Part 59

53 5 0
                                        

" Ndan, sekarang sudah pukul tiga dini hari, apa pencarian akan dihentikan?" Seorang anggota memberi informasi sekaligus memastikan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Ndan, sekarang sudah pukul tiga dini hari, apa pencarian akan dihentikan?" Seorang anggota memberi informasi sekaligus memastikan.

" Harusnya. Tapi, saya nggak tega" Sebetulnya Kemal juga masih punya hati nurani begitu melihat kesungguhan para keluarga mencari mereka yang hilang. Bahkan semangat mereka melebihi anggota SAR sendiri.

" Kita perlu perpanjang lagi, Ndan?"

Tanpa banyak pikir Kemal mengangguk."Perpanjang sampai jam enam pagi"

" Siap! Saya sebarkan kepada yang lain"

Meskipun udara diatas sini semakin menusuk sampai ke rusuk mereka terus bekerja sekeras mungkin. Seolah tidak punya rasa lelah dan kenal kata menyerah, mengesampingkan rasa lapar dan pegal-pegal dipersendian. Wilayah yang semula disisir sejauh tujuh kilo meter kini diperpanjang menjadi sepuluh kilo meter. Namun, entah apa mau semesta, sampai saat ini hasilnya masih menjadi hal mustahil yang kian dipaksakan untuk ada sebab petunjuk belum juga ditemui, semua hanya buang-buang waktu.

Jauh dari jarak Kemal berada. Tepatnya di unit C, Elzan berhenti sejenak hanya untuk menengadahkan tangan saat merasakan rintik air tuhan jatuh secara berangsur. Semula berbentuk gerimis kini beralih menjadi hujan deras yang semakin membuat tubuh gemetaran sangking dinginnya. Elzan membuang napas dari mulut, kepulan asap putih membulat di udara. Beberapa petugas sudah meneriaki untuk berteduh dan menyuruhnya untuk memakai jas hujan. Namun, tidak pernah didengarkan lelaki itu terus memaksa tubuhnya menyusuri longsoran tanah berharap sejumput petunjuk sang adik dapat dia temukan.

" Zan, kita neduh dulu. Dipaksain juga nggak akan benar" Apa kata Arel memang benar adanya, sebab hujan semakin lama semakin ganas menusuk kemata membuatnya perih, jalanan menjadi dua kali lebih licin.

" Hari ini hari terakhir perjuanganku Rel, terlepas hidup atau mati, aku harus nemuin adikku"

Hati Arel dibuat mencelos bukan main. begitu besarnya sayang Elzan pada Abi. Hei, Abi tidakkah kamu melihat itu? Kamu ada dimana? Coba lihat dan tampakkan dirimu.

Diunit terpisah, Satya nyaris tumbang karena kepalanya yang mendadak pusing dan pandangnya yang memburam. Beruntung Jovan memeganginya, hingga tidak terjadi hal-hal yang lebih parah. Faktor umur dan banyak pikiran membuat kondisi Satya tidak stabil.

" Om jangan terlalu maksain diri, ini terlalu beresiko buat kesehatan dan keselamatan, Om" Jovan langsung membopong Satya untuk duduk dibawah pohon. yang terlanjur lelah pun akhirnya menurut saja, rupanya ada beberapa orang yang juga berteduh disana. Percakapan mereka menjadi teman untuk lamunan Satya.

" Satu jenazah atas nama Mahardika Pangestu, sudah diturunkan berarti tinggal tiga lagi"

Mendengarnya, Satya menarik nafas panjang sesak membuat rongga dada. Perasaan ini kian berapi-api, menyulut nurani. Anak orang lain sudah berhasil ditemukan lalu anaknya kapan? Mengapa Tuhan tidak sebaik itu padanya? Harus selama apalagi dia mencari? Padahal tidak pernah sedikitpun dia lewatkan untuk memanjatkan do'a.

AKSARA CINTA [END✓] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang