Sejak malam itu di Hongdae, ada sesuatu yang terus mengusik pikiranku. Aku berusaha untuk mengabaikannya, tapi bayangan Jimin yang duduk di trotoar, gemetar dan ketakutan seperti anak kecil, terus berputar di kepalaku. Aku sudah pernah melihat orang yang panik, tapi kali ini terasa berbeda. Dia bukan hanya panik—seperti ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Aku belum bercerita tentang kejadian itu pada siapa pun, termasuk Soyeon. Rasanya, itu bukan urusanku untuk dibicarakan. Lagi pula, Taehyung sudah memintaku untuk merahasiakannya. Tetapi, meskipun begitu, pikiranku tak bisa berhenti menganalisis. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jimin?
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Dulu, setiap kali kami bertemu di kampus, dia selalu menyapaku lebih dulu, kadang bahkan sengaja menghampiriku hanya untuk ngobrol sejenak. Tapi sekarang, ada hari-hari di mana dia tampak seperti biasa—ceria dan playful, seolah-olah tidak ada yang berubah—dan di hari lainnya, dia menjadi lebih pendiam, bahkan seperti menghindariku. Pernah suatu kali aku mencoba menyapanya di kantin, dan dia hanya melirikku sekilas, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seperti ada jarak besar di antara kami.
Aku menghela napas panjang sambil menyeruput kopiku di sudut perpustakaan. Sore ini, aku mencoba menyibukkan diri dengan membaca beberapa jurnal untuk tugas esai, tapi konsentrasiku buyar sejak lima belas menit yang lalu. Otakku terus kembali ke satu pertanyaan yang sama: Jimin kenapa?
"Kau kenapa dari tadi diam saja?" Soyeon menatapku dari seberang meja. "Biasanya kau paling bawel kalau kita lagi di sini."
Aku mengangkat bahu. "Tidak apa-apa."
Soyeon mendengus, jelas tidak percaya. "Jangan bohong. Ada yang mengganggu pikiranmu, kan?"
Aku menggigit bibir, ragu apakah harus cerita atau tidak. "Soyeon, kau pernah tidak ketemu orang yang... kadang seperti berbeda, sangat berbeda dari biasanya? Misal, suatu hari dia ceria, besoknya dia seperti jadi orang lain?"
Soyeon mengernyit. "Maksudnya?"
"Ya... mood swing gitu, tapi ekstrem. Bukan cuma sekadar bad mood, tapi kayak... kepribadiannya berubah?"
Soyeon berpikir sejenak, lalu mengedikkan bahu. "Mungkin dia lagi banyak pikiran? Kadang orang bisa berubah-ubah kalau lagi stres. Kau tahu sendiri, kita juga suka kayak gitu kalau lagi banyak tugas, lebih sensitif."
Aku mengangguk pelan. Penjelasannya masuk akal, tapi perasaan dalam dadaku mengatakan bahwa ini lebih dari sekadar stres biasa.
Di saat yang sama, aku merasa seperti sedang diabaikan oleh Jimin, meskipun dia yang selama ini selalu mendekatiku lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang berubah, atau apakah aku melakukan sesuatu yang salah. Yang jelas, ada jarak di antara kami yang tak pernah ada sebelumnya.
Hingga suatu malam, aku sedang berjalan sendirian menuju asrama setelah urusan panitia festival selesai. Malam itu terasa dingin, dan aku memasukkan tanganku ke dalam saku hoodie untuk menghangatkan diri. Aku melirik jam di ponsel—hampir pukul sebelas malam. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang, dan kampus terasa lebih sepi dari biasanya.
Saat itulah aku melihat Jimin.
Dia berdiri dekat mesin minuman otomatis, menunduk, memainkan koin di tangannya. Aku hampir saja memanggil namanya, tapi sesuatu dalam diriku membuatku ragu. Cara dia berdiri, ekspresinya... terasa jauh lebih dingin dan tajam dibanding biasanya.
Aku mendekatinya perlahan. "Jimin?"
Dia mendongak, dan aku langsung tahu ada yang tidak beres. Mata itu, yang biasanya hangat dan penuh ekspresi, kini terasa kosong. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, tapi bukan senyum yang biasa dia tunjukkan padaku.
"Oh. Kau." Suaranya lebih rendah dari biasanya, hampir terdengar malas. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku mengernyit. "Harusnya aku yang tanya begitu. Kau tidak pulang?"
Dia tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar jauh dari ceria. "Kenapa? Kau khawatir?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku memang khawatir, tapi aku juga bingung. Ini bukan Jimin yang kukenal. Rasanya seperti sedang berbicara dengan orang lain.
"Jimin, kau kenapa lagi sih?"
"Aku tidak menyangka kau tipe yang suka mencampuri urusan orang lain, Han Yebin." Nada suaranya tajam, penuh sindiran.
Aku menatapnya, mencoba mencari petunjuk di wajahnya. "Aku cuma tanya. Kau tidak biasanya begini."
Dia tertawa lagi, lalu memasukkan koin ke dalam mesin dan memilih minuman secara acak. "Lucu. Kau terdengar seperti seseorang yang menganggap dirinya mengenalku dengan baik."
Aku membuka mulut untuk membalas, tapi tak ada kata yang keluar. Karena aku sadar—dia benar. Aku memang belum mengenalnya dengan baik. Aku hanya tahu Jimin yang selalu mendekatiku, yang suka bercanda dan tersenyum hangat. Tapi sekarang? Ini adalah sisi yang sama sekali berbeda.
Dia mengambil kaleng minuman yang keluar dari mesin, lalu menatapku sekilas. "Kalau kau tidak ada urusan lain, sebaiknya kau pergi."
Aku tertegun, terkejut dengan dinginnya kata-kata itu.
"Jimin, ada apa lagi sih? Kalau ada masalah, kau bisa cerita denganku. Tidak usah bersikap seperti ini."
Dia menatapku lama, lalu akhirnya tersenyum kecil. "Kau masih belum mengerti, ya?"
Aku hanya bisa diam, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Dia menghela napas, lalu melangkah pergi, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang temaram. Aku berdiri terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Semakin lama, aku semakin yakin. Ada sesuatu yang dia sembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Filter • pjm
Fanfiction"Pick your filter, Which me do you want?" Han Yebin tak pernah suka jadi pusat perhatian-hingga hidupnya bersinggungan dengan Park Jimin. Populer, ceria, dan selalu penuh pesona, Jimin terlihat sempurna. Tapi di balik senyuman itu, ada banyak hal ya...
