Chapter sebelumnya
Dokter Iyan menjelaskan lebih lanjut, "Stadium 3 berarti bahwa kondisi asma Rasya sudah berada di level yang sangat parah. Ini bisa menyebabkan kesulitan bernapas yang sangat serius, dan kami harus memberikan perawatan intensif untuk menghindari komplikasi lebih lanjut."
Alice merasakan perutnya terbalik mendengar penjelasan itu. Radit dan teman-teman Rasya, yang sebelumnya hanya mengira ini adalah asma biasa yang terkendali, kini harus menghadapi kenyataan yang lebih pahit. Mereka hanya bisa terdiam, terkejut, dan cemas dengan informasi yang baru saja mereka dengar.
Alice menunduk, berusaha menahan tangis yang hampir pecah. "Aku nggak tahu harus gimana, Yah... aku nggak pernah kasih tahu kamu tentang stadium penyakit Rasya," bisiknya, suaranya pecah karena rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.
Radit menggenggam tangan Alice, mencoba memberikan kekuatan meski dirinya sendiri merasa sangat cemas. "Sayang, kamu nggak perlu merasa bersalah. Kita semua akan hadapi ini bersama. Yang penting sekarang, kita fokus sama Rasya. Dia butuh kita," jawab Radit dengan lembut, meski nada suaranya menunjukkan betapa besar kecemasannya.
Alice menatap Rasya sekali lagi, berusaha menenangkan dirinya. "Bertahan, sayang," bisiknya dalam hati, berharap Rasya bisa merasakan dukungannya, meskipun ia hanya bisa berdiri di luar ruang UGD, terpisah dari anaknya.
--------
Saat itu, dokter Iyan kembali membuka catatan medis di tangannya sebelum mengangkat wajah dan bertanya dengan nada lembut namun tegas.
"Oh, iya, Bu. Kalau boleh saya bertanya, apakah Rasya rutin melakukan check-up untuk memeriksa kondisi asmanya sesuai jadwal yang telah diberikan oleh rekan saya, Dokter Andra?" tanyanya, ingin memastikan bahwa perawatan sebelumnya telah dilakukan dengan baik.
Alice terdiam sejenak. Pertanyaan dokter Ian membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Ia mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali Rasya melakukan pemeriksaan. Namun, kenyataannya, sudah cukup lama sejak terakhir kali ia membawa Rasya untuk check-up.
Dengan sedikit ragu, Alice menghela napas sebelum menjawab, "Sejujurnya, Dok... Rasya sudah tidak pernah check-up lagi. Terakhir kali periksa itu beberapa bulan lalu, tapi setelah itu saya tidak membawanya lagi karena saya kira asmanya sudah membaik."
Dokter Iyan mengerutkan kening, tampak sedikit khawatir. "Jadi, selama ini Rasya tidak menjalani pemantauan rutin?"
Alice mengangguk pelan, merasa bersalah. "Iya, Dok... Soalnya setelah terakhir periksa, Rasya nggak pernah kambuh lagi. Dia kelihatan sehat-sehat saja, jadi saya pikir tidak ada masalah."
Dokter Iyan menghela napas panjang sebelum menjelaskan dengan suara tenang, "Bu Alice, saya mengerti kalau gejala yang tidak muncul bisa memberi kesan bahwa kondisi Rasya sudah membaik. Tapi asma itu penyakit yang perlu dipantau terus-menerus, terutama kalau sudah pernah sampai pada tingkat yang cukup serius. Kadang, tanpa disadari, fungsi paru-paru bisa semakin menurun meskipun gejala terlihat hilang. Dan saat akhirnya kambuh, kondisinya bisa jauh lebih parah dari sebelumnya."
Alice meremas jemarinya sendiri, perasaan bersalah makin menghimpit dadanya. "Saya benar-benar nggak tahu kalau bisa separah ini, Dok... Saya pikir dia baik-baik saja..." suaranya terdengar lirih, nyaris bergetar.
Dokter Iyan menatapnya dengan penuh pemahaman. "Saya mengerti, Bu. Yang terpenting sekarang adalah memastikan Rasya mendapatkan perawatan terbaik. Setelah kondisinya lebih stabil, kita akan buat jadwal check-up rutin agar hal seperti ini tidak terulang lagi."
Alice mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok," ucapnya lemah.
"Oh, iya, Bu," tambah dokter Iyan, "mungkin Ibu bertanya-tanya kenapa saya yang menangani Rasya, bukan Dokter Andra. Kebetulan beliau sedang libur, jadi saya yang mengambil alih perawatan Rasya untuk sementara waktu."
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Teen FictionAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
