Ps....
Ini hanya karangan semata, alur dari anime asli nya hanya secuil...
Characters yang ada itu milik Mr. Masashi Kishimoto.
Dibuat untuk mengisi kegabutan, apalagi terlalu banyak membaca fanfic Naruto Sasuke..
So, let's reading...
#................#
Sebuah kotak kecil bercorak kayu kini tergenggam di tangan Naruto. Bunshin darahnya baru saja sampai dan memberikan benda tersebut.
Senyum lebar Naruto terbit saat dia membuka kotak kayu tersebut, menampilkan bentuk sebuah gelang indah berbentuk helaian daun berwarna keperakan diselingi mutiara hitam. Dia perhatikan bahwa pengait kecilnya dibentuk sedemikian rupa hingga nampak menyatu dengan dua bentuk daun. Di bagian tengah, kepingan perak yang memiliki fisik seperti butiran salju dengan garis-garis tipis dan ujung-ujung runcing namun tidak tajam sehingga bisa melukai tampak berkilau, membuat gelang kecil itu terlihat lebih indah. Gelang ini sesuai dengan bayangan nya.
Lalu dua buah kalung.
Tunggu, kenapa ada dua?
"Kenapa kalungnya ada dua?" tanya nya pada si kloning.
"Lihat dulu lah, baru kau akan tau, Taichou."
Naruto mengangkat kedua kalung tersebut. Dan akhirnya dia mengerti kenapa kalungnya ada dua. Batu ruby yang menjadi bandul kalung itu masing-masing diukir dengan bentuk wajah dirinya dan Sasuke. Ukiran nya halus. Warna nya indah. Ini spesial!!
"Bagaimana, bagus kan??" Si pirang tiruan menyeringai, dibalas seringai yang sama dari aslinya.
Si pirang hendak mengusir kloning darah nya, tapi tidak jadi sebab tatapan mata yang berubah memelas dari si Bunshin karena tau kalau Naruto akan mengusir nya. Sok memelas nya itu membuat bola mata Naruto berputar malas.
"Ya sudah, sana temani Sasuke. Kebetulan aku harus keluar," ucapnya, tau apa yang diinginkan si Bunshin. Yah, tentu saja dia tau. Kloning darah itu kan pada dasarnya adalah dia sendiri.
"Ha'ik!!" seru si Bunshin semangat.
"Katakan padanya, aku keluar dulu."
"Siap boss!!"
Si Bunshin ber-shunshin ke tempat Sasuke, sementara Naruto pergi dari rumah.
Begitu tiba di jalan setapak sekitar satu km dari rumahnya, dia membentuk hampir lima belas tiruan berkepala durian, lantas menyebar mereka untuk mencari para rekan seangkatannya, dan beberapa kebutuhan untuk nanti malam. Dia sendiri pergi ke gedung Hokage.
Sapaan dari para warga maupun Shinobi yang ia lewati terdengar, hanya ia balas senyum tipis. Sampai di kantor Hokage yang ada di pusat Desa, dia segera masuk ke dalamnya.
"Yoo, Kakashi Sensei," sapa Naruto setengah berteriak, tak lupa gebrakan keras yang menyebabkan pintu terbanting.
"Aish, Naruto! Kebiasaan sekali kau!" Kakashi berseru, "jangan selalu merusak pintu, coba," lanjutnya dengan mata menyipit. Tapi dia senang melihat Naruto yang ekspresi nya cerah. Selalu aneh rasanya saat dia mengingat murid pirang nya itu tak memiliki senyum dan semangat setelah perang.
"Hehehe," Naruto hanya nyengir.
Beberapa obrolan tercipta di antara keduanya, diakhiri undangan Naruto kepada Kakashi agar nanti malam datang ke rumahnya.
"Ada apa memang? Tidak biasanya kau mengundang ku sok resmi begini."
"Yah, tidak ada apa-apa sih. Hanya kumpul biasa, karena nanti malam tanggal kelahiran Sasuke."
"Oh, perayaan ulang tahun Sasuke," Kakashi mengangguk-anggukkan kepala, "tentu saja aku akan datang. Tidak mungkin kegiatan penting muridku akan ku lewatkan."
"Kalau begitu aku pergi ya, Sensei,"
"Loh, cepat sekali?"
"Ya kan, bukan kau satu-satunya yang penting untuk ku temui sekarang. Aku masih harus bertemu Iruka Sensei. Jaa, Kaka-Sensei," Naruto langsung pergi.
Kakashi hanya mengangkat bahu acuh saat si pirang hilang dalam pusaran angin.
Naruto muncul beberapa waktu kemudian di depan rumah Iruka, tapi tidak ia rasakan tanda chakra si lelaki chunnin di sana. Keningnya berkerut sejenak, berpikir kira-kira di mana guru kesayangannya kini berada.
"Ya ampun," Naruto menepuk keningnya keras, "Sensei pasti sekarang sedang mengajar di akademi. Cih, dasar pirang pelupa!" kesalnya pada diri sendiri.
Tanpa menunggu waktu lagi, dia kembali ber-shunshin pergi, kali ini tujuan nya adalah akademi tempat dia dulu belajar dasar-dasar pengetahuan. Yah, walaupun dia lebih sering membuat ulah sampai-sampai Iruka dulu harus sering melakukan Jutsu kepala besar nya, haha.
Naruto hanya bersandar di pohon besar yang berada di halaman akademi, kedua tangannya terlipat di depan dada. Kebetulan sebentar lagi akademi akan segera bubar, jadi dia tidak perlu berlama-lama menunggu.
Suasana tenang akademi ninja Konoha itu sedikit membuatnya bernostalgia.
Dia terkekeh pelan saat ingat bagaimana perkelahiannya dan Sasuke saat kecil, mereka memang rival dari pertama kali bertemu. Dia juga ingat saat masih di tahun sebelumnya, dan pernah bertatap muka dengan tatapan dingin Neji. Yah, dia dan Neji memang pernah satu angkatan. Tolong ingatkan alasan ia mendapat gelar 'Dobe kelas' dan 'Deadlast' adalah karena tiga kali berturut-turut selalu gagal lulus dari akademi karena tidak bisa Bunshin no Jutsu.
Siapa sangka orang yang jadi pasangan bocah bertitel mati terakhir se-akademi ini adalah dua Rookie Of The Year yang sama-sama emosian dan keduanya juga adalah bagian dari klan bangsawan Konoha. Meskipun ternyata dia juga sama-sama dari klan penting, sih.
Ya kalau dipikir-pikir, rasanya dia ingin tertawa. Benar juga, baik Neji maupun Sasuke adalah murid terbaik seangkatan saat di akademi. Juga famous pada masanya.
Pesona seorang Uzumaki Naruto memang tidak main-main.
#........#
Iyain dah nar.
Vote and comment please 💗
Hmm, kira-kira sekitar enem eps lagi lesei ini story 🤧
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, Stay With Me {Narusasu}
Fiksi PenggemarSelepas perang dunia Shinobi yang keempat selesai, Naruto kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Hyuuga Neji. Tidak ada yang mengetahui, kalau sebenarnya dia dan Neji memiliki sebuah hubungan yang lebih tinggi dari sekadar teman belaka...
