Chapter 1O

4.9K 623 24
                                    

vote & comment juseyo, gomawoo
Selamat membaca
.
.

Pagi itu, aroma harum masakan menguar dari dapur rumah Jeno. Renjun sibuk memasak sarapan untuk ketiga pria di rumah itu. Nasi goreng kimchi, roti panggang, sosis, dan beberapa makanan pendamping lainnya sudah tersaji rapi di meja makan. Ia merasa harus menjamu Jaemin dan Haechan dengan baik setelah mereka memutuskan untuk menginap semalam.

Tak lama setelah meja makan siap, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ketiga pria itu—Jeno, Jaemin, dan Haechan—muncul hampir bersamaan, dengan Jaemin dan Haechan tampak lebih ceria dibanding Jeno yang masih memasang wajah datarnya.

"Wow, Renjun, kau benar-benar sempurna." puji Jaemin sambil mengambil tempat duduknya. "Pagi-pagi sudah menyiapkan semua ini. Jeno beruntung sekali punya sekretaris sepertimu."

Haechan mengangguk setuju sambil mengangkat garpu. "Sepertinya aku harus sering-sering menginap di sini. Sarapan seperti ini rasanya lebih nikmat daripada di restoran."

Renjun hanya tersenyum kecil mendengar pujian mereka. Namun, dia tidak bisa menahan sedikit rasa bangga.

Mereka mulai menikmati makanan dengan khidmat. Suasana hening dan nyaman itu tiba-tiba pecah ketika suara Jeno terdengar.

"Setelah makan, kalian pulang saja." ujar Jeno dengan nada datar, namun tegas.

Jaemin dan Haechan langsung mendongak, menatap sahabat mereka dengan ekspresi terkejut.

"Kenapa begitu?" tanya Jaemin sambil mengangkat alis. "Kami belum selesai bersenang-senang di sini."

"Iya," timpal Haechan dengan mulut penuh roti. "Aku bahkan belum merencanakan perjalanan hari ini."

Namun, protes mereka langsung mereda begitu melihat tatapan tajam Jeno yang tidak memberikan ruang untuk penolakan. Mereka hanya saling melirik dengan pasrah, tahu bahwa mencoba membujuk Jeno adalah pekerjaan yang sia-sia.

Renjun, yang duduk di ujung meja, merasa sedikit kecewa. Jika Jaemin dan Haechan pulang, dia harus kembali menghabiskan waktu hanya dengan Jeno. Bosnya itu tidak seru, hanya sibuk bekerja dan jarang menunjukkan sisi manusiawinya.

"Baiklah, Tuan Lee. Kami akan pergi." ujar Jaemin dengan nada bercanda, meskipun jelas dia kesal.

"Tapi ingat," tambah Haechan sambil menunjuk Jeno dengan garpu, "kami akan sering-sering ke sini. Jadi kau tidak bisa menghindar dari kami."

Jeno hanya mendengus pelan sambil melanjutkan makanannya, seolah tidak peduli.

Setelah sarapan selesai, Jaemin dan Haechan benar-benar pergi seperti yang diminta. Sebelum melangkah keluar, Jaemin sempat menepuk bahu Renjun.

"Sabar ya," bisiknya pelan. "Kalau bosmu terlalu membosankan, hubungi aku. Aku pasti datang menjemputmu."

Renjun tertawa kecil mendengar lelucon Jaemin, meskipun dalam hati dia setuju dengan ucapan itu. Saat pintu tertutup, meninggalkan hanya dirinya dan Jeno di rumah, dia merasa suasana kembali monoton.

Jeno, yang kini berdiri di ruang tamu, menatap Renjun sambil berkata datar, "Kita akan pergi, bersiaplah."

Renjun berdiri di ruang tamu, menatap Jeno dengan alis terangkat. "Kau serius ingin pergi?" tanyanya, ragu. Hari libur seperti ini biasanya Jeno akan terkurung di ruang kerja, sibuk dengan dokumen atau rapat daring.

Jeno mengangguk singkat. "Aku bilang bersiaplah. Jangan banyak bertanya. Pakailah pakaian santai." ucapnya datar.

Meski masih setengah malas, Renjun akhirnya menurut. Beberapa menit kemudian, ia muncul mengenakan kaus putih bergaris biru muda dan celana pendek khaki. Penampilannya sederhana namun segar, cocok dengan kepribadiannya yang ceria.

Boss & Baby | NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang