Aku masih belum bisa sepenuhnya percaya bahwa Jimin—seseorang yang selama ini kulihat sebagai sosok karismatik dengan senyum jahil—ternyata menyimpan sisi lain. Sisi yang tak pernah kutebak: mendalam, ekspresif, bahkan... rapuh.
"Apa aku boleh melihatmu menari?" tanyaku tanpa sadar, suaraku nyaris tenggelam oleh degup jantungku sendiri.
Jimin menatapku sejenak. Tatapannya tajam namun tenang, seperti tengah menimbang sesuatu. Lalu perlahan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
"Baiklah," jawabnya, nada suaranya ringan, tapi ada keretakan halus di balik matanya—sesuatu yang belum kukenal.
"Serius?" tanyaku, satu alis terangkat.
"Aku nggak pernah asal bicara," katanya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan ke arahku. "Ayo, kita cari tempat yang lebih luas."
Aku sempat ragu, tapi akhirnya menggenggam tangannya. Jemarinya hangat dan mantap, seakan menyalurkan keberanian lewat sentuhan itu. Tanpa banyak bicara, dia membawaku melewati koridor senyap menuju gedung Departemen Seni dan Sastra. Kami masuk ke salah satu ruang latihan—ruangan luas dengan lantai kayu mengilap, dinding kaca besar memantulkan cahaya senja yang mulai turun perlahan.
Di tengah ruangan, Jimin melepaskan genggaman tanganku dan mulai melakukan pemanasan. Ia menggulung lengan bajunya sampai ke siku, napasnya tertata, tubuhnya mulai bergerak dengan lembut—sederhana, tapi penuh kendali. Aku berdiri di dekat pintu, tak sanggup berpaling.
Kemudian, ia memutar musik dari ponselnya—lagu instrumental yang syahdu dan mengalun pelan. Saat irama mengisi ruangan, tubuh Jimin mulai bergerak. Ia tidak sekadar menari—ia bercerita. Gerakannya penuh perasaan, setiap putaran dan tarikan nafas terasa seperti luapan emosi yang tertahan lama. Tangannya menjangkau udara seperti mencari sesuatu yang hilang. Matanya terpejam, keningnya sedikit berkerut, dan bibirnya menahan sesuatu yang tak sempat diucapkan.
Aku menahan napas. Rasanya seperti melihat seseorang telanjang, bukan secara fisik, tapi secara jiwa. Begitu... terbuka.
Saat musik berhenti, Jimin berdiri diam beberapa detik. Dadanya naik-turun, napasnya masih berat. Lalu ia menoleh padaku dan tersenyum kecil. "Bagaimana?"
Aku membutuhkan waktu sebelum bisa bicara. "Itu... luar biasa," ucapku akhirnya. "Aku nggak tahu kau bisa menari seperti itu."
Ia terkekeh pelan, berjalan mendekat sambil mengusap tengkuknya. "Aku sudah mulai sejak kecil. Tapi… aku jarang menunjukkan ini pada orang lain."
Aku menatapnya heran. "Kenapa?"
Tatapannya melayang ke luar jendela. "Karena tarian ini... terlalu banyak menyimpan kenangan."
Ada jeda panjang yang tidak ingin kusela. Suaranya tadi seperti serpihan dari masa lalu yang belum pulih sepenuhnya.
Lalu, seperti ingin mengalihkan suasana, ia menoleh padaku dengan mata menyipit penuh ide. "Gimana kalau... kau coba juga?"
Aku langsung menatapnya kaget. "Aku? Nggak, aku... aku nggak bisa nari."
"Siapa bilang?" senyumnya kembali muncul, jahil tapi hangat. "Aku bisa ngajarin."
Aku mengembuskan napas, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi jangan kaget kalau aku nginjek kakimu nanti."
Ia terkekeh. "Tantangan diterima."
Jimin berjalan ke belakangku, membantuku menyesuaikan postur. Sentuhannya lembut saat ia membetulkan posisi bahuku. "Rileks. Rasakan alurnya. Jangan terlalu kaku."
Aku mencoba mengikuti gerakannya—awal yang canggung dan terasa konyol. Tapi dia sabar, menyemangati tiap langkah kecilku. Ia memegang tanganku sebentar, membimbing gerakanku seperti angin mendorong daun jatuh. Hangat, perlahan, mengalir.
"See? Nggak seburuk itu," katanya sambil tersenyum.
Aku mendengus pelan. "Itu karena kamu bantuin."
Senyumnya menipis, kali ini dengan tatapan yang dalam. "Kalau begitu, ayo kita tampil bareng."
Aku nyaris tersedak. "Apa?"
"Aku mau tampil. Tapi dengan satu syarat." Ia menatapku lekat. "Kau juga ikut."
Sebelum aku sempat menjawab, suara lain tiba-tiba terdengar dari pintu.
"Jimin?"
Aku menoleh cepat. Seorang pria berdiri di ambang pintu, menatap Jimin dengan campuran terkejut dan... rindu? Wajahnya tidak asing, tapi aku tidak yakin mengenalnya. Sepertinya dia dari Departemen Seni juga.
Ekspresi Jimin menegang sesaat, tapi segera kembali tenang. "Hei, Hyunwoo. Sudah lama."
Pria itu—Hyunwoo—melangkah masuk perlahan. Matanya menyapu ruangan, lalu kembali menatap Jimin. "Aku nggak nyangka bisa bertemu dengan mu lagi. Ruang latihan tari, dari semua tempat? Kukira... kau berhenti menari sejak kejadian itu."
“Kejadian?”
Aku mencuri pandang ke arah Jimin. Wajahnya tenang, tapi ada bayangan luka di balik matanya.
"Hanya nostalgia," jawabnya pelan.
Hyunwoo mengangguk. "Kalau begitu, semoga nostalgia itu membawamu ke panggung lagi. Festival kali ini… akan terasa berbeda."
Setelah itu, ia pergi begitu saja, meninggalkan ruangan dengan udara yang mendadak berat.
Aku menoleh ke Jimin. "Kau kenal dia?"
Jimin menghela napas panjang, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan ekspresi bingung. "Dia... teman lama. Kami dulu sering latihan bareng. Dan... dia juga ada saat semuanya berubah."
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi sesuatu di wajahnya membuatku mengurungkan niat.
"Kau serius mau tampil?" tanyaku pelan. "Kalau ini memberatkanmu, aku bisa—"
"Hei." Ia menatapku lembut. "Aku ikut karena aku mau. Aku senang bisa bantu. Dan jujur… aku rindu ini semua. Aku akan lebih menyesal kalau nggak tampil."
Lalu, dengan gerakan pelan, ia mengusap kepalaku—hangat, menenangkan.
"Jadi?" tatapnya padaku penuh harap. "Kau mau tampil bersamaku?"
Aku terdiam sejenak. Tapi saat menatap matanya, aku tahu jawabannya sudah ada.
Aku mengangguk. "Baiklah. Kita lakukan ini... bersama."
Dan saat itu, aku sadar—festival kali ini bukan lagi sekadar acara kampus. Ini adalah awal dari sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Filter • pjm
Fanfiction"Pick your filter, Which me do you want?" Han Yebin tak pernah suka jadi pusat perhatian-hingga hidupnya bersinggungan dengan Park Jimin. Populer, ceria, dan selalu penuh pesona, Jimin terlihat sempurna. Tapi di balik senyuman itu, ada banyak hal ya...
