Siang ini kediaman sederhana milik Habel terasa begitu ramai setelah dari tadi hanya terdengar suara keributan yang dihasilkan oleh dirinya dan Yessa.
Sepulang sekolah Sadewa, Aaron dan Fahmi memang berencana untuk menjenguk Habel sekalian main, yang mana hal itu membuat Habel yang sedang bosan merasa sangat senang.
" Kalian disini mau sampai kapan?" Tanya Yessa sambil mencomot pizza yang tadi dibawa oleh Sadewa.
" Sampek puas " Jawab Aaron.
Yessa menganggukkan kepalanya mengerti, ia kemudian kembali fokus memakan pizzanya.
Sementara itu yang lain tampak begitu fokus menonton sinetron yang ditayangkan di televisi sambil sesekali mengomentari.Persis sekali seperti emak emak, setidaknya itulah yang ada dipikiran Yessa saat ini.
" Gue bosen nih, main apa gitu kek " Celetuk Fahmi yang sudah mulai bosan menonton sinetron di televisi.
" Pas banget! Gue bawa uno, mau main nggak?! " Tanya Yessa dengan raut wajah begitu antusias.
Habel, Aaron, Sadewa dan Fahmi menganggukkan kepalanya setuju, sejujurnya mereka juga sudah mulai bosan dengan tontonan mereka tadi.
Mendapatkan respon seperti yang ia harapkan, Yessa langsung bangkit dari duduknya, ia kemudian meraih jas sekolahnya yang tadi ia letakkan di lengan sofa.
" Nih "
Yessa meletakkan Uno yang masih tersimpan rapi didalam kotak itu dihadapan teman temannya yang sedang duduk melingkar di karpet.
" Baru beli? '' Tanya Aaron sambil meraih kotak tersebut.
" Nggak " Jawaban Yessa membuat Habel beserta teman temannya menoleh ke arah Yessa secara bersamaan.
" Nyolong ya Lo?! " Tuding Fahmi tepat didepan wajah Yessa.
Yessa dengan jengkel langsung menyingkirkan telunjuk Fahmi dari depan wajahnya, tidak sopan sekali anak ini pada yang lebih tua, begitu pikirnya.
" Enak aja nyolong! Itu punya si Meru ya gue pinjam! " Kesal Yessa.
" Ooooh kirain nyolong " Ucap Fahmi sambil terkekeh.
" Ya nggak lah! Bokap gue udah kaya ngapain nyolong! "
" Siap si paling kaya " Ucap mereka secara bersamaan sambil menyatukan tangan sejajar dengan wajah yang mana hal itu buat Yessa berdecak kesal.
" Apaan sih anjir, lo semua juga kaya ya! " Mendengar itu mereka semua tertawa secara bersamaan.
" Oke, kita mulai permainannya" Celetuk Aaron yang diam diam ternyata sudah membagikan kartunya untuk mereka semua.
" Njir gercep juga Lo "
" Hohoho mesti lahh " Sombong Aaron yang kemudian membuat Sadewa memutar bola mata malas.
" Mulai dari siapa dulu nih? "
" Gue dulu ya! "
Permainan itu berlangsung dimulai dari Habel Karena bocah itu yang meminta.
Permainan itu berlangsung begitu menyenangkan diisi dengan canda tawa serta suara teriakan heboh mereka.
Apalagi jika ada yang mendapatkan hukuman, itu terasa begitu menyenangkan dan sangat memuaskan.
Wajah mereka sudah begitu kotor dengan bedak bayi yang hampir memenuhi seluruh wajah mereka karena mereka sudah bermain cukup lama.
Waktu sudah menunjukkan hampir malam tapi mereka belum juga mengakhiri permainan.Bahkan kini karpet rumah Habel sudah tampak begitu kotor dipenuhi dengan bedak bayi yang tumpah dimana mana serta remahan jajanan mereka yang berserakan dimana-mana juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <
Teen FictionEnjoy this story guys! Revisi sambil update Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ] > Sedang Revisi <](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)