Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup mewah, seorang laki-laki dewasa duduk dengan tenang di kursinya. Di hadapannya, seorang pria yang mengenakan topeng berdiri tegak.
"Tuan, saya sudah membakar rumah anak yang dekat dengan istri Radit itu," kata pria bertopeng dengan suara datar.
Laki-laki dewasa itu menatapnya, ekspresinya tetap tenang meski kata-kata itu penuh makna.
"Bagus," jawabnya pelan, suara penuh kontrol. "Tapi, apakah kau sudah menemukan informasi lebih lanjut tentang anak yang dekat dengan istri Radit itu?"
Pria bertopeng itu berhenti sejenak, menatapnya dengan serius. "Sudah, Tuan. Ternyata anak itu bukan hanya sekadar kenalan biasa. Anak itu ternyata adalah putra kedua dari Radit, Tuan."
"APA!! Putra kedua Radit? Bukankah Radit hanya memiliki satu putra? Bagaimana mungkin ia bisa memiliki dua putra? Jangan coba-coba berbohong kepadaku!"
Pria bertopeng itu tetap tenang, meskipun suasana mulai memanas. "Benar, Tuan. Saya tidak akan membohongi Anda. Saya berkata jujur. Radit memang memiliki dua putra, tapi salah satunya ternyata diserahkan oleh seorang pembantu rumah tangga kepercayaan istri Radit. Itulah sebabnya putra kedua Radit itu tidak dikenal oleh publik."
Laki-laki dewasa itu memandang pria bertopeng itu dengan tatapan tajam, mencoba mencerna penjelasan yang baru saja didengarnya. "Jadi, anak itu disembunyikan begitu saja?" suara laki-laki dewasa itu terdengar lebih dalam, penuh rasa ingin tahu yang tajam. "Apa alasan di balik semua ini? Mengapa Radit membiarkan anaknya hidup dalam bayang-bayang seperti itu?"
Pria bertopeng itu pun menjawab, "Saya tidak tahu, Tuan. Tapi informasi yang saya peroleh saat memata-matai istri Radit hanya sebatas itu. Saya juga hanya berhasil mendapatkan nama putra kedua Radit."
"Siapa nama putra kedua Radit? Cepat katakan padaku!" tanya laki-laki itu dengan tegas.
"Putra kedua Radit bernama Dika Zafren Candanin, Tuan," jawab pria bertopeng itu dengan hati-hati.
Laki-laki itu terdiam sejenak, mencerna nama yang baru saja disebutkan. Senyum tipis muncul di bibirnya, penuh perhitungan. "Dika Zafren Candanin... nama yang bagus. Permainan ini akan semakin menarik. Cepat, cari informasi lebih detail mengenai anak ini dan laporkan kepadaku malam ini juga!"
Pria bertopeng itu mengangguk dengan tegas. "Baik, Tuan. Saya akan segera mengumpulkan informasi yang lebih lengkap dan akan melaporkannya tepat waktu".
Laki-laki itu berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap keluar, matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsanya. "Kau harus pastikan tidak ada orang lain yang tahu tentang ini. Dan teruslah mengawasi istri Radit beserta kedua anaknya."
Pria bertopeng itu mengangguk dengan serius. "Tentu, Tuan. Saya akan memastikan tidak ada kebocoran informasi. Semua akan berjalan sesuai rencana."
"Baiklah, kau boleh pergi," ucapnya tegas, nada suaranya dingin dan tak terbantahkan.
"Baik, Tuan," balas pria bertopeng itu dengan anggukan singkat sebelum melangkah keluar dari ruangan yang dipenuhi aura kekuasaan tersebut.
Saat pintu tertutup rapat, pria bertopeng itu menghela napas panjang. Langkahnya tetap, tapi pikirannya penuh dengan kekhawatiran. Tugas ini terlalu berisiko. Tapi... menolak bukan pilihan.
Di dalam ruangan, sang tuan kembali duduk di kursi megahnya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme pelan, sementara tatapannya tajam, penuh dendam.
"Permainan akan segera dimulai, Radit. Tak lama lagi, kau akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang," ucapnya dingin.
Tawa liciknya menggema di ruangan yang sunyi, menciptakan aura mencekam yang sulit untuk diabaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Fiksi RemajaAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
