Jam sudah menunjukkan pukul 21:15. Seleksi basket hampir selesai, dan hanya tersisa beberapa peserta terakhir yang masih diuji oleh Rasya dan teman-temannya. Di lapangan sekolah yang diterangi lampu sorot, Rasya berusaha tetap fokus, meski hatinya terus bertanya-tanya tentang seseorang yang tak kunjung datang.
"Dika... lo di mana? Bukannya lo janji mau ikut seleksi?" pikir Rasya sambil sesekali melirik ke arah gerbang sekolah. Harapannya mulai pudar, tapi ia terus mencoba menyangkal rasa kecewa itu.
Pak Adrian berdiri dari tempat duduknya di pinggir lapangan dengan clipboard di tangannya. "Oke, ini peserta terakhir. Setelah ini, kita akan diskusi dan mengakhiri seleksi,"yang ucapnya tegas. Rasya mengangguk, menahan perasaan yang bergemuruh di dadanya.
Selesai menilai peserta terakhir, semua pelatih dan anggota tim berkumpul di pinggir lapangan untuk mendiskusikan hasil seleksi. Rasya memberikan penilaian dengan serius, memastikan pemain-pemain terbaik yang terpilih. Tapi saat pembahasan hampir selesai, langkah kaki terdengar mendekat dari arah gerbang. Semua menoleh.
Namun, yang muncul bukanlah Dika. Sosok itu adalah Pak Herman, satpam sekolah yang membawa senter di tangannya. "Pak Adrian," katanya sambil mengangguk sopan, "Maaf mengganggu, tapi sekolah sudah harus ditutup. Lampu-lampu lapangan juga sebentar lagi akan saya matikan."
Pak Adrian menoleh ke arah jam tangannya. "Baik, Pak Herman. Terima kasih sudah mengingatkan. Kami akan segera selesai."
Pak Herman tersenyum tipis, lalu kembali berjalan ke arah gerbang sekolah untuk berjaga kembali. Rasya menunduk, menghela napas panjang. Itu artinya, tidak ada waktu lagi. Seleksi sudah berakhir, dan harapannya untuk pak Adrian melihat kemampuan Dika malam ini sirna.
Setelah selesai berbicara dengan pak Herman,Pak Adrian pun mengahlikan perhatian nya kepada semua peserta yang masih duduk di pinggir lapangan. "Baik, seleksi resmi selesai untuk malam ini. Terima kasih atas kerja keras kalian semua. Kalian boleh pulang sekarang, dan nama-nama yang terpilih akan diumumkan besok pagi."
Para peserta mulai bangkit perlahan, beberapa dari mereka terlihat kecewa, sementara yang lain tampak lega telah menyelesaikan seleksi. Rasya membantu memungut beberapa kerucut latihan yang berserakan, sambil sesekali melirik ke arah gerbang lapangan.
Pak Adrian memperhatikan para peserta yang berjalan keluar lapangan, lalu menoleh ke arah panitia dan anggota tim inti. "Baik, kalian tunggu disini sebentar masih ada yang ingin saya bicarakan. Dan saya tinggal dulu yaa,Saya ingin memastikan semua peserta benar-benar sudah meninggalkan area sekolah ."
Ia melangkah menuju gerbang, mengobrol sebentar dengan Pak Herman untuk memastikan semuanya aman. Setelah itu, Pak Adrian kembali ke lapangan, di mana Rasya dan teman-temannya masih duduk melingkar di pinggir lapangan.
"Oke semuanya udah aman,jadi sebelum kalian pulang,saya ingin berdiskusi dengan kalian semua panitia tentang penilaian kalian terhadap para peserta basket malam ini" kata Pak Adrian sambil duduk di kursi lipatnya. "Sebelum sekolah di tutup dan lampu lapangan ini di matikan,saya mau kita sudah memutuskan siapa saja yang layak untuk masuk tim".
Rasya memperbaiki posisi duduknya, mempersiapkan catatan yang telah ia buat selama seleksi berlangsung. Ia mencoba fokus, meski pikirannya masih sedikit terganggu.
"Jadi, bagaimana menurut kalian soal peserta tadi,apa ada yang menarik?". Tanya Pak Adrian membuka diskusi.
Malik, yang duduk di sebelah Rasya, langsung mengangkat tangannya. "Yang nomor punggung 23 tadi oke banget, Pak. Dribbling dan shooting-nya rapi, meski dia perlu banyak latihan untuk defense."
Azka menimpali. "Yang nomor 12 juga lumayan bagus pak,meskipun power-nya masih kurang. Tapi visi permainannya bagus."
Diskusi terus berjalan dengan lancar. Rasya memberikan beberapa pendapat, meski suaranya terdengar agak pelan dibanding biasanya. Ketika giliran Rasya memberikan penilaian, Pak Adrian sempat meliriknya dengan curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Teen FictionAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
