"Jadi kau membiarkannya pergi begitu saja?" Terlihat Ino sedang berkacak pinggang, berteriak pada Shikamaru. Dada Ino naik turun menahan amarah sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Dia yang ingin pergi Ino." Jawab Shikamaru acuh. Hari ini Shikamaru memutuskan untuk kembali melakukan pekerjaannya di kantor. Orang-orang pasti berpikir selama ini dia lebih memilih bekerja dari rumah karena ingin selalu bersama Nana putrinya, Temari istrinya yang baru kembali dan Dai anak mereka yang baru saja masuk sekolah.
Mereka memang benar tapi bukan hanya itu alasan Shikamaru memilih bekerja dari rumah, yang tidak orang tau bahkan yang hatinya sangkal adalah alasan terbesarnya yang sebenarnya adalah Hinata.
Bukan, bukan karena dia takut Hinata akan membeberkan perselingkuhan mereka. Hanya saja akhir-akhir ini dia sangat ingin selalu melihat Hinata. Dan kini Hinatanya sudah pergi, sudah tidak ada alasan yang kuat baginya untuk melakukan pekerjaan dirumah.
Mulai tadi pagi Shika merasakan sangat gelisah, dia sangat merindukan dan sangat ingin bertemu Hinata, belum lagi mual yang menyiksanya mulai jam 4 subuh hari tadi.
Lihat saja bibir dan wajahnya yang pucat karena sampai sekarang dia belum berhasil memasukkan sesuatu kemulutnya, hanya mencium sesuatu yang berbau saja sangat bisa membuat dia mual dan ingin muntah.
"Kenapa kau membiarkan dia pergi bajingan..."
"Ino tenanglah..." Sai memeluk Ino untuk menahannya dari menerjang tubuh Shikamaru.
"Kau baik Shika?" Tanya Sai saat melihat Shikamaru mengistirahatkan kepalanya diatas meja yang dipenuhi dengan tumpukan kertas yang perlu diperiksa dan ditanda tangani.
Ino menyadari wajah pucat Shika sedari tadi. Tapi kemarahannya membuat dia seolah tidak peduli pada sahabat baik nya itu.
"Teruslah jadi bodoh bajingan, kau akan menyesal nanti." Kesal Ino sambil pergi dari sana dengan keadaan yang masih sangat marah.
***
2 tahun kemudian.
"Makanlah." Shino meletakkan bungkusan makanan diatas meja Shikamaru.
"Aku tidak lapar" Jawab Shikamaru masih tidak terganggu sedikitpun dari fokusnya pada kertas-kertas didepannya.
"Kau ingin mati kelaparan.?" Kiba datang dan mengambil dengan sedikit rampasan kertas-kertas dihadapan Shikamaru.
Shikamaru yang merasa sangat kesal karena merasa terganggu menatap Kiba dengan tatapan penuh amarah.
"Makanlah, kalau kau tidak ingin masuk rumah sakit lagi." Choji memegang pundak Shikamaru untuk menenangkan.
"Aku tidak akan mati hanya karena masuk rumah sakit." Shika menyenderkan kepalanya ke kursinya dan menutup matanya.
"Hah.. kau tidak lupakan lau hampir mati sudah berapa kali? Perlu kuingatkan?" Kesal Sai.
"Pertama kau dirawat dirumah sakit tidak sadarkan diri selama seminggu karena kelelahan bekerja dan kurang nutrisi."
"Kedua, kau tidak sadarkan diri 2 minggu karena kecelakaan akibat mengantuk karena berhari-hari tidak tidur."
"Ketiga, kau tidak sadarkan diri 3 hari akibat menghabiskan hampir se-sumur alkohol padahal kau sudah berhari-hari tidak makan apa-apa."
Sai emosi, entah sudah beberapa kali mereka dibuat jantungan dan takut kehilangan, saat dalam 2 tahun belakangan ini entah sudah berapa kali Shika selalu masuk rumah sakit. Mereka sangat was-was setiap kali menerima panggilan masuk dari keluarga Shikamaru atau dari nomor tidak dikenal. Takut-takut kalau Shikamaru kembali kenapa-napa lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[End] Its You
Fiksi Penggemarhanya tentang hyuga hinata dan nara shikamaru yang bertemu saat mereka sama-sama takut untuk mencintai lagi @credit pada semua pemilik picture yang aku gunakan di book ini tanpa izin.
![[End] Its You](https://img.wattpad.com/cover/365557885-64-k187557.jpg)