Chapter O3

4.9K 602 35
                                    

Selamat membaca
Jangan lupa vote dan komen
.
.

Renjun menghela nafas panjang saat mobilnya berhenti di depan rumah megah keluarga Lee. Malam itu, meski lelah setelah seharian bekerja, ia tetap menjaga senyumnya. Sebagai sekretaris pribadi Jeno, ia tahu harus bersikap profesional dalam situasi apa pun.

Begitu keluar dari mobil, seorang penjaga sudah menunggunya di pintu depan.

"Selamat malam, Tuan Huang." sapa penjaga itu sambil membungkuk sopan.

"Selamat malam." balas Renjun ramah.

Seorang pelayan kemudian menghampirinya, membantu membawa koper berukuran sedang miliknya dan mempersilakan dia masuk serta mengarahkan langkahnya ke ruang keluarga.

Di sana, Jeno duduk di sofa dengan santai, satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya, jemarinya sibuk menggulir layar ponsel. Ketika Renjun masuk, Jeno hanya meliriknya sekilas sebelum meletakkan ponselnya di meja.

"Duduk." katanya singkat tanpa basa-basi.

Renjun menuruti perintah itu, duduk di sofa seberang dengan tegap. "Aku punya beberapa peraturan yang harus kau patuhi selama tinggal di sini."

Renjun mengerutkan kening, merasa suasana ini akan menjadi sedikit menantang.

"Pertama," Jeno melanjutkan, suaranya tegas dan tanpa emosi, "Kau tidak berhak mengatur dan mencampuri urusanku. Kedua, kau tidak berhak tahu ke mana pun aku pergi. Ketiga, kita pergi ke kantor secara terpisah. Keempat, kau boleh masuk ke kamarku jika itu berhubungan dengan pekerjaan atau untuk menyiapkan keperluan kantor."

Jeno diam sesaat sebelum melanjutkan, "Dan terakhir, jangan berharap aku memperlakukanmu dengan baik."

Renjun menatap Jeno dengan ekspresi tenang, meskipun hatinya bergejolak. "Maaf, Tuan Jeno, tapi saya tidak bisa sepenuhnya menyetujui aturan pertama."

Jeno mengangkat alis bertanya.

"Karena itu bertentangan dengan tugas saya. Tuan Jaehyun dan Tuan Mark berpesan saya harus mengatur keperluan dan kebutuhan Anda, baik di rumah maupun di kantor," jelas Renjun dengan nada sopan namun tegas. "Itu adalah tanggung jawab saya sebagai sekretaris pribadi Anda."

Jeno menatapnya dengan dingin. "Aku tidak peduli apa yang mereka katakan. Aku tidak butuh seseorang untuk mengatur hidupku. Jadi, kau hanya perlu melakukan apa yang kuminta, tidak lebih."

Renjun menahan dirinya untuk tidak mengomel. "Tuan Jeno," katanya lembut namun dengan penekanan yang tersirat, "Saya di sini untuk membantu, bukan untuk mengganggu. Saya tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda, tetapi tugas saya adalah memastikan semua kebutuhan Anda terpenuhi, seperti yang diminta oleh keluarga Anda."

Jeno menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Renjun dengan pandangan penuh pertimbangan. "Kau cukup berani untuk membantahku." gumamnya.

"Saya hanya menjalankan tugas saya, Tuan." balas Renjun. Kalau saja bukan karena Mark, dirinya tidak akan mau direpotkan dengan mengurus bayi besar seperti ini.

Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka. Akhirnya, Jeno mendengus kecil, seolah menyerah. "Baiklah," katanya dengan nada setengah enggan. "Tapi jangan berpikir ini berarti aku menyukaimu atau setuju dengan semua yang kau lakukan. Ketauhi batasanmu."

Renjun tersenyum tipis, lega karena setidaknya ia telah membuat langkah kecil menuju hubungan kerja yang lebih baik. "Saya di sini hanya untuk memastikan segalanya berjalan lancar, Tuan Jeno. Itu saja."

"Dan jangan lupakan aturan lainnya." tambah Jeno tajam.

"Tentu, selama itu tidak mengganggu tugas saya." jawab Renjun, tetap sopan.

Jeno tidak menjawab lagi, hanya kembali mengambil ponselnya dan menggulir layar, meninggalkan Renjun yang diam – diam menghela nafas lega. Malam itu mungkin hanya awal dari hari-hari panjang dan beratnya, tetapi Renjun yakin ia bisa menghadapinya.

Dalam hati ia berharap Jeno tidak terlalu sulit untuk dihadapi atau dirinya akan berubah menjadi singa jantan dan mengomeli bossnya itu sepanjang hari.

Renjun mengikuti langkah pelayan menaiki tangga menuju kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya selama tiga bulan ke depan. Kamar tamu itu terletak di lantai dua, tepat berseberangan dengan kamar Jeno. Saat pintu dibuka, ia mendapati ruangan yang nyaman dengan nuansa krem lembut, dilengkapi tempat tidur besar dan balkon kecil yang menghadap ke taman belakang.

"Terima kasih." kata Renjun kepada pelayan sebelum menutup pintu.

Setelah meletakkan barang-barangnya, ia segera membersihkan diri. Air hangat membantu mengusir rasa lelah setelah hari yang panjang. Setelah mandi, Renjun mengganti pakaiannya dengan piyama bergambar Moomin yang terlihat sangat menggemaskan saat dia pakai.

Renjun menatap pantulan dirinya di cermin sejenak, tersenyum kecil menganggumi betapa tampan dan keren dirinya. Setelahnya turun ke bawah untuk memastikan Jeno sudah makan malam.

Di ruang keluarga, Jeno masih duduk santai di sofa dengan wajah datar. Ponselnya tergeletak di meja, dan pria itu terlihat sibuk membaca sesuatu di layar tablet.

"Tuan Jeno." sapa Renjun dengan sopan, berdiri beberapa langkah dari sofa. "Apa Anda sudah makan malam?"

Jeno meliriknya sekilas, lalu menjawab dengan nada malas. "Aku sedang tidak bernafsu untuk makan."

Renjun menatapnya dengan khawatir. "Tapi Tuan, Anda harus makan. Itu tidak baik untuk kesehatan Anda jika melewatkan makan malam."

Jeno mendengus, seolah keberatan dengan perhatian yang diberikan. Dirinya tidak selemah itu, jatuh sakit hanya karena tidak makan malam. "Aku tidak berselera."

Renjun berpikir sejenak, lalu mencoba membujuk. "Bagaimana jika saya membuatkan sesuatu yang Anda suka? Apa yang ingin Anda makan?"

Jeno menatapnya, lalu mengangkat bahu. "Miyeok guk dan bulgogi. Aku sedang ingin itu."

Renjun tersenyum lega. Setidaknya, bossnya mau makan sesuatu. "Baik, akan saya buatkan." jawabnya, siap melangkah ke dapur.

"Suruh saja pelayan membuatnya." kata Jeno, tanpa niat untuk bangkit dari sofa.

Renjun menoleh dan menggeleng kecil. "Biar saya saja, Tuan. Kasihan pelayan, mereka pasti sudah lelah setelah menyiapkan hidangan sebelumnya."

Jeno mengangkat alis, sedikit terkejut dengan jawaban itu. "Terserah." katanya akhirnya, sebelum kembali fokus pada tabletnya.

Renjun segera menuju dapur, mengenakan apron yang tergantung di dinding. Ia mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat miyeok guk dan bulgogi. Walaupun ia bukan koki profesional, Renjun cukup percaya diri dengan kemampuan memasaknya.

Sekitar 30 menit kemudian, aroma sedap miyeok guk dan bulgogi memenuhi dapur. Renjun dengan hati-hati membawa makanan itu ke meja makan. Ia kemudian menghampiri Jeno lagi di ruang keluarga.

"Tuan Jeno, makanan Anda sudah siap di meja."

Jeno memandang Renjun sejenak, lalu bangkit dengan langkah santai menuju meja makan. Ia duduk dan memandang makanan yang tersaji. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai menyendok miyeok guk ke mangkuknya.

Renjun berdiri tidak jauh, memperhatikan dengan senyum kecil.

"Rasanya lumayan." gumam Jeno akhirnya setelah beberapa suap.

Renjun tertawa kecil. "Terima kasih. Saya senang Anda menyukainya."

Jeno tidak menanggapi lagi, hanya melanjutkan makannya. Dalam hati, Renjun merasa puas. Setidaknya, ia berhasil membuat boss barunya makan malam ini.

"Duduklah dan makan." perintah Jeno.

Tanpa membuang waktu Renjun segera duduk dikursi paling ujung, cukup jauh dari Jeno. Dirinya juga sudah sangat lapar sejaktadi.

TBC

Boss & Baby | NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang