POV Dika
Dika masih menatap layar ponselnya, jemarinya menggenggam erat benda itu seakan berharap notifikasi balasan akan muncul kapan saja. Tapi yang ada hanya keheningan. Zayyan sudah membaca pesannya, tapi tak kunjung membalas.
Di luar jendela, hujan sudah reda, menyisakan jalanan yang basah dan embun tipis di kaca. Aroma khas setelah hujan memenuhi kamar rawatnya, bercampur dengan bau antiseptik rumah sakit yang terasa asing di hidungnya. Dika menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Tubuhnya masih terasa lelah, bukan hanya karena kejadian tadi, tapi juga dari ketegangan yang terus menghimpit dadanya. Bayangan api yang melalap rumahnya masih terpatri jelas di benaknya panas yang membakar kulit, asap yang memenuhi paru-parunya, suara kayu yang patah dan jatuh satu per satu.
Matanya kembali beralih ke ponsel. Zayyan sudah membaca pesannya. Itu seharusnya melegakan, kan? Tapi justru lebih menyiksa.
Dia meremas selimutnya, menatap kosong ke arah jendela. "Lo baca, tapi lo nggak jawab, Yan..." gumamnya pelan.
Dika tidak bisa menyalahkan Zayyan kalau butuh waktu. Mereka sama-sama kelelahan, sama-sama dihadapkan pada sesuatu yang terlalu berat dalam satu hari. Tapi dia juga tidak bisa menghilangkan perasaan tidak tenang ini.
Apakah Zayyan marah? Kecewa? Sedang mencari kata-kata yang tepat? Atau mungkin... dia nggak mau jawab sama sekali?
Dika memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Dia tahu tidak ada gunanya memaksa. Kalau Zayyan belum siap untuk bicara, Dika hanya bisa menunggu.
Tapi menunggu tanpa kepastian itu lebih menyakitkan daripada yang dia kira.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Zayyan duduk di atas motornya, terparkir di depan minimarket pinggir jalan. Matahari siang bersinar terik, memantulkan cahaya di aspal yang masih sedikit lembap setelah hujan pagi tadi. Helmnya sudah dilepas, tapi dia belum beranjak dari sana. Dia hanya menatap lurus ke depan, tanpa benar-benar melihat apa pun.
Ponselnya ada di dashboard motor, layar masih menyala menampilkan pesan terakhir dari Dika. Sudah beberapa kali dia menatapnya, membaca ulang, mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan. Tapi jarinya tetap tak bergerak untuk mengetik balasan.
Bukan karena dia marah. Kalau ini hanya soal rumah Dika yang kebakaran, Zayyan yakin dia bisa menghadapi itu. Dia bisa ada di sana, membantu, menenangkan. Tapi yang membuatnya sulit adalah sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Dika punya ibu kandung.
Dan dia nggak pernah cerita.
Zayyan menarik napas panjang, menundukkan kepala sambil meremas ujung celana piyamanya. "Kenapa lo nggak pernah bilang, Dik?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Selama ini, dia pikir dia tahu segalanya tentang sahabatnya. Mereka sudah berteman lama, sudah melewati banyak hal bersama. Tapi ternyata ada bagian dari hidup Dika yang sama sekali tidak dia ketahui.
Dan fakta bahwa Dika memilih untuk menyimpannya sendiri... entah kenapa itu menyakitkan.
Bukan karena Zayyan merasa berhak tahu segalanya. Tapi karena dia selalu berpikir bahwa mereka nggak punya rahasia satu sama lain.
Tapi ternyata ada hal-hal yang Dika sembunyikan darinya.
Zayyan memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Dia nggak mau membalas pesan Dika dalam keadaan seperti ini. Bukan karena dia mau mengabaikan, tapi karena dia sendiri masih mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Kenapa, Dik? Kenapa lo nggak pernah cerita?"
Suara kendaraan yang melintas di jalanan siang itu seakan menjadi latar belakang dari pikirannya yang terus berputar. Dia ingin menelepon Dika sekarang juga, meminta penjelasan. Tapi dia tahu kalau dia melakukannya sekarang, emosinya mungkin akan bercampur dengan segala hal yang belum bisa dia cerna.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Teen FictionAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
