Hogwarts yang biasanya dipenuhi oleh suara riuh para siswa, kini terasa sepi seperti kastil kosong. Cahaya obor di dinding memantulkan bayangan yang bergoyang samar, sementara langkah-langkah kaki terdengar jauh, seperti gema dari lorong-lorong yang tak berujung. Hanya beberapa murid yang masih tersisa, bergegas menuju asrama masing-masing, seolah takut berada di luar pada larut malam ini. Namun, Draco Malfoy tidak peduli. Dia terus berjalan, langkahnya tegap, meskipun pikirannya kacau seperti badai yang tak kunjung reda.
Dia bergerak cepat menuju tangga besar yang mengarah ke asrama Gryffindor. Tangga itu seperti biasa, bergerak dengan liar dan tak terduga, namun bagi Draco itu hanya hambatan kecil dibandingkan kekacauan yang membara di dalam dirinya. Pikirannya terus berputar—tentang Hermione, tentang pengkhianatan dan tentang amarah yang menggerogotinya tanpa henti. Sebelum dia sadar, dia sudah berdiri di depan lukisan 'The Fat Lady.'
"Aku ingin masuk," katanya, suaranya berat dengan otoritas.
The Fat Lady menatapnya dengan pandangan yang penuh selidik, bibirnya melengkung dalam senyum sinis. "Aku tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk, terutama kau, Tuan Malfoy."
Wajah Draco mengeras. "Ini bukan saatnya bermain-main. Biarkan aku masuk."
"Kalau aku mau," jawab The Fat Lady, tawa kecilnya terdengar tajam di telinga Draco. "Tapi aku tidak mau." Dia tertawa lagi, suaranya tajam, menusuk kesabaran Draco yang sudah berada di ujung tanduk.
Draco mengepalkan tinjunya, napasnya tertahan, hampir siap untuk meledak. Namun sebelum dia bisa memuntahkan kemarahan yang membuncah di dadanya, sebuah suara datang dari belakang.
"If you're emotional like this, you will get nothing."
Draco berbalik dengan cepat, matanya menangkap sosok yang berdiri tak jauh di belakangnya—Neville Longbottom.
"Percayalah padaku," lanjut Neville, suaranya rendah tapi tegas. "Kau tak akan mendapatkan apapun jika terus bertindak seperti ini."
Draco menatapnya dengan sorot tajam, mencoba mencerna apa maksud di balik kata-kata Neville. Tapi amarah yang menguasai dirinya terlalu kuat. "Di mana Hermione?!" desisnya, hampir tak bisa menahan diri.
Neville tak gentar. Wajahnya tetap tenang, matanya serius menatap Draco. "Aku tidak tahu di mana Hermione," jawabnya jujur. "Tapi yang jelas, berteriak-teriak di sini dan memaksa orang lain tidak akan membawamu lebih dekat padanya. Kau harus berpikir jernih, Malfoy."
Draco terdiam, otaknya mencoba mengendalikan badai emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Neville—yang dulu pengecut—kini berdiri tegak di hadapannya, seolah-olah tak ada yang bisa menggoyahkan keyakinannya. "Jadi, apa yang harus kulakukan?" tanya Draco, kali ini suaranya lebih pelan, nadanya hampir putus asa.
Neville menatapnya penuh simpati. "Mulailah dengan tidak menghancurkan dirimu sendiri karena kemarahan. Kau tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun jika kau kehilangan kendali."
Neville melangkah mendekat, ekspresinya berubah lebih serius. Ia merendahkan suaranya, seolah ingin memastikan hanya Draco yang bisa mendengar.
"Ingat hari itu?" bisiknya "Saat Ron menangkapmu di Aula Besar?"
Draco terdiam, tubuhnya tegang saat ingatan itu muncul kembali. Dia memandang Neville dengan bingung, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
Neville melanjutkan, suaranya tetap tenang namun penuh keyakinan, "Ingat setelahnya? Kami semua di lorong terlarang perpustakaan. Menurutmu, siapa yang mungkin tahu sesuatu, selain diriku?"
Draco mengerutkan kening, otaknya mulai bekerja keras, mencoba mengaitkan satu kejadian dengan lainnya. Harry? Ron? Ginny? Luna? Lavender? Seamus? Neville bilang selain dirinya. Lalu siapa?
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE : DRAMIONE (COMPLETE)
FanfictionNb : Setiap cerita punya alur masing-masing yaa. Termasuk cerita ini ada progres dan beberapa masalah yang aru tambahkan dan gak ujug-ujung ke Dramione nya yaaa :) Bukan hanya kisah romansa juga masalah baru yang terbit. Pasca perang, Draco Malfoy...
