Long time no see ya 🤭 I know, ini telaaat banget... Tapi tetap Happy New Year🎉🥳 semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dari sebelumnya...
Dan I knowcerita ini juga harusnya seeing-sering update 😭😭 tapi namanya manusia pasti banyak kurangnya. Begitu pula dengan diriku yang otaknya mampet sampe sekarang.So sorry 🙏🏻🙏🏻
Semoga kedepannya bakalan lebih rajin lagi updatenya yaa...
Happy reading~ 🎉
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Yazan duduk termenung di pelataran rumahnya, kakinya tergantung akibat duduk di kursi kayu, tangannya ia letakkan di dagunya, dia masih bersedih. Yazan masih merindukan Onyet. Tapi apa boleh buat kalau Onyet tidak ditakdirkan untuknya.
Yazan menghela nafasnya, kaki mungilnya ia ayunkan secara bergantian. Sangat lucu. Dari dalam rumah, dibalik jendela, Zayan memperhatikan anak laki-laki itu. Sungguh sangat mendramatisir keadaan. Hampir saja dia bertanya dari mana sifat anak itu dia dapatkan, soalnya Zayan teringat, kalau itu bawaan dari Maminya. Sepertinya seperti itu, karena Zayan tidak mengikuti perkembangan kehamilan Maminya dan kelahiran anak tuyul cokelat itu. Karena Zayan sengaja melarikan diri dari rumah.
Abang keluar, menghampiri Yazan, duduk disampingnya, lalu berdehem. "Ngapain cil?"
Tapi abang masih bisa mendengarnya. Pria itu mengulum senyumnya. Anak itu benar-benar persis Mami, penuh drama. Jadi, abang juga mengikuti alurnya.
Zayan menghela nafasnya. "Hhh~" persis seperti Yazan. "Onyet sudah bahagia bersama Om Judi. Jadi ikhlaskan saja." Lalu abang menepuk kepala anak itu. Abang baru menyadari kepala tuyul cokelat itu empuk. Mungkin efek rambutnya yang tebal.
"Menyecathan abang... Buat njan cape, berteringat, haduh... Nda cuha!" Ujarnya.
"Ooh... Menyesatkan." Abang baru paham, dia mengangguk. Tapi sesaat kemudian dia menyadari sesuatu. "Lho? Menyusahkan cil bukan menyesatkan!"
"Cama caja!"
"Dih galak."
Lalu abang pergi,.meninggalkan yazan masih meratapi kesepiannya. Tidak lama abang kembali dengan ember merah, dua gayung, dan sabun untuk mencuci motornya, dia letakkan di rerumputan, sekarang abang beralih ke motor matic hitamnya, lalu menaikkan standar dua.