Part 24

415 39 2
                                        

"Anikiiiii..."

"Anikiiii..."

"Anikiiii.."

Boruto terlihat berlari kesana kemari tanpa henti, bahkan terkadang dia melompat-lompat dan tiarap lalu berguling dilantai seperti sedang latihan tembak-menembak.

Terkadang juga dia lewat dari depan Dai sambil menarik-narik tangan Dai, menutup lembaran buku terbuka yang sedang dibaca Dai dan bahkan banyak lagi yang dia lakukan untuk menarik perhatian Dai yang sedari tadi mengacuhkannya dan fokus membaca.

"Dai berhentilah mengganggu Aniki mu." Seru Hinata lembut.

"Tapi Aniki tidak mau bermain denganku mom." Boruto merajuk sambil bersedekap dada.

"Bukan nya tidak mau sayang, Aniki mu kan sedang belajar. Jadi Boruto main sendiri dulu ya.

"Huh.. Aniki lebih sayang buku daripada Boruto." Drama Boruto sambil pura-pura menunduk sendu.

Ucapan Boruto membuat Dai mengalihkan pendangannya ke arah Boruto, dan puppy eyes Boruto tentu saja membuatnya luluh.

"Yasudah ayo." Dai mengajak sambil menggenggam tangan Boruto,  membuat Boruto melompat-lompat kegirangan.

"Tuh kan jatuh." Boruto hanya tersenyum lebar saat melihat Dai yang khawatir membantunya berdiri. Ya, dia baru saja jatuh terduduk saking semangatnya melompat-lompat. Setelah itu mereka berjalan bergandengan tangan ke sudut ruangan tempat tumpukan mainan mereka.

"Shika-kun..."

"Masih tidak ingin bangun hmmm?"

"Kau sangat marah yah padaku?"

"Hufhhh"

"Padahal aku sudah memberi hadiah yang sangat indah untuk mu."

"Putri kita."

"Kau tidak ingin menggendong putri kita?"

"Kau sudah melihatnya kan? Dia sangat cantik dan sangat mirip denganmu."

"Kau tau?"

"Boruto dan Dai benar-benar seperti saudara kandung."

"Sepertinya semua kedekatan mereka 2 tahun lalu sangat membekas dalam ingatan mereka."

"Kau tau? Boruto mengira kau adalah ayahnya, dan dia sangat mengidolakan Dai. Dia selalu mengganggu Dai agar bisa bermain bersamanya."

"Kau tau? Aku kesal padamu. Aku baru tau kalau Dai lompat kelas lagi ke SMP ya? Dia bahkan akan mengikuti beberapa olimpiade tingkat SMA minggu depan."

"Bangun lah sayang, kau tau sebulan  lalu, saat aku bertemu Dai lagi, dia menangis sangat menyedihkan sambil menyebut-nyebut mu."

"Dai sangat menghawatirkanmu. Tolong bangunlah."

"Kau tau? Ayah dan ibumu juga terlihat sangat kurus sekarang sangat terlihat jelas guratan kegelisahan dan ketakutan diwajah mereka."

"Shika kun, kau jahat sekali tidak membiarkan Temari membalasmu. Dia kesal karena kau belum bangun-bangun, padahal dia ingin membalasmu dengan memamerkan pernikahannya dengan Chojuro. Hehehe"

"Bangunlah sayang, mereka bahkan jadi menunda pernikahan mereka untuk menunggumu bangun dulu."

"Shika-kun, apa yang menahanmu? Kenapa kau tidur selama ini.?"

"Sepertinya aku ga sespesial itu ya, kukira dengan keberadaanku disisimu itu akan membuatmu lebih cepat bangun. Tapi sepertinya kau masih sangat ingin menyiksaku."

Seperti biasa Hinata selalu berbicara pada Shika. Dengan berbagai macam ekspresi dan nada suara, tergantung dengan apa yang sedang dia ceritakan.

Kadang dia tertawa kadang menangis, kadang kesal, cemberut, kadang dia juga bercerita dengan heboh.

[End] Its YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang