A/N : Versi PDF Under His Control (full sampai ending) bisa kalian pesan di WA : +62 858‑6347‑4083. Selain itu, bisa dibeli juga di Google Play Books dan dukungan Karya Karsa @iamtillyd
***
"Selamat, Alessio Gattani. Kerja kerasmu membuahkan hasil karena beberapa investor tampaknya melihat peluang dari idemu."
"Mereka memutuskan untuk terus berinvestasi dan membantu perilisan produk pertamamu. Bukan hanya itu, salah satu stasiun TV bersedia untuk mempromosikannya di acara TV mereka."
Alessio mendengarkan penjelasan Romero Moretti—Ayah dari Saverio Moretti—yang selama ini membantunya di Gattis Food. Kabar bahagia tersebut berhasil membuat Alessio tersenyum. Ia baru saja melewati rasa gugupnya ketika melamar Gianna semalam, dan sekarang perasaan bahagia itu kian membuncah.
"Semua berkat bantuanmu, Romero. Tanpa inovasi awal yang kauberikan dan uluran tangan perusahaan Moretti ... Gattis Food tidak akan bangkit seperti sekarang."
"Tidak, aku juga mempercayaimu. Uluran tanganku tidak akan berarti jika kau tidak bisa mengelolanya dengan baik."
"Bukan sekadar cerita belaka kemampuanmu dalam berbisnis, Alessio. Kau tidak hanya memperbaiki Gattis Food tapi juga membantuku."
Setelah membicarakan beberapa hal terkait perkembangan Gattis Food, obrolan Alessio bersama dengan Romero diakhiri dengan suksesi Gattis Food besok. Sambungan telepon kemudian dimatikan.
Alessio melangkah keluar dari ruangan kerjanya, pria itu bermaksud untuk mengajak Gianna makan siang ke luar ketika dia melihat Gianna tampak sibuk. Gianna memasukkan buku-bukunya, pakaian kotor—termasuk seragam yang kemarin dia kenakan—ke dalam paper bag, dan berusaha keras memasukan buket mawar putih ke paper bag yang berbeda.
"Apa yang sedang kaulakukan sayang?" tanya Alessio bingung.
Gianna tersentak terkejut, "kau mengagetkanku!" protesnya.
Alessio mengerutkan kening. Ia memungut salah satu tangkai bunga yang terjatuh ke lantai, memasukannya ke dalam paper bag. Gianna baru saja mencopot buket bunga yang Alessio berikan kemarin dan memecahnya menjadi tangkai-tangkai dengan bentuk aneh.
"Maaf," Gianna meringis pelan. "Bunganya terlalu besar dan tidak muat."
"Aku baru saja merusak kerja kerasmu dan membuang uang yang kau habiskan untuk ini."
Alessio memperbaiki tali spaghetti yang terjatuh dari pundak Gianna, mengembalikannya ke tempat semula. Semula ia sangat tergoda untuk kembali mencecap kulit halus itu. Merasakannya bergesekkan dengan kulit telanjangnya, tapi kemudian gerakan Gia yang sembrono membuat Alessio tersadar.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," ujar Alessio.
"Aku harus pulang sekarang. Aku baru ingat aku memiliki tugas Biologi yang harus dikumpulkan besok," jawab Gianna.
"Kau seharusnya berbicara padaku, aku akan membantumu—"
"Tidak apa-apa. Kau sibuk—aku bisa pulang dengan taksi," potong Gianna tampak tergesa.
"Taksi?" Raut wajah Alessio berubah tidak senang saat berkata, "tidak ada taksi, Gianna. Aku akan mengantarkanmu."
"Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu..."
Alessio menghembuskan napas pelan. Jemarinya mengusap pipi Gianna dan ia menggeleng tegas. Kedua matanya menelisik Gianna yang terlihat cantik siang itu; dress selutut dengan tali spaghetti, tanpa riasan hanya lipstik pink tipis, dan rambutnya dicepol asal.
"Bagaimana mungkin kau berpikir demikian? Apa yang sebenarnya ada di kepala cantikmu sekarang?"
Gianna membalas tatapan Alessio. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan gugup, "kau sibuk," ulang Gianna.
Alessio menyampirkan tas sekolah Gianna ke bahunya. Ketiga paper bag berisi pakaian kotor dan bunga-bunga tadi berada di kedua tangan Alessio. Pria itu melangkah keluar dari apartemen lebih awal, mengabaikan protes yang nyaris terlontar dari bibir Gia.
"Apa kau lupa? Aku sudah mengatakannya padamu, aku akan melupakan pekerjaanku jika kau berada di sisiku."
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di mansion. Alessio melihat Gianna yang berusaha untuk membawa barangnya sendiri. Namun, lagi-lagi Alessio mencegah keinginan gadis itu. Dia meminta beberapa pelayan untuk membawa barang Gianna.
"Apa kau membutuhkan bantuan?" tanya Alessio.
Gianna membuka bukunya dan mulai mencatat. Ia menjawab, "aku bisa mengerjakan tugasku sendiri. Maaf, aku merepotkanmu."
"Jangan meminta maaf. Aku memedulikanmu Gia, tidak ada kata repot sama sekali."
Alessio melirik ke arah pintu yang tertutup sebelum memberikan kecupan ringan sekali lagi di pipi Gianna. Ia menurunkan ciumannya di bahu Gianna yang terbuka, dan membuat gadis itu memprotes pelan.
"Aku akan membiarkanmu berkonsentrasi," kekeh Alessio.
Alessio menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang Gianna. Ia membuka laptop dan mulai mengecek pekerjaan miliknya sendiri, sementara menunggu Gianna hingga gadis itu selesai. Belum sampai setengah jam, Gianna tiba-tiba beranjak bangkit dan berlari ke luar kamar. Ketika kembali, gadis itu membawa sebuah vas bening yang diisi air.
"Ada apa Amore Mio?" tanya Alessio.
Gianna menyimpan vas itu ke atas meja di balkon kamar, lalu memilah bunga yang sebelumnya dia pisahkan dari buket satu per satu, mengambil bagian yang masih bagus. Dan menatanya ke dalam vas.
"Aku tidak akan membiarkan bunganya layu," jawab Gianna.
Alessio mengulum senyuman, "kau tahu, aku bisa membelikannya lagi untukmu nanti—"
"Tidak, bunga ini berharga," Gianna berdecak pelan. "Kau yang memberikannya untukku."
"Kemarin atau sekarang, bunganya tetap dariku. Jika kau menginginkan satu mobil—"
"Kau yang mengatakannya padaku; momen tidak bisa dibeli dengan uang," potong Gianna seraya mengerucutkan bibir. "Bagian yang rusak ini ... aku akan memasukan ke toples dan membiarkannya kering."
Perilaku Gianna tanpa sadar membuat hati Alessio menghangat. Pria itu tersenyum lembut dan memperbaiki ikatan rambut Gianna yang terlepas, mencepolnya ulang kala Gia tengah memasukan potongan mawar ke dalam toples.
"Sudah lebih baik sekarang," bisik Gianna seraya tersenyum.
Alessio menatap bunga di dalam vas dan kembali tersenyum.
"Cantik seperti calon istriku," ujar Alessio.
Jemari Alessio mengusap pipi Gianna yang memerah. Ia kemudian menunduk, mencium bibir Gianna dengan lembut tanpa memedulikan posisi mereka tengah berada di balkon kamar. Saat ciuman mereka terlepas, Alessio mengerutkan kening bingung melihat mobil Rolls Royce terparkir di mansion. Tiba-tiba pintu diketuk, Philia muncul membawakan makan siang.
"Makan siang?"
"Kepalamu bisa meledak jika kau terus menerus belajar," kekeh Alessio.
Philia menunduk, "Tuan Alessio," sapanya. "Tuan Silvestre meminta untuk bertemu dengan Anda di ruang kerjanya."
"Papa sudah pulang, Phili?"
Alessio mengangguk. Ia bergegas menuju ruang kerja Silvestre. Setelah mengetuk pintu, tanpa ragu Alessio melangkah masuk. Kilat mata Silvestre tampak sedingin es ketika menatapnya. Silvestre mendekat, dia melayangkan pukulan cukup keras yang membuat Alessio tersungkur seketika.
"Bajingan!" maki Silvestre terdengar emosi. "Apa yang kaulakukan pada Gianna brengsek?!"
"Apa yang kaulakukan padanya?!"
Alessio membalas tatapan Silvestre. Di detik ia melihat ke bawah balkon, Alessio tahu hal ini akan terjadi, tapi dia tidak menyangka Silvestre akan melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak peduli jika kau menghancurkan wanita lain di luar sana. Tapi kenapa harus Gianna, Alex? Kenapa harus anakku?"
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Under His Control (END)
RomanceSUDAH PERNAH TAMAT DI WATTPAD DAN TELAH DITERBITKAN DI GOOGLE PLAY BOOKS. Sejak remaja, Gianna Gattani selalu mengagumi pamannya-Alessio Gattani-dan menganggap perhatian lembut Alessio sebagai bentuk perasaan mereka yang sama. Tak peduli Gianna adal...
