11

323 41 14
                                        

Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku dengan perasaan campur aduk. Sudah lama aku tidak merasa excited seperti ini. Bukan karena ini kencan—tentu saja bukan—tapi sudah lama aku tidak benar-benar keluar di akhir pekan hanya untuk bersenang-senang seharian. Rupanya manusia memang perlu istirahat.

Aku memilih sweater krem yang nyaman dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap, lalu sedikit merapikan rambutku. Setelah memastikan semuanya terlihat rapi, aku mengambil tas dan bergegas keluar dari kamar.

Dari kejauhan, aku melihat sosok yang sudah menunggu di gerbang asrama. Jimin bersandar di pagar dengan kedua tangan di saku jaket kulit cokelatnya, tatapannya terpaku pada ponselnya. Begitu menyadari aku datang, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil.

"Kau cepat," kataku, sedikit terkejut.

"Aku memang datang lebih awal," jawabnya santai. Dia menatapku sebentar sebelum berkata, "Kau terlihat cantik hari ini."

Aku sempat terdiam sesaat, tapi kemudian Jimin melanjutkan, "Tapi sebenarnya, mau bagaimanapun juga kau tetap cantik."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ucapannya terdengar begitu natural, seolah itu hanya sebuah pernyataan sederhana, tapi entah kenapa, ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa berbeda.

"Ayo pergi," kata Jimin, mengalihkan perhatianku dari pikiranku sendiri.

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Tujuan pertama kami adalah sebuah toko musik kecil di pinggir kota. Begitu masuk, aroma khas piringan hitam dan kayu tua menyambut kami. Rak-rak penuh dengan koleksi vinyl dari berbagai era dan genre.

Jimin berjalan menyusuri rak, tangannya dengan santai menyentuh beberapa piringan hitam yang menarik perhatiannya. Aku mengamatinya sebentar sebelum ikut melihat-lihat.

"Kau suka musik?" tanyaku.

Jimin mengangguk, mengambil sebuah vinyl dan membolak-baliknya. "Aku suka seni secara umum, bukan hanya musik."

Aku menatapnya penasaran. "Kalau begitu, kenapa kau tidak masuk ke Departemen Seni dan Sastra?"

Sejenak, ekspresi Jimin berubah. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihat ada sesuatu di balik senyumnya. "Karena ada alasan lain," jawabnya, lalu menaruh kembali vinyl yang dipegangnya. "Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin akan menyenangkan kalau aku satu departemen denganmu. Kita bisa pergi ke kelas bersama, mengerjakan tugas bersama..."

Aku tertawa pelan. "Kau terdengar seperti anak sekolah yang ingin sekelas dengan temannya."

Jimin mengangkat bahu. "Mungkin aku memang seperti itu."

Aku tidak tahu apakah dia serius atau hanya bercanda, tapi untuk sesaat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika kami benar-benar berada dalam departemen yang sama.

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Dari toko musik, kami naik bus menuju tempat berikutnya. Aku duduk di dekat jendela, sementara Jimin di sampingku. Bus tidak terlalu penuh, dan perjalanan terasa tenang.

Aku menoleh ke arahnya. "Sebenarnya, aku pernah melihatmu menyanyi di festival kampus dua tahun lalu."

Jimin menoleh dengan ekspresi terkejut. "Serius?"

Aku mengangguk. "Saat itu aku hanya lewat sekilas, tapi aku ingat suaramu."

Jimin tertawa kecil. "Sebenarnya aku dipaksa bernyanyi oleh senior untuk menarik pengunjung. Karena saat itu kita mahasiswa baru, aku tidak bisa menolak."

"Tapi suaramu benar-benar bagus," kataku, tulus. "Aku pikir kau terlihat menikmati saat bernyanyi, walau tidak banyak orang yang memperhatikan."

Jimin menatapku sejenak sebelum tersenyum miring. "Kau terlalu banyak memujiku. Kau ingin aku menyanyikan sesuatu untukmu sekarang?"

Aku mendesah. "Lupakan saja."

Dia terkekeh, puas karena berhasil menggodaku.

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Kami akhirnya tiba di sebuah taman kecil yang tidak terlalu ramai. Ada beberapa bangku kayu di bawah pohon besar dan kios-kios kecil yang menjual jajanan di dekat pintu masuk.

"Duduklah di sana, aku beli jajanan dulu," kata Jimin.

Aku menurut dan duduk di bangku kayu, menikmati suasana yang tenang. Beberapa saat kemudian, Jimin kembali dengan dua cup es krim dan menyerahkan satu padaku. Ia juga membawa tas plastik berisi hotteok.

Aku menatap es krimku. "Mint?"

Jimin mengangkat bahu. "Intuisi."

Aku mendelik padanya, tapi tak bisa menyembunyikan senyum di wajahku.

"Aku memang suka rasa mint."

"Untunglah, aku mengerahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk menebak rasa kesukaanmu," Jimin tertawa.

Kami makan es krim dalam keheningan nyaman sebelum aku akhirnya bertanya, "Jimin... apa akhir-akhir ini kau ada masalah? Atau ada sesuatu yang membuatmu tertekan?"

Dia tidak langsung menjawab. Tatapannya menerawang sejenak sebelum dia berkata, "Mungkin aku sedang overwhelmed. Terlalu banyak hal yang terjadi secara bersamaan, sehingga membuatku lelah."

Aku menunggu, berharap dia akan melanjutkan.

"Ada hal-hal dalam diriku yang kadang sulit untuk kujelaskan," lanjutnya, suaranya sedikit lebih pelan. "Aku tidak bisa mengendalikan diriku... Saat dalam tekanan berat, aku kehilangan kendali."

Aku tidak mengerti sepenuhnya, tapi aku bisa merasakan ketulusan di balik kata-katanya.

"Aku dengar dari Taehyung, terima kasih sudah membantuku saat itu. Dan aku minta maaf karena sudah merepotkanmu, seharusnya aku mengatakan ini lebih awal."

Aku mengangguk, mengusap punggung Jimin. "Itu bukan hal yang besar, aku hanya kebetulan ada di situ."

"Bagimu itu hanya hal kecil, tapi bagiku tidak. Kau menyelamatkan hidupku."

Aku tertawa kecil. "Iya, iya. Aku juga pernah panic attack, saat itu tidak ada yang menolongku, jadi aku tahu rasanya."

"...Panic attack?" Tanya Jimin.

"Iya, kemarin kan kau panic attack. Eh, apa sebenarnya kau sedang mabuk?"

Jimin terdiam sejenak, lalu mengangguk canggung. Seolah ia tidak benar-benar nyaman membahas hal itu. "Oh, iya. Aku panic attack."

Aneh, ia seperti hanya mengikuti alur perkataanku. Atau jangan-jangan dia bohong dan sebenarnya memang saat itu ia mabuk?

"Aku tidak tahu apakah aku bisa selalu menjadi orang yang kau lihat sekarang," tambahnya.

Aku menatapnya lekat-lekat. "Tak peduli seperti apa dirimu, aku akan tetap menjadi temanmu."

Jimin tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya. "Yebin... kau tahu, kau terlalu baik untukku yang kotor ini."

Aku memukul pelan pundaknya. "Jangan merendahkan dirimu seperti itu, aku tidak suka."

Jimin tertawa lepas. "Oh, Yebin. Kau selalu punya cara untuk membuatku kagum akan dirimu. Bagaimana ini... Aku semakin suka saat bersamamu."

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi sebelum aku sempat bertanya, dia menghela napas pelan dan tersenyum tipis. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kataku tertahan di tenggorokan.

Dan di bawah langit sore yang mulai berubah warna, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu di antara kami yang perlahan tapi pasti, semakin sulit untuk diabaikan.

Filter • pjmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang