sampai di samping Roro.
"Ini ... masa anak-anak setelah sholat subuh dibiarkan tidur lagi. Itu tidak boleh! Didik anak-anak yang bener!" Suara hardikkan dari Roro membuat hati cucu dan cucu menantunya mencelos, terasa sakit.
Bagi Kusuma dan Gendis, asalkan sudah sholat subuh, terserah mereka mau melakukan apalagi. Seringnya semua anak itu memilih untuk tidur lagi. Sampai nanti Kusuma atau Gendis yang akan membangunkan mereka untuk mandi dan sarapan.
"Iya, Mbah. Kedepannya akan Kusuma ingat dan memberitahu anak-anak jangan dibiasakan tidur lagi setelah sholat subuh," balas Kusuma sambil menuntunnya ke kursi yang ada di dekat mereka.
Kusuma hendak melanjutkan kegiatan menyapu lantai yang tadi sempat dikerjakan oleh neneknya. Lalu, dia pun mengambil sapu injuk itu.
"Eh, mau apa kamu?" Roro pun beranjak dari kursi yang baru saja dia duduki.
"Menyapu, Mbah. Mbah duduk saja, jangan terlalu lalu banyak bekerja, nanti kelelahan," balas Kusuma.
"Tidak. Sini aku lanjutkan lagi menyapunya! Pamali, tahu tidak?" Roro mengambil kembali sapu dari tangan Kusuma.
Sementara itu, Gendis berlari menaiki anak tangga dan membangunkan anak-anaknya. Dia pun bergerak cepat membereskan tempat tidurnya begitu Gayatri bangun.
"Sayang, bangun sudah siang," kata Gendis mengguncangkan tubuh mungil itu lalu melipat selimut.
"Masih ngantuk, Bun." Gayatri mengucek kedua matanya dengan pelan.
"Apa mau mbah buyut yang bangunkan Gaya?" tanya Gendis sambil menahan tawanya, saat melihat ekspresi wajah putri bungsunya itu, ketakutan. Sehingga dia segera berlari ke arah anak tangga untuk turun ke lantai satu, dan mandi.
"Sekarang giliran Anis dan Kala," gumam Gendis sambil keluar kamar. Selanjutnya dia membangunkan kedua anak lainnya.
"Anis ... Kala, ayo, bangun!" teriak Gendis sambil mengetuk kedua pintu kamar milik kedua anaknya.
Kedua bocah itu bangun secara bersamaan dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 06:30. Kedua anaknya itu juga berlari menuruni anak tangga dan saling lomba siapa duluan yang mencapai kamar mandi.
Kelakuan kedua buyutnya, membuat Roro tidak tahan untuk tidak mengomelinya. "Apa yang kalian lakukan? Berlari menuruni anak tangga. Bagaimana kalau kalian jatuh tadi? Pasti akan sakit dan merepotkan orang lain!" bentak Roro kepada kedua buyutnya itu.
"Maaf Mbah ... kami tidak akan mengulanginya lagi," jawab Rengganis dengan suaranya pelan.
"Kamu apaan sih, minggir … aku duluan!" teriak Rengganis sambil adu sikut dengan Bagaskara di depan pintu kamar mandi. Mereka berdua berebut ingin duluan masuk ke sana.
"Enggak! Aku duluan yang sampai kesini!" Bagaskara enggak mau kalah berebut masuk kamar mandi.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Roro membentak kedua buyutnya itu. Rengganis dan Bagaskara langsung mengkerut diam seribu basa.
***
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah ketiga bocah itu protes dengan kehadiran Mbah buyut mereka? Ikuti terus kisah mereka, ya!

KAMU SEDANG MEMBACA
Dikira Benci Ternyata Sayang
Krótkie OpowiadaniaKisah kehidupan keluarga di era 90-an. Ketiga cucu harus berhadapan dengan buyutnya yang super cerewet. Cerita ini mungkin pernah dialami oleh anak-anak pada zaman itu. Kisah mereka bisa membawa kalian ke masa-masa indah saat masih kecil.