Hari-hari menjelang festival semakin padat. Tugas-tugas menumpuk, dan aku semakin tenggelam dalam rutinitas yang tak pernah berhenti. Beberapa hari lagi, dan segala persiapan harus selesai. Sebagai bagian dari Departemen Seni dan Sastra, aku terjebak dalam memastikan setiap detail program kerja berjalan lancar. Rundown acara, teknis panggung, pengisi acara—semuanya harus beres, dan cepat. Waktu terasa seperti berlalu begitu cepat, tiap detik terasa berharga.
Jimin juga tak jauh berbeda. Latihan tari yang biasanya rutin kini jadi jarang terjadi. Kami hanya sempat bertemu sesekali di kampus atau sekadar mengirim pesan singkat. Walaupun tak sesering dulu, komunikasi kami tetap terjaga, entah lewat pesan singkat atau hanya sekadar bertanya kabar.
Setiap malam, selalu ada pesan darinya. "Jangan lupa makan," atau "Jangan kerja terus, istirahat sebentar ya." Aku pun melakukan hal yang sama, memastikan ia ingat untuk tidur lebih awal atau sekadar mengirimkan stiker lucu agar harinya terasa lebih ringan. Terkadang, rasanya seperti ada koneksi antara kami, meski jarang bertemu.
Perhatian Jimin selalu terasa hangat. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat hatiku merasa tidak tenang. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya dalam hidupku—bahkan ketika ia tak ada di sampingku. Saat ia lama tak mengabari, aku tak bisa menahan rasa khawatir. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia merasakan hal yang sama sepertiku?
Malam itu, setelah bertukar pesan cukup panjang dengannya, aku masih terjaga, menatap layar ponsel yang kini gelap. Pesan terakhir yang ia kirimkan terus terngiang di pikiranku:
"Kamu pasti lelah banget hari ini. Tapi aku senang bisa baca cerita tentang harimu. Jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya? Aku suka lihat kamu semangat, tapi aku lebih suka kalau kamu sehat."
Jantungku berdebar pelan. Ada sesuatu yang bergerak di dalam diriku—seperti kupu-kupu yang menari di perutku, atau sebuah gemuruh yang tak bisa kuhentikan di dadaku. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menenangkan diri. Rasanya... aku tak bisa diam.
Setelah berdiri dalam keheningan, aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Soyeon. Aku membutuhkan tempat untuk melepaskan penat.
Soyeon terkejut saat membuka pintu dan melihatku berdiri di sana, tapi ekspresi wajahnya segera berubah menjadi senang.
"Kamu lama banget nggak main ke sini," katanya, lalu menarikku masuk ke dalam.
Aku tersenyum kecil. "Tiba-tiba pengen ke sini. Boleh, kan?"
"Pastinya boleh! Kamu malah harus nginep. Mama pasti senang kalau kamu datang."
Benar saja. Ibunya menyambutku dengan hangat, langsung menyuruhku menginap malam itu juga. Aku pun mengangguk setuju. Malam ini, aku memang butuh udara segar dan suasana yang lebih ringan. Rumah Soyeon selalu memberi kenyamanan yang sulit kutemukan di tempat lain.
Kami menghabiskan malam di kamarnya, mengenakan masker wajah dan berbagi camilan seperti dulu. Suara tawa kami menggema, menembus dinginnya malam. Rasanya seperti kembali ke masa-masa SMA, saat segalanya terasa lebih sederhana dan tidak sekompleks ini. Walaupun kami ada di departemen yang sama, kami jarang menghabiskan waktu bersama.
"Eh, kamu masih suka wafer cokelat ini, ya?" Soyeon mengangkat bungkus camilan yang dulu sering kami makan bersama saat mengerjakan tugas.
Aku mengangguk. "Iya, rasanya kayak nostalgia."
"Udah lama banget kamu nggak nginep. Terakhir tuh... kapan ya? Pas ulang tahunku?"
"Seingatku sih, iya. Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk banget."
"Emang. Kamu kan lagi sibuk urusin festival. Aku lihat kamu di story-nya Jiwoo, lagi pegang rundown juga?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, dan itu lebih melelahkan dari yang kubayangkan."
Setelah suasana lebih tenang dan lampu kamar diredupkan, Soyeon mulai bercerita tentang pacarnya.
"Dia akhir-akhir ini cemburuan banget. Padahal aku cuma chat sama temen cowok buat tugas. Langsung ngambek," kata Soyeon dengan sedikit keluhan.
Aku tertawa kecil. "Klasik banget."
"Iya kan? Kadang ngeselin, tapi kadang juga bikin kangen."
Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Tapi kemudian, pertanyaan yang sejak tadi menggelayuti pikiranku keluar begitu saja.
"Menurut kamu... gimana rasanya jatuh cinta?"
Soyeon memandangku lama, lalu menyipitkan mata curiga. "Tumben banget kamu nanya gitu."
Aku menunduk, sedikit malu. "Nggak tahu... cuma kepikiran aja."
"Kamu lagi suka sama siapa, Yebin?"
Aku diam. Lama. Namun akhirnya, aku menceritakan semuanya. Tentang Jimin. Tentang bagaimana kami semakin dekat, dan bagaimana perasaanku perlahan berubah. Aku bercerita tentang isyarat-isyarat kecil yang ia beri, yang membuatku merasa bahwa ia mungkin merasakan hal yang sama.
Soyeon mendengarkan dengan seksama, tanpa memotong atau menertawakan.
"Tapi aku nggak yakin," kataku pelan. "Bagaimana kalau ini cuma... perasaan yang lewat saja? Bukan cinta sebenarnya?"
Soyeon tersenyum lembut. "Nggak apa-apa. Nggak perlu buru-buru membuka hatimu sepenuhnya. Perasaan suka itu... nggak selalu harus romantis. Kadang, itu hanya bentuk kehangatan yang kamu butuhkan."
Ia menepuk tanganku pelan. "Biarkan hatimu berjalan sesuai waktu. Nikmati saja. Kalau itu cinta, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya."
Aku menatap langit-langit kamar, napasku pelan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, pikiranku sedikit lebih tenang. Mungkin, memang tidak semua hal perlu dipahami sekarang. Beberapa hal cukup untuk dirasakan saja, perlahan, hingga akhirnya menemukan maknanya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Filter • pjm
Fanfiction"Pick your filter, Which me do you want?" Han Yebin tak pernah suka jadi pusat perhatian-hingga hidupnya bersinggungan dengan Park Jimin. Populer, ceria, dan selalu penuh pesona, Jimin terlihat sempurna. Tapi di balik senyuman itu, ada banyak hal ya...
