Cowoknya cool abis tapi jahil, ceweknya emosian dan keras kepala kira-kira gimana yaa kalo mereka disatuin???
kisah cinta Maba tengil dan senior galak plus dingin yuk ikuti kisah mereka hanya disini...
YANG GAK SUKA BISA LANGSUNG SKIP TANPA HARUS ME...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disebuah pagi yang panjang, yang mana dihari itu pernah tercipta tangis syukur yang nyaris sempurna dengan rona bahagia. Marko tidak pernah menyangka bahwa semua hal-hal baik yang sudah dia susun begitu rapi akan hancur bersamaan dengan bergetarnya tanah yang dia pijak.
Segerombolan batu besar menerjang tiada henti benda mati yang semula tenang ditempatnya kini menjelma bak monster yang dapat menghabisinya kapan saja. Tubuhnya sedikit terlempar tak tahu arah, bahu kokoh itu berkali-kali terbentur pohon dan bebatuan hingga akhirnya tersungkur jatuh dengan dagu yang menghantam kerasnya tanah. Anak itu memejam bersamaan banjir darah di mulutnya entah ada gigi yang patah atau lidahnya yang tergigit tidak sengaja.
" GEMPA BUMI!" Teriak seseorang menambah kepanikan manusia-manusia itu.
" Astaghfirullah..."
" Ya Allah..."
" Lindungi kepala!" Marko memekik keras.
" Pegangan kuat-kuat!"
" Awas pohon tumbang"
Brug!
Brug!
" SANDYYYY!!"
" Aman-aman, kena bahu doang"
Meski sekujur tubuh dirundung kekuatan tak tertandingi, Marko masih dapat menyakini jika teman-temannya berada dalam kondisi baik sebab masih bisa bertukar teriak. Do'a terus diikrarkan agar gempa bumi ini cepat berhenti dan mereka bisa lebih berpikir jernih untuk melakukan pertolongan pertama. Sayang seribu sayang, bertepatan dengan itu likuefaksiterjadi dimana tanah-tanah mulai meleleh sangking ganasnya getaran tanah dan awan panas.
Serba-serbi yang ada disana seketika semakin dilanda kepanikan apalagi saat pohon, batu dan tanaman kecil lainnya seolah dilahap suka rela. Tubuh-tubuh yang gemetar serta yang ditempeli pikiran buruk itu sudah berpencar akibat tidak terkondisikan baik-baik.
Marko segera menjauh, berjongkok dibalik pohon yang sekiranya bisa menjadi tameng dari hujan batu. Dia memang selamat dari timbunan batu, tapi nggak dengan pohon-pohon yang mendadak saling roboh. Marko benar-benar tidak punya tempat berlindung selain keluar. Naasnya akibat debu yang perih menusuk mata dan suasana yang gelap layaknya malam hari, apalagi saat kakinya menginjak dahan yang langsung menyebabkan dia tergelincir dan berguling-guling di lereng gunung hingga keningnya menabrak akar pohon besar. Asin, darah yang merembes terjilat oleh lidahnya.
" BINTANG! ABI! DIKA! SANDY! SHELA!"
Namun tidak peduli semenderita apa seorang Marko dia tetap berdiri lagi meski dengan punggung yang membungkuk menahan nyeri dan meneriaki nama teman-temannya.
Lelaki itu terbatuk-batuk kencang, entah sejauh apa dia terguling sampai teriak. Dzikir itu hanya terdengar sayup-sayup disepasang telinganya. Marko menutupi area hidung dan mulutnya, melindungi paru-parunya dari debu yang kini semakin menebal. Gelap menghitam, pandangan tidak bisa dijangkau oleh indera mata. Dengan kaki yang sudah pincang anak itu merangkak naik lagi bahkan dia sampai melempar cariernyake sembarang arah agar lebih mudah.