Mati Di Hati, Hidup Di Dendam

306 34 14
                                        

Koridor Hogwarts yang panjang dan sepi terasa semakin sunyi saat langkah-langkah Astoria terdengar mendekati Draco. Dengan senyum lembut di wajahnya, Astoria memanggil, "Hi, baby..." suaranya penuh kehangatan, seperti memeluk suasana malam itu.

Namun sebelum kata-katanya selesai menggantung di udara, Draco dengan cepat menutup mulut Astoria dengan tangannya. Mata abu-abu Draco menatap tajam ke arahnya, wajahnya mendekat dan bisikannya terdengar dingin, "Kau gila?  Bagaimana kalau ada yang dengar? Jangan katakan itu lagi."

Astoria tersentak, tapi bukan karena marah. Justru sebaliknya, dia merasa semakin tertarik pada sikap dingin Draco. "Drake," bisiknya lembut, tangannya dengan perlahan menyentuh tangan Draco yang masih menutup mulutnya. "Tak ada orang di sini, hanya kita berdua."

Draco melepaskan tangannya dengan cepat. Dia berdiri tegak, menyibakkan rambut pirangnya dengan gerakan angkuh yang khas. "Kau tak mengerti, Astoria. Ini bukan permainan kecil. Jika orang tahu... jika mereka tahu tentang kita—"

"Kita?" Potong Astoria, matanya bersinar-sinar, memeluk kata itu seolah dia sudah lama menunggunya. "Jadi kamu juga menganggap antara kita ada 'kita'?"

Draco menghela napas berat, rasa frustasi mulai membuncah dalam dirinya. "Jangan berlebihan. Ini semua hanya—"

"Sebuah kesalahan?" Astoria memandangnya dengan mata penuh harap, meski dalam hatinya tahu apa yang mungkin akan dia dengar. "Sebuah pengalihan hnya demi bloodline?"

Draco memalingkan wajah, tangannya mengepal. "Ya. Mungkin saja ini sebuah kesalahan."

Astoria tertawa kecil, meski suaranya terdengar getir. "Kalau tahu ini kesalahan, kenapa kau selalu datang setiap kali aku memanggilmu, Drake?"

Draco terdiam. Ada sesuatu dalam kata-kata Astoria yang membuatnya sulit menjawab. Dia tak pernah benar-benar ingin memikirkan alasannya. Baginya, ini hanyalah pengalihan. Sebuah hubungan yang tak seharusnya ada. Tapi mengapa dia terus kembali padanya? Mengapa dia tak bisa menjauh?

Astoria melangkah maju, memandang Draco dengan penuh perasaan. "Drake, ayolah jangan terlalu serius Just have fun, bagaimana kalau besok aku mati? Apa kau akan menyesal tak membiarkan bersenang-senang? Apa kau akan merasa bahwa kita tak pernah memberikan kesempatan untuk... merasakan ini lebih jauh?"

Draco menegakkan tubuhnya, menahan diri agar tidak menunjukkan apa pun. "Aku tak pernah memikirkan hal-hal konyol seperti itu."

Astoria tersenyum kecil, tapi matanya teralihakn. "Kau selalu berpikir segalanya di bawah kendalimu, ya? Tapi kau tahu, ada hal-hal yang bahkan seorang Malfoy tidak bisa kendalikan."

Draco hanya menatapnya, rahangnya mengeras. "Jaga batasan mu, Greengrass."

Astoria mendekat, langkahnya pelan dan lembut seperti bisikan angin malam. Dia berdiri tepat di depan Draco, menatapnya dalam-dalam. "Perasaan. Kau tidak bisa mengendalikannya selamanya. Tidak untuk dirimu, dan tidak untukku."

Draco meneguk ludah, tapi tetap menjaga sikapnya yang dingin. "Semua yang kita lakukan sekarang hanyalah kepura-puraan, tak lebih dan kau mengerti bagaimana sandiwara ini sudah berjalan bertahun-tahun yang lalu. "

Astoria mendesah, meraih tangan Draco dan menggenggamnya lembut. "Tidak selamanya, Drake. Suatu saat nanti, kau akan menyadari kalau perasaan ini bukan sesuatu yang bisa kamu abaikan begitu saja."

Draco menarik tangannya dengan cepat, "Astoria, cukup. Jangan membuat ini lebih rumit dari yang seharusnya. Kita hanya... ini hanya... sebuah kebetulan. Jangan berharap lebih."

Astoria tersenyum, kali ini lebih lembut. "Aku tidak berharap lebih, Draco. Aku hanya berharap kau jujur pada dirimu sendiri."

Draco memalingkan wajahnya lagi, menatap ke arah jendela yang mengarah ke langit malam. "Jangan buang waktumu untuk sesuatu yang tak akan pernah terjadi."

MINE : DRAMIONE (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang