Aku dan Jimin berjalan berdampingan, langkah kaki kami semakin melambat seiring percakapan yang makin dalam. Udara malam ini terasa dingin, tapi nyaman, dengan hembusan angin yang membawa aroma tanah basah. Suara jangkrik yang bersahutan dari rerumputan menemani kami melintasi jalan setapak menuju asrama. Lampu-lampu taman menyinari wajahnya dari samping, membuat tatapan matanya yang sedikit sayu terlihat semakin jelas.
Setelah makan malam, suasana hati kami sempat hangat, tapi tiba-tiba saja dia menjadi lebih tenang, lebih diam.
Jimin berjalan setengah langkah di depanku. Bahunya sedikit membungkuk, dan kedua tangannya tersembunyi dalam saku jaketnya. Aku sempat berpikir kalau ia lelah, tapi kemudian suara pelan itu terdengar.
"Aku tahu... aku sering terlihat seperti orang yang hidup tanpa beban," ucapnya tanpa menoleh. Suaranya terdengar tenang, namun ada sesuatu di dalamnya-sesuatu yang samar, tapi cukup nyata untuk kutangkap. "Tapi sebenarnya, ada banyak hal yang jarang aku ceritakan kepada orang lain."
Langkahnya melambat dan akhirnya berhenti di bawah pohon trembesi tua yang daunnya perlahan jatuh ditiup angin malam. Aku ikut berhenti. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
"Aku bukan tipe orang yang mudah terbuka," lanjutnya, suara itu lebih rendah, seolah ia sedang mencari-cari kata-kata yang tepat. "Tadi, saat kita bicara tentang masa kecil... entah kenapa, aku merasa ini saatnya."
Ia mengangkat kepalanya, menatap langit yang gelap tanpa bintang, seolah mencoba mencari sesuatu di sana.
"Sejak kecil, aku tumbuh di rumah yang... tidak pernah terasa seperti rumah," katanya pelan. "Ayahku seorang pengusaha. Sibuk, nyaris tidak pernah ada. Kalau pun ada, dia selalu terlihat dingin, lelah, dan jauh. Ibuku juga bekerja, dan kalau ada waktu luang, ia justru memilih pergi dengan teman-temannya. Aku selalu tahu, aku bukan anak yang diinginkan."
Aku menggenggam jemariku sendiri, mencoba tetap tenang meski perasaan sesak mulai menggelayuti dadaku. Keheningan tercipta di antara kami, sebelum ia melanjutkan lagi.
"Mereka berdua sering bertengkar. Bahkan hal-hal kecil bisa jadi besar. Ada teriakan, suara barang pecah, pintu dibanting. Rasanya... aku tumbuh di tengah perang dingin yang nggak pernah usai."
Ia menunduk sejenak, menghela napas. Wajahnya tampak remang dalam cahaya lampu taman, dan aku bisa merasakan betapa besar beban yang ia bawa.
"Aku coba jadi anak yang sempurna. Belajar dengan giat, bersikap sopan, nggak bikin masalah. Tapi tetap saja... mereka nggak pernah benar-benar melihatku."
Aku melangkah sedikit lebih dekat, tapi ia tetap tidak menoleh. Tatapannya kosong, namun ada kehampaan yang mendalam di dalamnya.
"Sampai suatu hari, waktu aku sekitar 10 tahun, aku menemukan sebuah photobook milik ibuku. Di sana ada banyak foto dirinya saat muda... sedang menari. Dalam setiap foto itu, ia tersenyum. Senyum yang belum pernah aku lihat di rumah. Senyum yang... sungguh bahagia."
Wajahnya melembut, seolah sedang mengenang sesuatu yang sudah lama hilang.
"Aku pikir, kalau aku menari, mungkin aku juga akan bahagia. Dan mungkin, aku bisa membuat ibuku bangga. Mungkin itu bisa membuatnya melihatku. Jadi diam-diam aku ikut ekskul tari di sekolah. Dan aku benar-benar menyukainya, rasanya seperti... untuk pertama kalinya, aku hidup."
Aku mendengarkan, tak berani menyela, merasa perasaan sesak di dada semakin kuat, mencoba memahami betapa dalam perjuangan Jimin.
"Saat acara kelulusan, pertama kali dan terakhir kalinya aku tampil di atas panggung, bareng teman-teman yang lain, penampilan yang sudah kupersiapkan sepenuh hati. Tapi mereka nggak datang. Nggak sempat, katanya. Ayah sedang perjalanan bisnis, dan ibu... entah ke mana."
Dia menatapku sejenak, ada kesedihan yang begitu dalam di matanya, membuat hatiku semakin berat.
"Tapi hari itu adalah hari terindah dalam hidupku. Pertama kali aku merasa bebas. Walaupun aku tampil di depan banyak orang, aku merasa nyaman, seperti berada di rumah. Dari situlah aku pertama kali merasakan kebahagiaan."
Jimin tertawa kecil, tapi tawanya terasa kosong-seperti suara yang hilang begitu saja diterbangkan angin malam.
"Esok harinya, mereka dapat laporan dari staf rumah tangga yang datang mewakili mereka di acara itu. Bukan pujian yang kudapat, malah kemarahan. Ibu bilang... aku telah mengambil satu-satunya hal yang ia cintai dalam hidup, dan menjadikannya milikku. Ayah pun menganggapnya memalukan. Menyia-nyiakan waktu untuk hal yang nggak berguna. Mereka bahkan bikin keributan di sekolah. Kau ingat Hyunwoo? Teman menariku waktu itu? Semua orang di sekolah tahu orang tuaku ngamuk karena aku ikut ekskul yang nggak berguna. Aku... dihukum."
Suara Jimin semakin pelan, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk dikeluarkan. Aku merasa sesak, tak tahu apa yang harus kukatakan.
"Sejak saat itu, aku dilarang menari. Nggak boleh ikut ekskul apa pun yang ada hubungannya dengan seni, karena menurut ayah itu nggak penting. Aku hanya boleh belajar, dan jadi seperti yang mereka inginkan. Bahkan sampai sekarang. Beberapa hari yang lalu, kau bertanya kenapa aku ada di jurusan bisnis. Karena ayahku memaksaku melanjutkan perusahaannya nanti. Padahal... aku nggak suka dunia bisnis."
Aku menatapnya diam, hatiku terasa berat, dan air mataku mulai mengalir tanpa bisa kutahan. Ia tak pernah bercerita sebanyak ini sebelumnya.
"Tapi kali ini, aku ingin menari lagi. Lakukan hal yang membuatku bahagia. Aku ingin keluar dari ruang gelap itu, dan Yebin, kau adalah orang yang membukakan pintu itu. Kau yang memberi aku keberanian untuk berubah."
Aku terdiam, hati bergetar, mataku bertemu tatapannya yang dalam, kosong, tapi penuh harapan. Dalam diam, aku merasakan ketulusan dari setiap kata yang ia ucapkan.
"Maaf kau harus melewati semua itu sendirian," kataku pelan, suaraku hampir pecah. "Aku nggak tahu kalau masa kecilmu seperti itu..."
Tatapannya melembut, dan dengan hati-hati ia meraih tanganku, seolah meminta aku untuk tidak pergi.
"Kau nggak pernah memaksaku jadi siapa-siapa. Nggak pernah membuatku merasa harus berpura-pura. Bersamamu... aku bisa jadi diri sendiri. Dan itu-itu langka."
Aku hanya diam, mencoba memproses semua yang baru saja kudengar. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia mendekat dan merengkuhku dalam pelukan.
Tubuhnya terasa hangat. Pelukannya erat, namun lembut-seolah ia tak ingin melepaskanku, tapi juga tak ingin menakutiku. Aku terdiam, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan itu.
"Terima kasih," bisiknya pelan, hampir tak terdengar. "Karena sudah membuatku berani untuk mencoba lagi."
Aku membiarkan diri tenggelam dalam pelukan itu, merasa aman meski dunia di luar sana terasa kacau. Dan di saat itu, aku tahu... mungkin ini adalah awal dari perubahan yang bukan hanya dia butuhkan, tapi juga aku.
double update hehee
KAMU SEDANG MEMBACA
Filter • pjm
Fanfiction"Pick your filter, Which me do you want?" Han Yebin tak pernah suka jadi pusat perhatian-hingga hidupnya bersinggungan dengan Park Jimin. Populer, ceria, dan selalu penuh pesona, Jimin terlihat sempurna. Tapi di balik senyuman itu, ada banyak hal ya...
