Beberapa hari setelah kami membuat keputusan itu, latihan demi latihan kami jalani bersama. Meskipun aku hanya mengambil bagian kecil dalam pertunjukan, aku tetap hadir di ruang latihan setiap malam, menyaksikan Jimin menari dengan sepenuh jiwa—sebuah pemandangan yang perlahan-lahan merubah cara pandangku terhadapnya.
Ruang latihan yang kami gunakan terletak di gedung paling ujung kampus, dan saat malam tiba, tempat itu terasa begitu sunyi. Hanya suara napas, hentakan kaki, dan denting musik yang menemani kami. Lagu yang dipilih Jimin adalah Black Swan, katanya, "Lagu ini punya makna yang dalam. Tentang rasa takut kehilangan cinta terhadap seni. Aku rasa... aku bisa menari dengan jujur lewat lagu ini."
Aku sempat terdiam saat mendengar itu. Ada kejujuran dalam nada bicaranya yang jarang ia perlihatkan, sesuatu yang terasa lebih dalam dari sekadar kata-kata biasa.
“Jadi kau menyusun seluruh koreografinya sendiri?” tanyaku suatu malam, setelah menyaksikan ia bergerak dengan presisi dan ekspresi yang menyatu dalam setiap alunan. Aku mengira ia akan mengambil koreografi dari internet, tetapi ternyata tidak.
Jimin mengusap keningnya yang basah oleh keringat, lalu mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya. Aku memang bukan seorang profesional, tapi aku bisa menyusun beberapa gerakan.”
Aku menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa pun. Baru kali ini aku menyadari betapa cemerlangnya dia saat berada dalam dunianya sendiri. Gerakannya halus tapi penuh tenaga, emosional tapi tidak berlebihan. Ia bukan hanya menari—ia menceritakan sesuatu lewat tubuhnya. Sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya paham.
“Luar biasa,” gumamku lirih, jujur dari dalam hati.
Ia menoleh, mendengar pujianku. Pipi pucatnya langsung memerah, dan ia buru-buru membuang pandangan, seakan canggung dengan perhatian yang tiba-tiba mengarah padanya. “T-terima kasih… Tapi aku belum selesai menyempurnakan bagian klimaksnya.”
Aku terkekeh pelan, merasa sedikit malu melihatnya begitu. “Aku belum pernah melihatmu seantusias ini.”
Ia menjawab dengan senyum tipis, kali ini lebih tenang. “Karena aku suka. Aku selalu suka menari. Tapi biasanya, aku melakukan ini sendirian.”
Diam-diam, dadaku terasa hangat. Entah kenapa aku merasa beruntung bisa menyaksikan sisi dirinya yang tidak semua orang tahu. Aku pun tidak menyangka, bahwa selama ini, aku sudah mulai mengagumi setiap gerakan kecilnya, bahkan lebih dari yang kukira.
Latihanku sendiri tidak banyak. Hanya satu segmen pendek di tengah pertunjukan—sebuah momen di mana aku dan Jimin berdansa bersama, sebelum ia kembali mengambil alih sorotan. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Aku belum cukup percaya diri untuk berdiri terlalu lama di atas panggung. Tapi Jimin tak pernah memaksaku.
“Aku ingin kau menikmatinya,” ucapnya suatu malam dengan suara yang lebih dalam, lebih serius dari biasanya. “Ini bukan tentang memaksakan diri. Aku hanya ingin kau ada di sana… karena aku merasa tenang saat bersamamu.”
Perkataannya membuatku terdiam cukup lama. Jimin, yang selama ini tampak riang dan santai, bisa begitu serius ketika menyangkut hal-hal yang ia cintai. Dan aku merasa sedikit terenyuh mendengarnya, ada semacam kebanggaan terselubung di dalam diri aku setiap kali ia berbicara seperti itu.
Setelah latihan, kami biasanya pergi mencari makan malam. Hari ini pun begitu. Angin malam bertiup lembut saat kami berjalan menyusuri jalan kecil di depan kampus. Lampu jalan berkelap-kelip, menciptakan suasana yang tenang namun hidup, seolah dunia sejenak berhenti berputar, memberi ruang bagi kami untuk bernafas dalam kebersamaan. Di pojok persimpangan, deretan gerobak makanan berjajar rapi, dan aroma gurih memenuhi udara, mengundang selera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Filter • pjm
Фанфикшн"Pick your filter, Which me do you want?" Han Yebin tak pernah suka jadi pusat perhatian-hingga hidupnya bersinggungan dengan Park Jimin. Populer, ceria, dan selalu penuh pesona, Jimin terlihat sempurna. Tapi di balik senyuman itu, ada banyak hal ya...
