Bab 29 Curiga

43 7 0
                                    

~Happy Reading~~~

༶•┈┈⛧┈♛ 𝑠𝑡𝑎𝑟𝑡 ♛┈⛧┈┈•༶

◆◆◆◆

Seminggu berlalu sejak kejadian Alan memberi tahu pada Zea tentang perjodohan nya, seminggu itu pula banyak kejadian yang menimpa Alan entah dari sisi negatif maupun positif.

Positifnya walaupun Zea tau tentang perjodohan nya, ia tidak menjauhi Alan namun bukan tentang sikap Zea yang tidak berubah tapi tentang apakah nanti nya dirinya akan dipisahkan kembali dengan Zea—itu yang menjadi pikiran nya.

Disini negatif terdapat tekanan juga paksaan dari sang opa untuk menyetujui perjodohan tersebut, berbagai cara ia lakukan untuk menolak berbagai cara pula opa-nya lakukan agar menyetujui perjodohan itu bahkan sampai mengancam menghancurkan geng yang telah dirinya buat menjadi besar. Di geng ini pula masalah terjadi seminggu ini, hampir setiap hari terjadi masalah, seperti hampir terbongkar data-data yang tersimpan, hilang nya dana juga ter bocornya informasi strategi saat mereka akan melawan geng lain dan itu hampir menggoyahkan nama geng mereka.

Mereka semakin yakin ada penghianat dalam organisasi mereka. Segala sesuatu mereka lakukan untuk  mengatasi masalah ini. Seperti sekarang mereka tentang berkumpul dalam ruangan untuk membahas sesuatu.

Ruangan itu dipenuhi ketegangan. Udara seakan terasa lebih berat saat Alan menatap semua orang di depannya. Eric duduk di sebelah kanannya, ekspresi serius terpampang di wajahnya. Sementara itu, Rafi menyandarkan punggung ke kursi dengan tangan bersedekap, tatapannya mengamati satu per satu orang yang ada di ruangan itu.

Di sisi lain, Ervin mengetukkan jarinya ke meja, sementara Zain tampak lebih diam dari biasanya. Biasanya dia adalah orang yang paling banyak bicara—selalu memberi komentar di setiap diskusi. Tapi kali ini? Tidak ada satupun kata keluar dari mulutnya.

"Masalahnya gak berhenti di sini." Suara Alan terdengar berat. "Setiap kali kita selangkah lebih maju, informasi kita bocor. Seolah-olah ada yang kasih tahu mereka langkah kita berikutnya."

Semua orang terdiam.

Eric menghela napas, lalu menatap Alan. "Jadi, kesimpulannya... ada pengkhianat di antara kita?"

Tidak ada yang menjawab, tapi keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Tiba-tiba, suara ponsel berdering, memecah atmosfer tegang di ruangan. Semua kepala langsung menoleh ke arah Galen.

Galen melirik layar ponselnya sekilas, lalu ekspresinya berubah. Sekejap matanya menyipit, rahangnya mengeras. Dengan sedikit ragu, ia mengangkat teleponnya.

"Apa?" tanyanya dengan nada terkejut. Sekilas, jemarinya menggenggam ponsel lebih erat. "Ya, saya kesana."

Klik.

Panggilan berakhir.

"Kenapa?" Alan bertanya, suaranya tajam.

~Zea's tranmigrasion ~Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang