Part 63

71 4 4
                                        

Mobil berwarna hitam itu berhenti didepan sebuah gapura yang sebenarnya sangat tidak diharapkan untuk dikunjungi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mobil berwarna hitam itu berhenti didepan sebuah gapura yang sebenarnya sangat tidak diharapkan untuk dikunjungi. Meskipun sempit-sempitan didalam mobil agakanya sang pengendara dan tujuh penumpang tidak serta merta langsung turun. Namun mereka putuskan untuk menatap gapura itu bermenit-menit lamanya, hanya untuk mengundang rasa perih dihati yang menebar begitu luas.

Gapura itu tampak gagah dari luar namun siapa sangka dibaliknya menyimpan luka yang nyaris membuat runtuhnya hidup manusia.

Menghirup udara mobil dalam beraroma stella jeruk, Jovan mengajak."Kita masuk"

Dari kursi belakang Jia, Argo dan Kinan menurut, disusul oleh Gendis, Starla dan Tarisa yang membantu Dai membuka pintu bagian tengah karena sakit yang Dai derita dihatinya tidak hanya merampas senyum tetapi juga seluruh tenaganya.

Ditepuknya pundak Dai oleh Argo untuk kemudian mengangguk singkat, memberi keyakinan untuk melanjutkan niat ini.

" Hen, aku dateng" Batin Dai tepat saat kakinya berjalan memasuki taman pemakaman umum itu. Rupanya mereka sudah ditunggu Amanda adik perempuan Mahen yang sebelumnya memang sudah janjian.

Langkah-langkah yang berat itu berjalan mengekor Amanda setelah tadi sempat berbasa-basi menanyakan kabar adik dari Mahen itu.

Sepanjang jalan tidak ada yang memulai percakapan untuk mengisi kesunyian, hanya terdengar derap kaki yang intens seumpama kesedihan yang masih seirama sejak jauh langkah berhenti tepat didepan sebuah gundukan tanah yang dilapisi banyak sekali bunga.

Amanda menoleh kebelakang."Ini rumah barunya Ko Mahen"

Dai menjadi orang yang pertama duduk disamping nisan berbentuk salib berwarna putih yang bertuliskan nama sahabatnya. Dia memandangi deretan nama itu hanya untuk mengundang pedih semakin berkumpul direlung hatinya. Saat tangannya mengusap nisan itu penuh rindu, Dai menunduk hanya untuk terseguk kencang memeluk segunduk tanah seolah-olah Mahen betulan terbujur kaku didepannya.

Waktu yang mempertemukan Mahen dan waktu juga yang membawanya ketempat terakhir sang sahabat. Tidak peduli jika tanah merah itu mengotori wajah dan bajunya, tidak peduli jika dia seperti orang gila yang histeris begitu parah menangisi kuburan. Pundak lelaki itu ternyata sangatlah rapuh berkali-kali menangis karena sebuah alasan yang sama. Lagi-lagi perihal kehilangan.

Bermenit-menit Dai menangis kencang, alunan tangisannya terdengar begitu miris, tapi satu orang pun tidak ada yang menyuruhnya menyudahi sebab mereka tau betapa kacaunya hidup lelaki itu.

Meski sangat pelan, Dai mengangkat wajahnya pandangan lelaki itu serius menatap nisan yang terdapat foto Mahen seolah yang dia tatap betul wajah milik Mahen."Apa kabar bro?"

Bahkan Dai nyaris tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis sambil memeluk nisan yang diam membatu. Seolah tidak mendengar banyak tangis disekitarnya.

AKSARA CINTA [END✓] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang