Bab 20

1.2K 69 0
                                        

A/N : Versi PDF Under His Control (full sampai ending) bisa kalian pesan di WA : ‪+62 858‑6347‑4083‬. Selain itu, bisa dibeli juga di Google Play Books dan dukungan Karya Karsa @iamtillyd

Oh iya untuk adegan 21+ hanya ada di Karyakarsa, PDF, dan Google Play ya. Sesuai janjiku di Wattpad cukup bersih, hehe.

***

[Konten eksplisit 21+ tidak dipublikasikan di Wattpad]

Kedua mata Alessio memandang Gianna yang masih terlelap di sisinya. Dalam diam, ia menelisik dengan saksama. Gianna tampak cantik meskipun tanpa riasan di wajahnya. Hidungnya yang mungil dan mancung, bulu matanya yang lentik dan bibir gadis itu yang penuh dan merah, membuatnya terlihat sempurna di mata Alessio.

Alessio menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Gianna. Ia tanpa sadar tersenyum, mendapati Gianna yang bergerak tidak nyaman dan berlindung ke dalam pelukan Alessio.

Hatinya tidak pernah sehangat ini sebelumnya. Tapi jantung Alessio juga tidak berhenti dibuat berdebar, mengingat tubuh mereka saling bergesekan dari balik selimut. Bukan hanya itu, pergerakan Gianna membuat kain satin itu berhenti di pinggang Gianna.

Alessio kau adalah bajingan tidak bermoral yang sangat beruntung, bisik Alessio dalam hati. Bercak merah tercetak jelas di kulit Gianna; di bagian dada, pundak, sisi dadanya, tapi Alessio sengaja melewati bagian leher. Gadis itu masih sekolah dan Alessio akan 'menjaganya'. Tentu saja ia tidak boleh melakukan kesalahan seperti kemarin malam.

Alessio menarik selimut satin di tubuh mereka untuk menutupi dada Gianna. Terlalu pagi untuk menjadi binatang liar yang menikmati mangsanya. Semalam, Alessio telah membuat gadis itu mengerang di bawah kuasanya bukan hanya satu kali.

Kau harus memberinya waktu untuk beristirahat, Alex, bisik batinnya.

"Ugh..." Suara lenguhan Gianna yang bergerak ke dalam tubuh Alessio membuat Alessio terpaku.

Alessio yang semula nyaris beranjak menahan diri. Memastikan Gianna kembali terlelap. Namun, gadis itu membuka kedua matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya. Raut wajah Gianna yang bingung membuat Alessio menahan kekehan dan hanya mengulaskan senyuman.

"Uncle A-Alex?"

"Selamat pagi, sayang," bisik Alessio.

Gianna menelisik Alessio dengan saksama. Lalu semburat merah menghiasi kedua pipinya—seakan baru saja menyadari apa yang terjadi di antara mereka.

"Pagi, Uncle," balas Gianna serak.

"Oh God... aku lebih suka saat kau memanggilku Alessio seperti semalam," sindir Alessio halus membuat Gianna menggigit bibir bawahnya.

"Aku tidak mungkin memanggilmu seperti itu."

Alessio menghalau Gianna yang nyaris menggigit bibir bawahnya dengan mencium gadis itu. Ia menenggelamkan bibirnya sejenak, memberikan lumatan sekilas dan merasakan Gianna membalas dengan lembut.

"Kau bisa memanggilku dengan namaku ketika kita berdua," bisik Alessio di depan bibir Gianna.

"Alessio," ucap Gianna.

Alessio tersenyum kecil. Ia kembali mencium bibir Gianna dan menggigit pelan bibir bawah gadis itu. Saat ciuman mereka terasa kian intens, Alessio seketika merubah posisi mereka. Ia berada di atas tubuh Gianna dan tampak mendominasi—memegang kendali ciuman mereka sementara Gianna mengikuti tempo.

"Ja-jam berapa sekarang?" Gianna menahan pipi Alessio untuk tidak menciumnya kembali.

"Lima pagi, Amore Mio," jawab Alessio serak. "Kita masih memiliki banyak waktu."

Jemari Gianna bergerak mengusap pipi Alessio. Alessio membalas tatapan gadis itu dan seketika menyadari bahwa mata Gianna tampak sembab. Ia mengingat bagaimana Gianna menangis pada awalnya, meskipun diakhiri dengan percintaan panas, Alessio mendadak merasa menyesal.

"Maafkan aku," bisik Alessio.

Alessio beranjak menjauh dari tubuh Gianna. Tanpa menyadari bahwa Gianna tampak kecewa karena terpaksa harus melepaskan tangannya menyentuh rahang Alessio.

"Kau pasti merasa kesakitan semalam dan aku tetap memaksakan kehendakku." Alessio berdeham, "maafkan aku, Amore Mio. Aku benar-benar tidak sabar."

"Maafkan aku—"

"Berhenti meminta maaf." Alessio melihat Gianna beranjak bangkit dari posisinya. Gianna mendekap selimut untuk menutupi dadanya dan duduk di hadapan Alessio. "Pada awalnya, aku memang merasa kesakitan. Tapi aku baik-baik saja sekarang."

Gianna mengecup bibir Alessio sekilas. Raut wajah gadis itu tampak malu-malu saat menjauh.

"Kenapa kau menciumku?" bisik Alessio dengan senyuman menggoda.

"Eh?" Gianna mengerjap, "a-aku ... aku hanya ingin membuatmu merasa lebih baik, berhenti menyesal dan meminta maaf."

Alessio merangkak naik ke atas ranjang. Ia menjauhkan jemari Gianna yang mendekap selimut di depan dadanya lalu membawa Gianna ke atas pangkuannya. Gianna memekik pelan dan melingkarkan lengannya di leher Alessio.

"Alessio, aku malu. Selimutnya—"

"Aku sudah melihat dan merasakan setiap jengkal tubuhmu dengan baik, Amore Mio." Alessio berbisik dengan serak, "dan bukan seperti itu caranya untuk membuatku merasa lebih baik."

"A-aku tidak tahu."

"Buat aku memanggil namamu, lakukan dengan caramu, Amore Mio."

TBC

Under His Control (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang