~~~Happy Reading~~~
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑠𝑡𝑎𝑟𝑡 ♛┈⛧┈┈•༶
✩✩
✩
✩
✩
✩
✩
◆◆◆◆
Matahari sore menyinari jalan setapak di taman kota, menciptakan siluet lembut di antara dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Alan berjalan di samping Zea, tetapi langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Kepalanya penuh dengan pikiran yang berputar-putar tanpa arah, seakan hatinya terjebak dalam perang yang tak kunjung usai. Zea, yang awalnya menikmati sore itu, mulai menyadari ada yang tidak beres."Alan, kamu kenapa?" tanyanya pelan, menoleh ke arah pemuda di sampingnya.
Alan mengerjapkan mata, seakan baru sadar kalau ia sedang berjalan bersama Zea. "Nggak apa-apa," jawabnya cepat, tapi suaranya terdengar datar, tanpa semangat.
Zea mengernyit. Ia bukan orang yang mudah dibohongi, apalagi oleh Alan yang sudah cukup lama dikenalnya. "Alan..." Zea memperlambat langkahnya, membuat Alan ikut berhenti. "Jangan bilang nggak apa-apa kalau jelas-jelas kamu lagi kepikiran sesuatu."
Alan menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan gumpalan emosi yang mendesak di dadanya. Zea menatapnya dengan sabar, menunggu. Ia selalu seperti itu—tidak pernah memaksa, tetapi tetap menuntut kejujuran dengan caranya sendiri.
"Aku setuju," ucap Alan akhirnya, suaranya serak.
Zea mengerjap. "Setuju?"
Alan menoleh, menatap matanya dalam-dalam, lalu mengangguk. "Aku setuju sama perjodohan itu."
Udara di sekitar mereka seakan membeku. Zea terdiam, kata-kata yang ingin ia ucapkan mendadak menghilang dari pikirannya. Namun, bukannya marah atau kecewa, ia justru tersenyum kecil.
"Kamu nggak apa-apa," ucapnya pelan. "Belum tentu dia jodoh asli kamu, kan?"
Alan masih menatapnya, ekspresinya sulit ditebak.
Zea melanjutkan, "Kalau aku memang jodoh kamu, Alan, aku bakal balik ke kamu. Takdir nggak akan ke mana."
Seketika sesuatu di dalam diri Alan runtuh. Kata-kata Zea terdengar begitu tulus, begitu menerima, tetapi justru itulah yang membuat hatinya semakin sakit. Bagaimana bisa Zea menerimanya dengan begitu mudah? Bagaimana bisa ia berkata seolah semua ini tidak akan mengubah apa pun?
Tanpa bisa menahan diri lagi, Alan meraih Zea dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di bahu gadis itu, tubuhnya sedikit gemetar.
"Aku nggak mau pisah dari kamu," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku nggak mau bikin kamu sedih... Aku nggak bisa, Zea..."
Zea tertegun. Ia bisa merasakan bagaimana Alan berusaha menahan dirinya, tetapi pada akhirnya gagal. Dadanya basah oleh air mata Alan, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Alan, yang selalu terlihat kuat dan dingin, kini menangis dalam pelukannya.
"Aku... aku nggak mau kehilangan kamu..." Alan melanjutkan, napasnya tersengal-sengal, tangannya mencengkeram punggung Zea erat, seakan takut Zea akan menghilang jika ia melepaskannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
~Zea's tranmigrasion ~
RandomZealin Quinza alder seorang gadis yang harus bekerja keras diusia muda atau bisa disebut mandiri karena keadaan. ~~~~~~~£ Bagaimana jadinya jika alin harus merenggang nyawa karena tersedak mangga. Dan bukannya pergi ke alam baka, ia bertransmigrasi...