Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PART 39
°°°
Setelah drama mengadzani bayi usai, Vino duduk termenung pada sofa yang ada di ruangan itu.
Pikirannya berkelana ke beberapa saat yang lalu. Saat dimana ia dalam perjalanan mengantar Nina ke rumah sakit.
"Paman cepatlah, bayinya akan segera lahir!" Ucapan Maryam semakin membuat Vino panik. Ia menambah laju mobilnya.
Pikirannya benar- benar berkecamuk. Disatu sisi ada Jack yang mungkin nyawanya dalam bahaya, disisi lain ada Nina yang akan segera melahirkan.
Satu tangannya fokus pada alat kemudi, dan yang lainnya ia gunakan untuk terus menghubungi Emilio. Tapi ponsel sepupunya itu tak kunjung bisa dihubungi.
Melihat gerak- gerak Vino, Nina akhirnya paham dengan situasi yang dialami pria itu.
Ditengah ringisannya, ia mengungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan.
"Tadi malam, Tuan Emilio mengunjungi kami," kata Nina, terengah- engah.
Tiba- tiba rem mobil terdengar menjerit.
"Astagfirullah, paman." Kening Maryam terbentur kesandaran mobil.
Vino berbalik menatap Nina.
"Kau bilang apa?" tanya Vino ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"A-aku akan menceritakannya. Tapi tidak bisakah kau kembali mengemudikan mobilmu? Aku tidak ingin bayiku lahir disini."
Vino kembali melajukan mobilnya. Ia dengan seksama mendengarkan penjelasan Nina. Maryam sesekali menimpali dan ikut menjelaskan perihal kedatangan Emilio.
Yang ternyata saat Vino meminta Emilio untuk membunuh Jack, diam- diam pria itu melakukan penyelidikkan.
Hari dimana Emilio mual dan merasa pusing, ia tiba- tiba saja menerima panggilan telepon dari orang suruhannya. Dan fakta yang mengejutkan, selain Jack ternyata masih ada anggota keluarga Mazaya yang masih hidup.
Malam hari ia pun diam- diam menemui Nina juga Maryam, di alamat yang diberitahukan bawahannya.
Dan malam itu menjadi malam yang sangat memilukan bagi Nina juga Maryam. Fakta demi fakta dikuat habis oleh Emilio. Pria itu bahkan bersimpuh dihadapan Maryam, ia sangat menyesali perbuatannya.
Karena kekejamannya, Maryam menjadi anak yatim piatu, yang tidak hanya kehilangan kedua orang tuanya, tapi juga kehilangan kakek, nenek, dan adiknya tersayang.
Maryam tentu saja menangis, tapi reaksi yang diberikan cukup dewasa untuk anak seusianya. Ia tidak terlalu meledak- ledak dalam amarah, dan menganggap ini semua bagian dari takdir. Hingga hanya berselang beberapa jam, ia pun memaafkan Emilio.
"Tuan Emilio berjanji, akan mempertemukan kami dengan Mazaya. Tapi ia meminta kami bersabar dan memberi sedikit waktu, agar ia bisa menyelesaikan permasalahannya lebih dulu," ujar Nina, mengeram tertahan. Rasa sakit yang ia rasakan membuat kepalanya terasa pening. Air matanya juga mengucur deras. Fase menuju kelahiran sang Buah hati, sakitnya benar- benar luar biasa.