E19 Dead Three

105 9 1
                                        

🌹WARNING!!🌹

HANYA CERITA FIKSI DAN TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN KISAH NYATA KEHIDUPAN AKTOR ATAU ARTIS YANG MENJADI PEMERAN DI DALAM CERITA INI!!
JANGAN MELAKUKAN PLAGIAT DENGAN MENGAMBIL IDE TANPA SEIZIN PENULIS!!
TERIMA KASIH


Gulf Point Of View On

Semenjak hari itu, aku menginginkannya, namun tidak bisa mendapatkannya dari Phi Mew. Bukan karena dia tidak mau melakukannya denganku, hanya saja aku merasa selalu ada yang kurang.

Apa yang terjadi kepadaku sebenarnya?

Aku merasa haus, haus akan belaian dan kasih sayang dari seseorang, tapi aku tidak puas hanya mendapatkannya dari Phi Mew. Aku merasa lemas dan lapar seolah tak makan selama bertahun-tahun.

Apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi sesuatu yang kurang itu?

"Sayang, kemari lah!" Seseorang memanggilku dari dalam hatiku.

"Siapa kamu?" tanyaku.

"Aku adalah Mew suamimu. Kemari lah! Aku tunggu kamu di dalam kamar." ucapnya lagi.

Phi Mew sepertinya tahu kegelisahan hatiku ini. Aku langsung beranjak dari bangku yang berada di taman belakang lalu berjalan menuju ke dalam kamar. Ketika aku baru saja membuka pintu, aku terkejut Phi Mew sedang bercumbu dengan seorang wanita di atas tempat tidur.

"Phi, kenapa memanggilku datang kemari?" tanyaku yang kini menatap ke arah wanita itu dengan tatapan tajam.

"Layani dan buat istriku puas!" perintah Phi Mew kepada wanita itu agar membuat aku merasa puas.

Wanita itu mulai memelukku lalu mencium bibirku. Aku merasa jijik, namun sesuatu yang hilang itu mulai terisi. Aku masih diam terpaku melihat ke arah wanita yang masih mencumbui ku itu.

"Sayang, tidak perlu merasa tegang. Santai dan nikmati saja permainannya!"

"Phi, aku merasa tidak nyaman." ucapku yang kini langsung menghentikan kegiatan wanita itu disaat dia akan membuka celanaku.

"Apakah kau hanya nyaman dengan seorang pria? Bagaimana? Apakah aku perlu menggantinya?"

Aku langsung menyingkirkan wanita itu dari hadapanku lalu berjalan menuju ke arah Phi Mew yang kini telah berganti posisi dengan duduk di pinggir tempat tidur.

"Kenapa? Apakah kau marah kepadaku?" tanya Phi Mew kepadaku.

"Tidak, aku hanya ingin melakukan ini." Aku langsung duduk di atas pangkuannya lalu memeluknya dengan erat.

Phi Mew langsung membalas pelukanku.

"Kamu selalu melakukan apa yang kamu pikirkan tanpa memberikan isyarat apapun."

Aku memang seperti ini. Dari dulu sampai sekarang karena aku kekurangan kasih sayang. Aku hanya mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Phi Mew. Bahkan ketika dia melukai aku, aku tidak masalah karena aku yakin di dalam hatinya hanya ada aku.

***

Beberapa hari kemudian, seorang teman lama menghubungiku. Phi Mew memberi isyarat agar aku mau bertemu dengan teman lamaku itu. Ya, dia tahu kalau temanku itu ingin bertemu denganku.

"Phi, tapi aku..."

"Berakhir membunuhnya atau tidak, itu sudah menjadi takdir akhir untuk kalian berdua. Kamu tidak akan bisa mengubah takdir itu." ucapnya kepadaku.

Benar, dia memang benar. Aku tidak akan bisa mengubah takdir. Entah sekarang atau nanti, aku mungkin akan berakhir membunuhnya.

"Dimana kalian akan bertemu malam ini?" tanyanya kepadaku lagi.

ANGEL WINGS (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang