Part 23

395 51 3
                                        

Entah sudah berapa banyak Hinata menangis sambil menggenggam tangan Shikamaru. Temari membawanya ke ruangan Shikamaru setalah Hinata tidak jadi pergi.

Hinata sampai jatuh terduduk sesaat setelah melihat kondisi Shikamaru. Sangat kurus dengan tubuh hampir penuh dengan perban.

"Ibu, ayah kenapa. Ibu kenapa ayah berbaring ditempat tidur dengan penuh luka?" Boruto memeluk Hinata sambil ikut menangis, sedangkan Shina kini telah berpindah kegendongan Temari.

Tidak, bukan baru sekarang Hinata tau kalau Boruto menganggap Shikamaru ayahnya.

Pernah suatu hari Toneri meminta Boruto memanggilnya ayah, tapi ditolak cepat dan tanpa ragu oleh Boruto.

"Bolt.. ayolah panggil jiisan ayah."

"Tidak mau."

"Nanti jiisan belikan mainan banyak."

"Tidak mau."

"Beli ice cream banyakkk."

"Tidak mau."

"Jiisan bawa jalan-jalan."

"Tidak mau."

"Kenapa Bolt ga mau memanggil jiisan, ayah?"

"Karena jiisan bukan ayah Bolt."

"Tapi jiisan bisa jadi ayah nya Bolt."

"Tidak perlu, Bolt punya ayah kok."

"Benarkah?"

"Ia, ayahnya Bolt sangat tampan, tinggi, gagah, rambutnya selalu dikuncir keatas, matanya hitam tajam. Aromanya sangat enak, seperti permen mint yang sering dimakan ibu."

Saat itu Toneri smirking kearah Hinata, seperti nya dia tau kenapa Hinata sering memakan permen rasa mint, ternyata karena dia merindukan aroma pria yang dia cintai itu.

Sementara itu Hinata yang gelagapan menghindari tatapan Toneri. Dia sudah cukup kaget saat itu, mengetahui betapa Boruto mengingat Shikamaru dengan sangat detail. Padahal Boruto masih sangat kecil waktu itu, mungkin karena kehangatan yang selalu dia rasakan saat Shikamaru menggendongnya, membuat Boruto kecil yang memang belum pernah bertemu ayah kandungnya jadi menganggap Shikamaru adalah ayahnya.

"Aku sangat merindukan Dai" Ucap Hinata sendu sambil terus menggenggam tangan Shikamaru, Bolt sudah tidur disamping kanan Shika dan Shina ada di sebelah kiri Shika.

"Dia juga merindukanmu. Aku jarang membawanya kesini karena walaupun dia tidak menangis disini, tapi dia akan menangis sepanjang malam setelah pulang dari sini." Jawab Temari sendu.

"Dai sangat mencintai ayahnya." Cicit Hinata.

"Ia, dia sangat mencintai ayahnya." Temari membenarkan.

"Dia sangat mencintaimu juga." Ucap Hinata yang membuat Temari menoleh kearahnya.

"Saat kepergianmu, walaupun kami menjadi dekat, tapi dia selalu berbicara tentangmu. Aku pernah berfikir jahat untuk merebut hatinya, agar saat kau kembali, dia akan lebih memilihku daripadamu. Tapi sikap Dai selalu menamparku, bahwa seberapa besar dan sebanyak apapun aku berusaha, aku tidak akan pernah bisa merebut tempatmu dihati Dai. Kau selalu ditempatkan ditempat paling special di hidup Dai."

"Ternyata kau tidak sebaik yang kelihatan ya." Kata Temari sambil terkekeh, namun dia tidak bisa tidak merona saat Hinata mengatakan kalau dia adalah ibu, wanita paling spesial dihidup Dai, yang tidak akan tergantikan oleh siapapun.

[End] Its YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang