Jerat Takdir

357 25 15
                                        

"Eergh... lima menit lagi, berikan aku lima menit lagi, sunshine." erang Draco sembari meraih tangan yang mengganggu tidurnya. Namun, tidak lama kemudian tangannya terhempas. Dengan malas ia mendongak, matanya mengerjap-ngerjap mencoba mengusir kantuk dan memfokuskan pandangannya yang buram.

"Woi! Eike masih normal ya!" seru Blaise sambil menepis tangan Draco.

Draco mengerutkan kening, mencoba memahami situasi. Di depannya, Blaise menatapnya dengan skeptis sementara Theo sedang memeriksa sesuatu di dalam lemari sapu terbang. Draco baru sadar bahwa ia tertidur di ruang tunggu Quidditch Slytherin setelah dijemput paksa oleh Theo dari St. Mungo's karena seharusnya ia membahas strategi Quidditch tadi malam, tapi Draco rupanya lupa sama sekali setelah berada di kamar perawatan Hermione, Yeah gadis itu selalu saja membuatnya hilang akal dan lupa segalanya.

"Kau bisa membatalkan latihan kalau kau masih merasa tidak siap," kata Theo tanpa menoleh.

"Yeah, tanpa latihan pun kita bisa menang dengan mudah melawan Hufflepuff," sambung Blaise sambil terkekeh.

Draco menggeleng, masih berusaha sepenuhnya bangun. "Tak perlu," gumamnya sambil meregangkan tubuh.

Mereka meninggalkan ruang tunggu sementara Draco masih menguap lebar, kakinya terasa berat. "Kita akan menang tanpa susah payah," gumamnya lagi sambil mengusap wajahnya yang masih terasa lelah.

"Kau bisa saja kalah kalau terus menguap begitu," sindir Blaise, membuat Draco meliriknya malas.

Namun, sesaat kemudian Draco sudah berada di atas sapunya. Mengenakan seragam latihan hijau dengan lambang ular Slytherin berkilau di dadanya, ia memimpin latihan pagi itu. Langit di atas lapangan Quidditch tampak samar dengan cahaya matahari yang masih redup, tetapi Draco tetap mengambil kendali penuh. Suaranya terdengar tegas saat memberi perintah kepada tim.

"Rowle, fokus ke pertahanan! Blaise, kau terlalu lambat mengalihkan serangan. Cepat sedikit!" perintah Draco, sapunya meluncur cepat di udara memotong lintasan beberapa pemain yang tengah berlatih operan.

Draco bergerak lincah, sapunya meliuk di antara pemain lainnya dengan mulus. Ia memperhatikan setiap gerakan dengan tajam, mengoreksi kesalahan dengan cepat, atau memberi instruksi tambahan untuk meningkatkan strategi. Semua mengikuti arahannya dengan serius, karena mereka tahu betapa menuntutnya Draco dalam urusan Quidditch.

Setelah beberapa saat, sapu-sapu mulai turun perlahan menandakan akhir latihan. Mereka berkumpul di tengah lapangan, napas mereka masih terengah setelah sesi yang cukup intens.

"Latihan ini cukup bagus," kata Draco, nada suaranya acuh tak acuh. "Tapi Slytherin tak bermain hanya untuk sekadar bagus, kan?"

Semua mata tertuju padanya. Draco sesekali melirik tribun penonton yang kosong, seolah-olah mencari sesuatu—atau seseorang. "Dimana dia? Kenapa Hermione tidak di sini?" pikirnya, gelisah.

"Semua orang juga tahu kalau kita hebat," lanjut Draco, suaranya kembali mantap. "Tapi aku ingin kita lebih dari sekadar hebat di pertandingan nanti. Aku ingin kita menghancurkan mereka, bukan sekadar menang tipis!"

Blaise tertawa kecil di sebelahnya, tetapi Draco tidak menanggapinya. Pikirannya terus teralihkan, dan matanya kembali mencari di tribun penonton yang tetap sunyi. Ketiadaan Hermione mulai membuatnya cemas, meski ia tak ingin menunjukkannya.

Tiba-tiba, salah satu anggota tim berbisik, "Is that Potter?"

Draco menoleh tajam. Di kejauhan, Harry Potter berdiri bersama Ron yang tampak mengamati mereka dari tribun.

"Ada apa, Pppottaah?" ejek Draco dengan nada sinis, kedua lengannya terlipat di depan dada. "Berusaha mencuri strategi kami?"

Harry hanya tersenyum tipis, mengangkat bahu tanpa berkata apa-apa dan Ron jelas-jelas tertawa keras, "Jangan mimpi, ular!"

MINE : DRAMIONE (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang