Sementara itu, di kamar, Alice meminta suaminya untuk duduk di atas kasur. Wajahnya tampak gelisah, dan tangannya gemetar saat menggenggam ujung bajunya.
"Ayah, bunda ingin bicara sesuatu yang penting," kata Alice dengan suara bergetar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan.
Ayah menatapnya dengan penuh perhatian, meski dahi pria itu sedikit berkerut. "Apa yang terjadi, Bun? Ada apa?" tanyanya lembut, mencoba memberikan kenyamanan pada istrinya.
Alice menelan ludah, mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai berbicara. "Ada sesuatu yang selama ini bunda sembunyikan. Sesuatu yang—"
Namun, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sudut ruangan. Bayangan samar seorang pemuda muncul, berdiri tegak dengan tatapan penuh arti. Itu Dika, sosok anak yang selama ini menghantui pikiran dan hatinya.
"Jangan, ini bukan waktu yang tepat, Bun," kata Dika dengan suara lembut namun tegas.
Alice terdiam. Tubuhnya kaku seolah-olah waktu berhenti sejenak. Matanya melebar, menatap ke arah bayangan itu, dan dadanya terasa sesak.
"Bun?,Bunda?, Kamu kenapa?", Radit bertanya dengan nada cemas, bingung melihat perubahan sikap Alice yang tiba-tiba.
Alice menggeleng pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Enggak, Bunda nggak apa-apa kok, Yah. Bunda cuma mau minta izin ke Ayah soalnya Bunda diajak temen-temen Bunda buat ke mall sama nyalon bareng. Makanya, Bunda mau izin dulu sama Ayah sebelum pergi," ucapnya sambil menghindari tatapan suaminya.
"Ya Allah, Bun," balas Radit sambil tersenyum kecil.
"Ayah kira ada sesuatu yang penting banget yang mau Bunda omongin sama Ayah. Ternyata cuma mau minta izin ke mall sama nyalon aja pakai ngomong di dalam kamar," kata Radit dengan sedikit tawa ringan.
"Yaudah, Ayah izinin deh. Sana, pergi ke mall, nyalon, atau belanja baju apa aja, sama temen-temen Bunda. Sekalian Bunda bisa memfreshkan pikiran juga kan?"
"Soalnya Ayah tahu peristiwa yang terjadi baru-baru ini pasti bikin Bunda migrain. Jadi, Ayah harap dengan Ayah izinin Bunda buat ke mall dan nyalon, bisa bikin pikiran Bunda lebih fresh lagi."
"Soalnya Ayah nggak suka lihat Bunda nangis atau murung kayak gini terus," lanjutnya dengan nada lembut.
Alice terdiam sejenak, mendengar perhatian yang tulus dari suaminya. Namun, di balik kata-kata Ayah yang lembut, ada perasaan bersalah yang semakin membebani hatinya.
"Makasi, Yah," ucap Alice akhirnya dengan suara pelan, meskipun senyum yang ia tunjukkan terasa sangat dipaksakan.
Radit mengangguk, lalu bangkit dari kasurnya. "Yaudah, Bun. Ayah mau ke ruang tamu dulu, nih, mau nonton TV. Bunda siap-siap aja sekarang, biar bisa cepet berangkat," ucap Radit sebelum melangkah meninggalkan kamar menuju ruang tamu.
Alice mengangguk pelan, meskipun pikirannya masih melayang pada berbagai hal yang belum terselesaikan. Ia melihat Radit pergi menuju ruang tamu dan merasa ada semacam jarak yang semakin lebar antara mereka, meski ia berusaha menyembunyikan perasaan itu.
Setelah beberapa saat, Alice mulai bersiap-siap. Ia memilih pakaian dengan langkah mekanis, mencoba untuk mengalihkan perhatian dari kerumitan pikirannya. Namun, bayangan Dika masih terus menghantuinya. Bagaimana ia bisa menjaga rahasia ini lebih lama lagi?
Ketika ia selesai berpakaian dan merias diri, Alice menghadap cermin sejenak. Di sana, ia melihat sosok wanita yang tampak baik-baik saja di luar, namun hatinya terasa hancur. Ia berjuang keras untuk tetap tegar, meskipun di dalam dirinya ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Novela JuvenilAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
