Part 60

65 3 1
                                        

Siang ini balai desa ramai lagi, persiapan pengajian untuk para korban gugur akan digelar langsung oleh pemerintah setempat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siang ini balai desa ramai lagi, persiapan pengajian untuk para korban gugur akan digelar langsung oleh pemerintah setempat. Tidak usah ditanya soal kesedihan, ini tentu tidak ada tandingannya lagi.

" Kamu bilang mereka ada, tapi belum waktunya. Sekarang kenapa kayak gini?" Ganis mulai membatin saat melihat teman kecilnya berdiri didepannya dan mengusap pipinya yang lembab karena bekas air mata.

" Emang waktu yang akan menjawab semuanya, dan disaat waktu itu tidak menjawab itulah jawabannya"

Kristal bening dari mata layu Ganis turun lagi. Dia mengalihkan pandangan enggan disentuh oleh anak kecil itu. Ustadz yang akan membimbing pengajian pun datang bersama pak lurah membuat anak itu pergi seketika, meninggalkan Ganis yang masih belum menerima kepergian Marko dari hidupnya. Dia memang tidak pernah memiliki Marko, tapi Ganis seakan kehilangan pusat dunianya.

" Bulan, aku cinta sama mas Marko, aku mau bilang langsung sesekali aja" Berkali-kali Ganis merancau lirih meski dia tau Marko tidak ada disini. Meski dia paham kalo ungkapan cintanya sudah terlambat.

Bulan yang juga pontang-panting menguatkan diri, hanya mengeratkan genggaman tangannya."Aku juga, masih sangat mencintai Marko, Nis" Namun, suara itu hanya berakhir jerit didalam hati.

Dan mungkin memang Marko bukan milik siapa-siapa. Bukan milik Ganis, bukan milik Bulan dan bukan milik Satya dan Dinar. Marko hanya milik Kelud seorang.

Tak jauh dari sana Yulia juga tak kalah buruk kondisinya, tiap menit bahkan detik dia mencium sling bag milik Abi diakhiri dengan rintihan tangis paling kehilangan. Sementara Raline, wanita itu tak kalah menangis kencang dalam dekapan sang suami.

Pengajian dimulai dengan membaca Al-fatihah. Isakan masih terdengar bersahutan diantara para keluarga sampai ketika sedang membaca surat Yasin semua suara mendadak bungkam karena kedatangan seseorang yang berdiri diambang pintu yang kondisinya memprihatinkan.

" A-assalamualaikum"

" MARKOOOOOO!!" Bersamaan dengan Dinar yang berlari, tubuh anak yang menepati janjinya untuk pulang sendiri itu ambruk tak sadarkan diri.

Suasana tak kondusif meski setengah sadar Satya segera menggendong sang anak menuju mobil untuk dirujuk ke RS. Ini seperti mimpi disiang bolong, bahkan Ganis sampai bersujud sangking lemas dibuatnya.

Sepuluh menit waktu berlalu, perhatian mulai teralihkan dari keajaiban ini. Satu persatu mulai masuk lagi ke balai desa meninggalkan seorang gadis yang masih menatap gerbang seperti mengharapkan kedatangan seseorang.

" Nggak semua orang punya keajaiban yang sama, La" Sampai suara Gendis memutus harapan yang dia jahit sepanjang hari ini.

Starla menatap sepatunya yang usang hanya untuk menjatuhkan air mata, menghela nafas panjang sesaknya bukan main.

" Terimakasih atas cerita singkat namun melekat ini, senang punya kenangan bersama mas Bintang. Aku pastikan perjuangan demonstrasi selanjutnya pasti berbeda karena nggak ada orasi lantang mas Bintang didepan pengkhianat rakyat, dan dibarisan kawan yang merindukan kemerdekaan dari jajahan bangsa sendiri "

AKSARA CINTA [END✓] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang