Matahari bersinar terang pagi ini, menghangatkan jiwa-jiwa di bawah sinarnya, membangkitkan insan-insan yang terlelap dengan cahayanya. Begitu pula dengan tokoh utama kita, ia terbangun karena sinar matahari yang terpapar di wajahnya melalui jendela.
Isagi bangun dari posisinya dan menempatkan dirinya untuk duduk di pinggir ranjang. Belum sempat ia mengumpulkan nyawanya hingga penuh, matanya sudah melihat seorang lelaki bertelanjang dada dengan handuk di pinggangnya.
"Pagi sa, gimana tidurnya? "
Sapa Chigiri pada Isagi dan diakhiri dengan pertanyaan sederhana. Isagi mengusap matanya dan berkedip beberapa kali menatap tubuh Chigiri yang bisa dibilang cukup terbentuk dengan otot meski terlihat kontras dengan wajah cantiknya. Setelah puas menatap tubuh Chigiri, pandangan Isagi beralih dan menatap wajahnya.
"Ya tidur biasa, mau gimana lagi? "
Jawab Isagi dengan seadanya, memang Isagi ini selalu berbicara sesuai dengan isi pikirannya. Chigiri tertawa kecil mendengar jawaban blak-blakan dari Isagi.
"Kamar mandi ada yang pake ga?
Isagi turun dari tempat tidurnya sembari bertanya kepada lelaki yang berbicara padanya. Chigiri kini sedang membuka lemari pakaian untuk mengambil seragamnya.
"Ga ada, pake aja sa, atau mau gua temenin? "
Jawab Chigiri diakhiri dengan pertanyaan yang tidak beradab—atau mungkin murni ingin menemani.
"Ga perlu, lu kira gua bocah? "
Ucap Isagi sembari berjalan ke arah Chigiri—lemari lebih tepatnya. Chigiri hanya terkekeh mendengar jawaban dari Isagi. Isagi mengambil handuknya dan langsung bergegas ke kamar mandi.
"Gua duluan Sa"
Teriak Chigiri agar Isagi yang berada di kamar mandi dapat mendengarnya. Karena tidak mendapat jawaban apapun, Chigiri berjalan keluar dari asrama mereka.
Di sisi lain, Isagi yang berada di dalam kamar mandi, kini sedang berendam. Isagi tidak berendam di dalam air, namun dalam pikirannya. Ia masih tidak mengerti, mengapa ia berada di sini? Mengapa alurnya berbeda dari apa yang ia ketahui?
Setelah beberapa saat Isagi berada di kamar mandi, ia keluar dan memakai seragamnya. Persetan jika ia terhambat, toh hari ini guru-guru sedang mengurus pertandingan persahabatan dengan sekolah-sekolah lain yang akan diadakan beberapa hari lagi.
Isagi hendak keluar dari kamarnya, namun matanya tertuju pada salah satu ranjang, ranjang sahabatnya—Nagi masih tertidur dengan lelap di atas ranjang, sepertinya dia merupakan wujud asli dari putri tidur.
Isagi berjalan mendekat ke arah Nagi yang masih tertidur, berniat membangunkan Nagi yang masih terlelap di dalam mimpinya. Isagi menggoyangkan tubuh Nagi dengan perlahan.
"Sei, lo mau bolos? "
Ucap Isagi namun hanya dibalas deheman tidak jelas dari Nagi. Isagi memukul kepala Nagi dengan pelan, cukup kuat untuk membangunkannya dari alam bawah sadarnya.
"Bangun kalau ga mau dicatat alpha"
Lanjut Isagi. Nagi menguap dan dengan enggan berjalan ke arah lemari untuk mengambil seragamnya. Nagi berjalan ke arah kamar mandi dengan lunglai, dia mencuci wajahnya di kamar mandi. Setelah Nagi mulai sadar dengan dunianya, Nagi langsung mengganti bajunya dengan seragam sekolah—tidak repot-repot untuk mandi.
Usai Nagi mengganti bajunya dengan seragam sekolah, Nagi keluar dari kamar mandi dan menghampiri Isagi yang masih menunggunya—tidak lupa untuk mengambil tasnya. Mereka berjalan beriringan keluar dari asrama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dimensi Lain?! - Allsagi (Slow Update)
FanfictionHanya sebuah kisah di mana Isagi bertransmigrasi ke dalam au yang ditulis oleh sahabatnya sendiri, dan menjadi karakter sampingan. Namun, akankah Isagi menjalani cerita sesuai dengan alurnya? Atau, akankah Isagi merubah keseluruhan cerita tersebut...
