Rachel segera turun begitu mobilnya berhenti di depan butik, terparkir di sana dengan rapinya. Memutari mobil, dia berdiri di depan mobil, tersenyum saat Arsen keluar dari mobil. Mendekat ke arahnya.
"Nggak mau bawa mobilnya aja?"
"Sebentar lagi supir yang bawa mobilku juga dateng." Ucapan itu, bersamaan dengan sebuah mobil hitam keluaran Itali berhenti di belakang Rachel membuat perhatian mereka kini tertuju ke arah mereka. Seorang supir yang Arsen maksud keluar dari sana. Yang segera mendekat ke arah Arsen dan menyerahkan kunci mobilnya.
Rachela tidak bisa menahan senyumnya saat tunangannya itu menyerahkan beberapa lembaran uang seratus ribuan. Yang langsung diterima dengan supir itu setelah bergumam terima kasih. Pemandangan itu adalah hal biasa setiap kali tunangannya itu mengantarkan Rachel, sedang supir kantor mengikuti dari belakang dengan mobil milik tunangannya itu. Hal, yang memang sederhana namun tidak semua pria akan melakukannya.
Pria itu memang tidak berkata manis, tidak pernah berucap sesuatu yang manis yang kadang membuat Rachel merasa disanjung atau bahkan semacamnya. Tapi, entah mengapa, hanya dengan sikap pria itu yang seperti sekarang ini. Sudah membuat Rachel senyum-senyum sendiri. Dia senang mendapatkan sikap dan perhatian dari tunangannya dengan segala cara pria itu.
"Aku jalan sekarang, ya?"
Rachela beringsut mendekat. Memegang lengan Arsen dan memeluknya. "Nggak mau mampir dulu? Masih ada waktu beberapa menit lagi, kan?"
"Lain kali aja."
Rachela cemberut mendengar itu, namun tidak mengatakan apa-apa.
"Sana masuk!"
"Iss, galak banget sih sama tunangannya." Protes Rachela begitu nada suara Arsen sangat ketus. Namun dia tetap melepaskan pelukannya di lengan pria itu.
"Kabari aku kalau udah sampai, ya?"
"Hmm."
"Hati-hati di jalan." Satu kecupan Rachela daratkan di pipi tunangannya itu. Yang seketika membuat pria itu mendelik. Rachela yang tertawa renyah saat mendapatkan tatapan penuh peringatan dari tunangannya itu. Pria itu memang sangat sulit jika diajak romantis, apalagi jika menunjukkan kemesraan mereka di muka umum. Sudah pasti pria itu akan mengomelinya habis-habisan.
"Ckk, udah sana masuk! Ngapain sih masih di sini. Panas."
"Ya, udah sih kamu masuk ke mobil dulu. Aku tungguin."
"Dasar keras kepala." Bukannya kecupan atau bahkan usapan lembut di puncak kepalanya yang Rachela dapatkan. Yang ada hanya tarikan di ujung rambut pelan lah yang tunangannya itu berikan. Membuat Rachela mencebik dan melotot. Dia sudah cukup biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari tunangannya. Kalau bukan pipinya yang dicubit, tentu saja telinganya yang akan pria itu jewer. Atau kadang rambutnya yang akan menjadi sasaran pria itu. Membuat Rachela kadang kesal dan jengkel.
Tentu saja pria itu tak akan menggubris, dia hanya melanggang begitu saja. Masuk ke dalam mobil tanpa menjelaskan apa-apa. Lalu, mobil pun melaju. Meninggalkan Rachela yang kini hanya menghela nafas panjang. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam butik begitu mobil Arsen menghilang.
Di sana, dia sudah tahu ada siapa. Mobil yang terparkir rapi di samping mobilnya sudah bisa Rachela tebak milik siapa.
Benar saja. Begitu dia masuk, dia langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya, yang seketika menarik senyumnya begitu melihat Rachela melangkah mendekat.
"Ra?" Sapanya, yang hanya Rachela balas dengan senyum ala kadarnya.
"Kamu datang sendiri?"
Rachela menggeleng. "Dianter sama Arsen." Jawab Rachela membuat kedua mata yang awalnya memandangnya itu seketika menoleh ke arah pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY (Titik Henti) (SELESAI)
Romance**** Rachella sedang berada di titik 'Kelelahan' saat hubungannya dengan tunanganya, Arsen, 'Tak kunjung menemukan kepastian' mereka berpacaran cukup lama. Lalu, bertunangan, tapi hanya berhenti di sana. Arsen tak pernah menjelaskan apa-apa tentang...
