Di luar ruang UGD, Alice, Radit, dan teman-teman Rasya masih setia menunggu giliran untuk menjenguknya. Meskipun mereka tahu Rasya sudah sadar, rasa panik dan cemas tetap belum sepenuhnya hilang, terutama bagi teman-temannya.
"Perasaan gue masih gak tenang, deh. Walaupun Rasya udah sadar dari pingsannya, tapi entah kenapa gue masih kepikiran terus," keluh Alfian sambil mondar-mandir di depan pintu UGD.
"Woi, Fian! Bisa diem gak? Dari tadi lo mondar-mandir mulu, pusing gue liatnya," gerutu Bagas, mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
"Iya, Fian. Duduk dulu aja, biar gak makin bikin orang deg-degan," timpal Arga, menepuk bahu Alfian agar lebih tenang.
Tapi bukannya menurut, Alfian malah kembali mengeluh, "Lagian, Naura lama banget sih jenguk Rasyanya. Bukannya gue gak ngerti, tapi makin lama dia di dalam, makin bertambah juga rasa khawatir gue sama Rasya, tahu gak?"
Azka yang sejak tadi diam akhirnya buka suara, "Ya wajar lah, Fian. Naura kan pacarnya Rasya. Dia pasti juga mau tahu kondisi Rasya, mana mungkin jenguknya sebentar doang."
Mendengar perdebatan kecil itu, Alice yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Anak-anak, kalian gak perlu khawatir berlebihan, ya. Rasya sudah sadar dan sekarang yang paling dia butuhkan adalah istirahat. Bunda tahu kalian peduli sama rasya, tapi jangan sampai kalian sendiri jadi stres."
Radit ikut menimpali, suaranya terdengar tenang, "Iya, kalian harus percaya kalau Rasya itu anak yang kuat. Lagipula dokter sudah bilang kondisinya stabil. Kalau kalian terlalu cemas, justru suasana jadi makin tegang."
Alfian menghela napas pelan, lalu akhirnya duduk di kursi tunggu dengan wajah sedikit lebih tenang. Teman-temannya juga mulai mengendurkan ketegangan mereka.
Alice tersenyum melihat mereka yang mulai tenang. "Nah, gitu lebih baik. Bunda sama Ayahnya Rasya mau ke kantin sebentar. Kalian mau nitip sesuatu?"
Bagas menggeleng. "Gak usah, Bunda. Makasih."
"Kalau butuh sesuatu, kabarin aja, ya," kata Radit sebelum beranjak pergi bersama Alice.
Sementara itu, teman-teman Rasya kembali menunggu dengan lebih tenang, sesekali melirik ke arah pintu UGD, berharap Naura segera keluar agar mereka bisa melihat kondisi Rasya sendiri.
Setelah Alice dan Radit pergi ke kantin, suasana di depan ruang UGD mulai lebih tenang, meskipun sesekali mereka masih melirik ke arah pintu, menunggu Naura keluar.
Arga akhirnya membuka suara, menghela napas panjang sebelum berkata, "Gue masih gak nyangka kalau asmanya Rasya separah itu."
"Iya," sahut Bagas sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. "Gue kira dia cuma punya asma biasa, kayak yang sering kita lihat selama ini. Gak nyangka kalau ternyata udah stadium tiga."
Alfian menggeleng pelan, masih terlihat syok. "Gue juga gak kepikiran sama sekali. Rasya selama ini kelihatan biasa aja, bahkan tetap main basket kayak gak ada masalah."
"Makanya itu," tambah Azka. "Rasya gak pernah cerita, kan? Dia pasti gak mau kita khawatir."
Bagas mengangguk. "Iya, tapi tetap aja. Kenapa dia gak bilang apa-apa? Kita temennya, harusnya dia kasih tahu biar kita bisa bantu jaga-jaga."
"Tapi lo tahu sendiri, kan, Rasya orangnya gimana?" Arga menatap mereka satu per satu. "Dia gak suka bikin orang lain khawatir. Mungkin menurut dia, selama dia masih bisa tahan, yaudah, gak perlu banyak orang yang tahu."
Alfian mengepalkan tangannya, merasa kesal sekaligus sedih. "Tapi tetap aja! Kalau tadi kita gak cepat-cepat bawa dia ke rumah sakit, gimana? Dokter bilang asmanya udah masuk stadium tiga, artinya ini bukan sesuatu yang bisa disepelein lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET PROTECTER
Teen FictionAku akan selalu Disini melindungimu walaupun engkau tidak akan pernah menyadarinya- Dika Terima kasih Karena kau telah melindungiku- Rasya Semoga suka ya sama ceritanya
