A/N : Versi PDF Under His Control (full sampai ending) bisa kalian pesan di WA : +62 858‑6347‑4083. Selain itu, bisa dibeli juga di Google Play Books dan dukungan Karya Karsa @iamtillyd
***
Menikah? Alessio melamarnya?
Gianna perlu memastikan berulang kali—dengan menatap kedua mata Alessio—tapi dia tidak mendapatkan apapun di sana. Selain, Alessio yang menunjukkan ketulusannya. Alessio terlihat menantikan jawaban dari Gianna penuh harap, seakan-akan apa yang pria itu lakukan hari ini—menyematkan cincin di jari Gianna—adalah sesuatu yang membuatnya sangat gugup.
Ketika Gianna akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban telak, bukan hanya Alessio yang tampak begitu senang mendengarnya. Perasaan Gianna sendiri membuncah. Ia tidak dapat menahan air matanya yanh terjatuh hingga Alessio terus bertanya, apakah pria itu mungkin menyakitinya.
Tidak, bukan ... Gianna bahagia.
Dulu Gia selalu berkhayal bahwa hanya Alessio-lah yang akan menjadi pemenang hatinya. Meskipun hal itu terdengar tidak mungkin, Gianna akan terus menutup rapat hatinya dari pria lain. Tapi...
Oh God ... dia akan menjadi istri Alessio—mimpinya menjadi kenyataan.
Gianna mengulurkan tangan ke udara, menatap cincin bermatakan berlian yang disematkan Alessio di jarinya semalam. Lalu senyuman di bibir Gianna tanpa sadar merekah. Pandangannya turun pada Alessio yang masih terlelap.
Dilingkupi perasaan yang masih menggebu, Gianna menunduk, mencium bibir Alessio sekilas dan mengusap helaian rambut pria itu yang berantakan.
Gianna segera menjauhkan tangannya dengan panik saat Alessio membuka matanya perlahan.
"Selamat pagi, Amore Mio," bisik Alessio serak.
"Se-selamat pagi," balas Gianna salah tingkah.
Alessio memejamkan matanya dan berkata dengan serak, "kau bisa melanjutkan 'acaramu' yang sangat menyenangkan dan aku akan tidur kembali."
Pupil mata Gianna membesar. Semburat merah di pipinya kian menyebar. Hingga Gia rasa, sekarang seluruh rasa malunya membuat tubuhnya juga ikut memanas.
"A-apa maksudmu..." Gianna tergagap, "acara menyenangkan apa. Hm... aku tidak mengerti apa yang kaumaksud."
"Aku tidak tahu, hanya kau yang tahu," goda Alessio serak.
Gianna memekik pelan merasakan lengan Alessio menarik pinggangnya. Alessio membuat selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka terjatuh sampai pinggang. Kulit mereka yang tak terbalut apapun—saling bersentuhan satu sama lain—kala Alessio membawa Gia ke dalam pelukannya.
"Aku milikmu, Amore Mio. Kau bisa melakukan lebih dari sekadar kecupan jika kau mau," bisik Alessio di puncak kepalanya.
"Alessio..."
Oh tidak...
Gianna menahan napas merasakan puncak dadanya menggesek perut Alessio. Sentuhan di antara mereka yang tanpa pembatas, bukan hanya membuat jantung Gianna berdebar cepat karena terkejut, darahnya seketika ikut berdesir seakan mengantisipasi 'sesuatu'.
"Selimutnya," bisik Gianna dengan pipi memerah. "Alessio..."
"Apa aku tidak membuatmu merasa cukup hangat?"
Alessio menjauhkan tubuhnya sedikit hingga Gianna dapat menengadah untuk menatapnya. Gianna menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.
"I-itu ... bisa kaulepaskan pelukannya? Aku—ke-kenapa kau hm..."
Gianna membelalak merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Ia mendadak panik seketika. Rasa malu sekaligus berdebar di dalam diri Gianna kian tidak terkendali. Namun, Alessio tampak santai dan hanya terkekeh pelan.
"Ada apa Amore Mio?" tanya Alessio terdengar tanpa dosa.
"Menjauh dariku," cicit Gianna tercekat. "Kau—kenapa kau seperti itu lagi?" pekik Gianna tanpa sadar.
Alessio tertawa renyah, "itu? Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan."
Alih-alih menjauh, Alessio memeluk Gianna kian erat. Gesekkan puncak dada Gianna dan perut pria itu membuat Gianna mengerang pelan.
"Alex," protes Gianna.
"Aku pria yang normal, sayang. Lagipula ini masih pagi—"
"Menjauh," Gianna memberengut.
"Tidak bisa." Alessio berdeham pelan, "aku ingin memelukmu. Aku harus memastikan bahwa pagi ini bukan mimpi."
Tatapan Gianna yang semula penuh protes kini meredup. Tawa Alessio juga telah berhenti. Mereka saling bertatapan dengan jemari Alessio yang perlahan menyusuri punggung telanjang Gianna perlahan.
Gerakan jari pria itu memberikan desiran yang membuat Gianna meremang. Alessio menunduk; Gianna memejamkan mata. Tapi pria itu mendaratkan kecupannya di bahu Gia yang halus, bukan di atas bibirnya.
"Gia, aku pria yang sangat tidak romantis bukan?" Alessio berbisik dalam, "aku bahkan tidak memberikan cokelat dan hiasan yang indah semalam. Aku rasa aku sudah gila karena jatuh cinta padamu, aku sangat tidak sabar untuk terus menyimpan cincin itu terlalu lama."
"Setiap malam, aku merasa cemas dan takut apakah kau mungkin akan menolakku. Aku baru saja kehilangan akal sehatku karena tidak memberikan hal yang sepatutnya kau dapatkan—"
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Apa aku bahkan pantas mendapatkanmu dengan perjuangan aneh seperti itu?"
"Aku sangat bahagia," bisik Gianna malu-malu. "Kau telah memberiku banyak hal romantis selama ini, dimana aku selalu memikirkannya secara demikian. Meskipun aku tidak tahu apakah kau melakukannya karena menyayangiku sebagai keponakanmu atau—"
"Tentu saja aku melakukannya karena aku sadar aku jatuh cinta padamu, Gia." Alessio mengecup puncak kepala Gianna sekilas, "aku selalu ingin membuatmu tersenyum."
"Haruskah aku melamarmu lagi dengan tuksedo dan makan malam mewah?"
Gianna tertawa pelan. Gadis itu menggeleng lalu berkata, "aku sudah merasa lebih baik ketika kau bilang kau menyimpan cincinnya terlalu lama. Bukankah kau mencintaiku saja sudah cukup?"
"Ya Tuhan, aku brengsek."
"Tidak—"
"Aku melamarmu setelah bercinta."
Pipi Gianna bersemu, "jangan mengatakannya—"
"Amore Mio..." Alessio memanggut bibir Gianna dengan lembut, Gianna membalas ciuman Alessio dan memberikan pria itu ruang berguling ke atas tubuhnya. "Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu, Amore Mio," ulang Alessio.
Jemari Gianna menelusuri helaian rambut Alessio, di antara ciuman mereka ia tersenyum dan menjawab lirih.
"Aku juga, aku mencintaimu, Alessio."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Under His Control (END)
RomanceSUDAH PERNAH TAMAT DI WATTPAD DAN TELAH DITERBITKAN DI GOOGLE PLAY BOOKS. Sejak remaja, Gianna Gattani selalu mengagumi pamannya-Alessio Gattani-dan menganggap perhatian lembut Alessio sebagai bentuk perasaan mereka yang sama. Tak peduli Gianna adal...
